MAKASSAR, BKM–Pembangunan tol layang Petta Rani terus dikebut. Sejumlah konstruksi tiang penyangga sudah mulai dicor. Ada yang sudah mencapai ketinggian dua meter.
Selain itu, juga dilakukan rekayasa lalu lintas di beberapa titik yang menjadi lokasi pengerjaan konstruksi.
Pengerjaan mega proyek jalan layang milik PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) ini dikerjakan oleh pihak ketiga, yakni PT Wijaya Karya (Wika).
Direktur Utama PT BMN, Anwar Toha, mengatakan bahwa pengerjaan konstruksi sudah masuk 13 persen pengerjaan.
“Semua pengerjaan masih fokus dibawah, seperti bor pile, kolom, dan pengaturan utilitas. Tapi tidak ada kendala kok. Insya Allah optimis selesai di tahun 2020,” katanya.
Lanjut Anwar, dari total 925 bor pile yang rencananya diadakan, saat ini sudah ada 766 yang telah tertanam.
Sedangkan tiang sudah ada 30 yang sudah rampung, dari 74 tiang yang rencananya dibangun dari Tol Reformasi hingga Jl Sultan Alauddin.
Dalam rancangan anggaran, proyek ini memiliki total anggaran sebesar Rp 2,2 triliun.
Untuk melancarkan pekerjaan, juga dilakukan rekayasa lalu lintas.
Seperti U-Turn atau titik belok di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Makassar sudah berpindah di depan Universitas Negeri Makassar. Konstruksi tol layang di area tersebut sudah berjalan.
Manager Proyek Tol Layang, Didi Rustadi mengatakan, pemindahan tersebut menyusul rencana konstruksi di depan kantor BPN. Lokasi putaranya bergeser sekitar 100 meter dari area U-Turn awal.
Pihaknya pun sudah memasang rambu lalu lintas di area tersebut. Seperti larangan manuver putaran dari arah tertentu, untuk antisipasi dampak kemacetan di Jalan AP Pettarani saat ini.
“Kita libatkan semua, termasuk lalu lintas dan pihak lain untuk menentukan rekayasanya. Apalagi tahap pembangunan sudah mendekati Jalan Sultan Alauddin,” ungkapnya.
Perubahan posisi U-Turn selalu dikoordinasikan dengan kepolisian. Mereka yang menentukan proses rekayasa yang dianggap sesuai dengan akses jalan tersebut. (rhm)

