TIDAK bisa dipungkiri bahwa saat ini pasar tradisional merupakan salah satu penggerak perekonomian Indonesia. Dimana di dalamnya ada transaksi ayam potong yang merupakan salah satu komoditi andalan. Agus Sutendo salah satu pedagang ayam potong di Pasar Tradisional Daya Makassar.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Pria berkumis ini sehari-hari menjual ayam potong di Pasar Tradisional Daya mulai pukul 6 pagi hingga pukul 3 sore. Kehidupan sehari-hari bisa tercukupi dari penjualan ayam potong setiap harinya, dibantu dua rekannya.
Agus yang lahir 16 Mei 1986 ini mengaku pendapatan yang didapatkannya cukup setiap harinya, menginggat kebutuhan dan konsumsi masyarakat paling dominan adalah ayam di samping ikan. Dalam sehari Agus biasa menjual 100 ekor dengan omset rata-rata mencapai Rp8 juta ke atas, dengan harga jual Rp55 ribu per ekor.
“Saya menjual di Pasar Daya sudah turun temurun, sejak bapakku dulu menjual disini. Tahun 2009 saya pertama kali menjual ayam sampai sekarang. Awalnya saya menjual hanya 20 ekor saja, sedikit demi sedikit mulai bertambah sampai sekarang 100 an lebih,” ungkapnya saat ditemui penulis, kemarin.
Namun siapa sangka di balik itu semua, Agus tidak mau dikatakan sebagai penjual ayam yang sukses, dimana menurutnya julukan itu belum pantas diberikannya. Agus menceritakan jika apa yang diperolehnya sekarang bukan hal mudah didapatkannya, sebab usaha ptong ayam tidak semudah kelihatannya.
Mulai dari pekerjaan mencari ayam dari peternak yang mau menjual dengan harga yang sesuai. Apalagi ketika harga ayam peternak mengalami penurunan, dirinyapun membeli dengan harga lebih. “Di awal menjalani usaha ini, jangan mi bilang de’ banyak cobaan tidak laku, kita juga kadang-kadang harus jual harga modal karena harga ayam di ambil dipeternak sudah terlalu tinggi, belum juga da sudah pesan banyak ternyata tertipu,” bebernya.
Namun dibalik itu semua banyak pelajaran dan hikmah yang dipetik dari Agus. Dari banyaknya cobaan itu, Agus mulai bangkit dan berusaha kembali. Saat ditanya bagaimana omsetnya di bulan ramadan, dirinya menuturkan, jika omsetnya naik 100 persen. Bahkan perubahan itu sangat terasa sebelum dan setelah ramadan.
“Tapi saya coba terus berikhtiar tanpa putus asa, alhamdulliah bisa mi kita kasih makan anak istri keluarga dirumah juga. Kalau ramadan, naik pasti harganya juga, naik juga kita dapat biasanya kita setiap hari habis 100 ekor, ini kalau ramadhan bisa sampai 200-300 ekor karena sudah banyak yang pesan diawal-awal,” katanya.
Dari bisnisnya ini,Agus telah berhasil meningkatkan pendapatan serta kualitas hidup dan keluarganya. Motivasi hidup dan ketekunan kedua orang tuanya lah yang menjadi inspirasi keberhasilan Agus saat ini. “Keluarga pastiyang selalu mendukung. Mereka juga yang selalu mendoakan saya juga,” ucapnya. (ita)

