SEDEKAH tidak membuat orang jatuh miskin, bahkan sedekah bisa membawa berkah yang lebih dari Allah. Hal itu benar adanya. Titin merasakan manfaat dari sedekah. Di samping sebagai amal di akhirat kelak, juga membawa pintu berkah. Bahkan rencananya Juli tahun ini ia pergi Umrah.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Di depan penulis usai isterahat sejenak, Titin mengaku, sekecil apapun rezeki yang kita peroleh harus dikeluarkan sedekahnya. Sebab rezeki yang didapatkan ternyata tanpa disadari adalah bagian dari orang lain. Bahkan orang yang diberi sedekah merupakan satu penentu kesuksesan dirinya.
“Jadi biar sedikit kita dapat harus kita sedekahkan ke yang lain, supaya berkah juga itu rezeki ta, karena tidak ditahu kedepan bagaimana nasib ta,” bebernya.
Ditanya apa soal apa yang memotivasi dirinya bekerja giat setiap harinya sebagai pembersih di ruangan kantor Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Titin hanya menjawab ‘Demi Anakku’. Tidak ada lagi yang terlintas dalam benaknya untuk memikirkan hal lainnya, sebab pangkuan dan harapannya dimasa yang akan datang terletak pada kedua anaknya kini.
“Saya ini sudah jauh dari keluarga di kampung, kalau bukan andalkan diri sendiri, mau sama siapa lagi. Biar saya begini dulu, semoga anak-anakku nanti ini liat perjuangan ibunya seperti apa, biasa belajar baik-baik supaya nanti hidupnya tidak begini terus,” ungkapnya beberapa hari yang lalu.
Semenjak bekerja sebagai pembersih rumah sakit, selama delapan tahun Titin sudah cukup banyak dikenal oleh para dokter dan pegawai di Rumah Sakit. Tidak sedikit dari mereka yang kerab membantunya Titin jika dalam kesusahan. Bahkan terkadang dirinya tidak menyangka jika, dari beberapa pegawai dan dokter ditempatnya bekerja sering memberikan bantuan berupa makanan dan uang.
“Biasa sering kasih-kasih juga dari dokter disini Rp50-Rp100 ribu. Kalau diminta bantu angkat barangnya juga biasa dikasih berapa-berapa, kalau tidak biasa makanan juga sering. Saya dikasih apa saja terima, sudah alhamdulillah banyak yang peduli sama saya, tidak ada yang aneh-aneh juga, tidak ada sama sekali, biasanya juga penjaga pasien yang kamar saya bersihkan kasih saya,” bebernya.
Dalam bekerja Titin dikenal sebagai petugas yang amanah dan fokus jika bekerja,datang dini hari. Titin sudah melengkapin seluruh alat bersihnya untuk dibawah kebeberapa ruangan dan lantai yang akan dibersihkannya. Dalam bekerjapun dirinya tidak pernah lalai dan bersantai-santai jika pekerjaanya telah selesai dikerjakannya.
Hanya satu keinginan terbesarnya selain anaknya bisa sukses. Titin kerap menyisihkan beberapa dari gajinya untuk ditabung untuk naik umroh, untuk memanjatkan doa dan harapannya yang selama ini. Tidak mudah baginya diusia yang terus bertambah, kebutuhan terus meningkat dan menghidupi kedua anaknya untuk mewujudkan semua itu.
Namun berkat kegigihan dan niatnya yang besar, akhirnya Titin bisa menwujudkan keinginanya tersebut tahun ini. apalagi selama ini Titin percaya rezeki yang didapatkannya bisa kapan saja datang dan bisa melalui siapa saja, selama dirinya berpasrah kepada Tuhan.
“Saya itu mau sekali naik umroh, karena ada beberapa teman juga bilang ke saya untuk tabung berapa-berapa untuk bisa naik umroh juga. Saya itu sudah menabung selama enam tahun, untuk bisa pergi. Alhamdulillah juga di bantu sama dokter Bahar untuk biaya saya kesana. Insyaallah tahun ini, bulan juli saya berangkat,” ceritanya.
Lanjutnya, sebagai tukang bersih rumah sakit yang cukup besar di Makassar, kehidupan Titin belum juga mencukupi. Ia harus menghidupi dua orang anaknya, pasca ditinggalkan suaminya lima tahun silam untuk merantau dan tak kunjung kembali. Olehnya itu, Titin harus bertahan hidup dan banting tulang demi meraih sesuap nasi dan pendidikan anaknya.
“Saya cuman sendiri, suamiku lama mi pergi tidak pernah kembali. Gaji di rumah sakit tidak seberapa cuman Rp1,8 juta, makanya selesai sore di rumah sakit, pulang harus kerja menyetrika di rumah tetangga. Biar dapat tambah-tambah karena kalau cuman gaji disini tidak cukupki untuk makan sama biaya sekolah anakku,” katanya.
Selain itu, Titin harus keluar rumah pada pukul 05.30 Wita karena pekerjaannya menuntut harus sudah mengepel pada pukul tersebut. Meskipun jarak tempuh dari rumahnya ke rumah sakit membutuhkan jarak enam kilo. Bahkan terkadang tidak hanya ruangan pegawai juga dikerjakan, terkadang untuk mengganti pekerjaan temannya yang tidak hadir. Belum lagi area luar yang harus ia sapu dan mengepel setiap tiga kali dalam satu hari.
Walaupun dalam menjalankan pekerjaanya harus menguras kesabarannya, sebab ada saja tamu pasien yang lalu lalang dan membuang sampah bukan pada tempatnya.
“Biasa mi itu, yang capek itu karena harus sabar betul ki. Sedikit-sedikit buang sampah ini pengunjung, padahal sudah ada tulisan dan dikasih tahu kalau dirumah sakit harus di jaga kebersihan. itu lagi kalau sudah di pel dan masih basah di situ juga lewat,” ucapnya.
Terlebih lagi ia juga tidak jarang membawah anaknya di rumah sakit lantaran mengetahui jika tidak ada makanan yang disiapkan anaknya di rumah. “Kita disini juga kadang tidak jelas kapan pulang, jadi biasanya makan disini. Kalau tidak sempatka masak anak-anakku yang ke rumah sakit, saya pulang biasanya jam 10 ke atas, kalau rumah sakit punya acara,” ujarnya.(*)

