MAKASSAR, BKM — Tiga mahasiswa Unhas yang mengikuti seleksi PIMNAS tahun 2019 berhasil membuat prototipe alat Sinoabser yaitu biosensor kadar IgA dalam saliva untuk mendeteksi dini Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC) atau kanker rongga mulut secara non-invasif.
Tiga mahasiawa itu adalah Yuri dari Fakultas Kedokteran Gigi sebagai ketua tim, Megatriani Matandung Fakultas Kedokteran Gigi sebagai anggota, dan Gabriel Samuel A. Matongan Fakultas Teknik Elektro sebagai anggota. Mereka dibimbing Dr. drg. Irene E. Riewpassa, M.Si.
“Tahun ini kami diberikan kesempatan mendapatkan dana hibah dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh KEMENRISTEKDIKTI, ini merupakan tahun kedua saya mendapatkan dana hibah untuk PKM tahun lalu saya mendapatkan dana hibah untuk PKM Penelitian dengan tim yang lainnya dan tahun ini untuk Karsa Cipta. Melalui dana hibah ini kami menciptakan alat sensor yang mempu memudahkan dokter gigi untuk mendeteksi kanker rongga mulut,” ungkap ketua Tim Yuri, kemarin.
Yuri sebagai ketua tim, menjelaskan bahwa ide awal mereka membuat alat biosensor ini berawal dari banyak penelitian yang menjelaskan bahwa OSCC adalah kanker yang memiliki rasio kematian tertinggi dibandingkan dengan kanker lainnya karena sulit dideteksi.
Terkadang, kata dia, dokter gigi sulit membedakan OSCC dengan kelainan pra-ganas lainnya dan membutuhkan pemeriksaan lab untuk mendeteksi OSCC.
Pemeriksaan ini, lanjtnya, membutuhkan pengambilan jaringan menggunakan peralatan bedah (biopsi) sehingga cukup invasif, menakutkan untuk beberapa pasien juga membutuhkan keahlian khusus, dan juga harus melalui serangkaian proses yang rumit dan panjang.
“Maka dari itu biopsi tidak dapat dilakukan sembarangan, padahal deteksi dini suatu penyakit memegang peran yang vital dalam meningkatkan harapan hidup pasien,” katanya.
“Alat biosensor yang kami kembangkan ini dapat mengukur kadar Immuoglobulin A (IgA) dan keberadaan virus Epstein-Barr (EBV) dalam saliva (air liur) agar dapat mendeteksi secara dini kondisi OSCC secara non-invasif dengan mudah dan biaya murah sehingga dapat berperan dalam pengembangan IPTEKS dan mengurangi tingkat kematian dari penyakit OSCC karena perawatan yang dimulai lebih dini,” jelas Megatriani Matandung.
“Kanker seperti OSCC sangat sulit dibedakan dengan kelainan-kelainan pra-ganas seperti leukoplakia atau eritroplakia sehingga terkadang perawatan yang diberikan tidak tepat dan baru diketahui ketika sudah mencapai tahap lanjut. Biopsi merupkan opsi utama untuk mendeteksi kanker rongga mulut namun hal ini tidak mudah untuk dilakukan dan cenderung membuat pasien merasa takut sehingga inovasi pemanfaatan saliva akan sangat memudahkan. Kami berharap alat ini dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan sulitnya mendeteksi kanker rongga mulut,” ungkap Dr. drg. Irene E. Riuwpassa selaku dosen pendamping
“Melalui kompetisi ini kami berharap alat SINOABSER ini dapat menjadi solusi bagi dokter gigi dalam mendeteksi dini OSCC sehingga membantu menurunkan tingkat kematian akibat susahnya mendeteksi kanker rongga mulut di masyarakat,” ujar anggota tim, Megatriani Matandung. (rls)

