pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Duka Puluhan Tim Sukses Tumbang di Pileg

MAKASSAR, BKM — Kontestasi pemilu legislatif (pileg) 17 April 2019 menyisakan duka. Khususnya bagi tim pemenangan pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung pada pilgub 2018 lalu.
Mereka harus menerima kenyataan tidak terpilih alias tumbang. Terutama yang bertarung menuju gedung DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Lebih banyak politisi yang tidak lolos daripada yang berhasil meraih suara dan dukungan besar.
Mereka yang tergabung dalam tim pemenangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (Prof Andalan) yang lolos, di antaranya dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Rudi Pieter Goni, Andi Ansari Mangkona, serta Dan Pongtasik.
Selain itu ada nama Andi Irwandi Natsir dan H Edi Manaf dari Partai Amanat Nasional (PAN). Adapun dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), masing-masing Sri Rahmi dan Muzayyin Arif.
Untuk tim sukses pasangan Nurdin Halid dan Abdul Aziz Qahhar Muzakkar (NH-Aziz) yang lolos dari Partai Golkar, yakni Andi Debbie Purnama, Fachruddin Rangga, Andi Ina Kartika, Andi Isman Maulana, Andi Zulkifli H, M Taqwa Muller, dan Andi Hatta Marakarma.
Dari Partai Nasdem yakni Andi Rachmatika Dewi, Arum Spink, Desy Susanty Sutomo, dan Syaharuddin Alrif. Adapun dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terdapat nama Hengky Yasin, Azhar Arsyad, dan Irwan Hamid.
Tim dan politisi yang bekerja untuk pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (Punggawa Macakka), masing-masing Usman Lonta dan Syamsuddin Karlos dari PAN. Sementara dari Partai Demokrat, yakni Andi Januar Jaury Darwis, Haidar Majid, Risma Kadir Nyampa, Ni’matullah RB, Selle KS Dalle, Andi Azizah Irma, dan Fadriati.
Adapun tim pasangan Agus Arifin Nu’mang bersama Ahmad Tanribalilamo (Agus-TBL), dari Partai Gerindra yang lolos adalah Edwar Wijaya Horas, Dharmawangsa Muin, Rusdin Tabi, dan Marjono. Sementara dari PPP yang lolos, yakni Andi Nurhidayati dan Syahril Langko.
Adapun para politisi yang dekat dengan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Prof Andalan yang tumbang, di antaranya dari PDIP yakni Haeruddin Elu, Alimuddin, dan Iqbal Arifin. Dari PAN ada Andi Darwis Duddu dan Andi Yusran Paris. Dari PKS yakni Mallarangan Tutu, Andi Thahal Fasni, Baso Syamsu Rizal, dan Andi Jahida Ilyas.
Dari pendukung NH-Aziz yang berlatar belakang kader Golkar yang tak lolos, yakni HA Kadir Halid, Imran Tenri Tata, H Asrullah, Arfandi Idris, Andi Zulkarnain Latief, Andi Zunnun Halid, dan Rusni Kasman. Juga Andi Marzuki Wadeng, Andi Tenri Sose, serta Armin Mustamin Toputiri.
Dari Nasdem yakni Muslim Salam, Pendi Bangadatu, dan M Rajab. Sementara dari PKB yakni Wahyuddin. Dari Hanura yakni Imbar Ismail, Alexander Palinggi, serta Mahyuddin. Selain itu, juga dari PKPI Suzanna Kaharuddin.
Dari pendukung Punggawa-Macakka yakni Dr Ramli Haba, Andi Zulkarnain Paturuni, Andi Ian Latanro, dan Surya Boby. Selain itu ada nama Asrul Makkaraus dari PPP, dan Suwandi Mahendra dari Partai Perindo.
Sementara dari pendukung pasangan Agus-TBL, politisi yang tumbang yakni Andry S Arief Bulu, Andi Hery S Attas, dan Hj Andi Nurul Safitri. Sementara dari PPP yakni Rizal Syarifuddin, Abd Wahid Ismail, H Mansur Masang, dan Abd Hafid Pasiangan.
Pengamat politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad menilai, pergerakan politik tim pemenangan cagub-cawagub lemah dibanding caleg lain. Mesin partai juga tidak optimal.
“Efek pilgub tidak pengaruh. Efek pilpres tidak dirasakan oleh caleg,” ujar Firdaus, Selasa (21/5)
Pengamat politik Dr Azwar Hasan juga mengakui rendahnya tim pilgub yang lolos ke parlemen. “Itu artinya menjadi tim pemenangan bukan jaminan untuk terpilih di legislatif. Karena ada banyak faktor penentunya. Di antaranya dana politik, dandanan politik, daya politik, dan desas desus politik,” jelas Azwar Hasan.
Sementara dosen politik Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto menilai, jika fenomena ini menggambarkan posisi tim sukses tidak langsung bersentuhan dengan basis-basis suara pemilih. Memang selama ini, rekruitmen tim sukses lebih banyak berbasis kedekatan personal calon daripada kedekatan elektoral dengan pemilih. Umumnya juga timses dan calonnya bersifat pragmatis.
“Posisi tim sukses seperti mengambang di kandidasi. Jaraknya tidak dekat dengan elit partai strategis dan juga jauh dengan pemilihnya. Umumnya mereka berada di lingkaran sang calon saja,” ucap Luhur.
Ditambahkannya, tidak banyak tim sukses yang mampu mengoptimalkan posisi untuk membangun infrastruktur politik yang bisa mereka manfaatkan untuk kepentingan elektoralnya. “Tim sukses lebih banyak bermain kepentingan jangka pendek (vested-interest) ketika berurusan dengan pemilih,” pungkas Luhur. (rif)



×


Duka Puluhan Tim Sukses Tumbang di Pileg

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar