JENEPONTO, BKM — Rabu (24/7) pukul 04.00 Wita. Sebagian warga di Kampung Batule’leng Barat, Desa Mallasaro, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto masih lelap dalam tidur.
Di bagian lain, satu persatu dari mereka sudah ada yang memulai aktivitasnya. Penduduk di daerah yang berada di pesisir pantai ini rerata berprofesi sebagai petani dan nelayan.
Mappa Dg Ngence mengawali rutinitas kesehariannya. Pria berusia 74 tahun ini tengah memperbaiki jaring rumput laut miliknya di depan rumah.
Tiba-tiba saja sang kakek dihampiri seorang lelaki yang hampir sebaya dengannya. Mappa cukup mengenal pria tersebut. Namanya Bisa Dg Kulle. Berumur 74 tahun. Rumah keduanya saling bertetangga.
Mereka sempat terlibat pembicaraan sengit, yang berujung pada cekcok mulut. Tanpa disangka oleh Mappa, Dg Kulle langsung menyerangnya menggunakan parang yang dibawanya.
Seketika itu juga korban rubuh bersimbah darah. Di atas hamparan rumput laut yang sementara dijemur beralaskan tanah. Saat itu jarum jam menunjuk kira-kira pukul 04.25 Wita.
Mappa mengalami luka tebasan parang di beberapa bagian tubuhnya. Seperti pada leher, lengan kanan dan kiri, luka menganga di bagian dada serta muka. Serta jari tangan kiri terputus. Dia pun meregang nyawa di lokasi kejadian.
Usai melakukan aksinya, Bisa Dg Kulle kemudian kembali ke rumahnya yang berjarak kira-kira 20 meter dari lokasi kejadian. Ia berupaya untuk sembunyi.
Tak lama berselang, kematian korban Mappa sampai ke telinga kerabatnya. Mereka langsung berkumpul. Selanjutnya mendatangi rumah pelaku.
Di depan rumah Dg Kulle, massa yang tersulut emosi langsung berteriak memanggil namanya. Mereka menyuruh pelaku untuk turun dari rumah panggung yang ditinggalinya.
Namun, Dg Kulle tak juga menuruti permintaan tersebut. Akhirnya massa bertindak anarkis. Mereka melempari rumah dan membongkar dindingnya.
Akhirnya, karena terdesak Dg Kulle turun dari rumahnya. Tapi ia tak ingin menyerah begitu saja. Dengan parang yang dipegangnya, ia menyerang massa yang mendatanginya.
Teriakan nyawa dibayar nyawa pun disuarakan oleh massa. Mereka yang juga menenteng parang langsung menyerang balik. Dg Kulle juga ditebas, disertai pelemparan batu dan potongan kayu.
Akibat amukan warga dan keluarga korban yang dibunuhnya, sekujur tubuh Dg Kulle mengalami luka. Seperti kepala bagian kanan, pergelangan tangan kiri, serta luka terbuka pada punggung.
Nyawanya pun tak tertolong. Ia menemui ajal akibat pendarahan hebat.
Kepala Desa Mallasaro Irbar Gs Karaeng Bulu, membenarkan peristiwa berdarah yang terjadi di wilayahnya. ”Ada dua korban yang meninggal dunia,” ujarnya yang ditemui di lokasi kejadian, kemarin pagi.
Dihubungi terpisah, Kasubag Humas Polres Jeneponto AKP Syahrul menjelaskan motif yang diduga menjadi pemicu penganiayaan tersebut. ”Pelaku cemburu dan mencurigai korban menjalin hubungan asmara dengan istrinya. Dia kemudian mendatangi korban dan menanyakan tentang kecurigaannya itu, sehingga terjadi pertengkaran mulut. Pelaku pun langsung menyerang korban menggunakan parang hingga meninggal di TKP,” terang AKP Syahrul, kemarin.
Meski korban dan pelaku menemui ajal dalam peristiwa ini, dikhawatirkan akan muncul aksi balas dendam. Sebab rumah keduanya saling berhadapan, yang sewaktu-waktu bisa memicu keluarga masing-masing.
Guna mengantisipasi hal tersebut, menurut Syahrul, aparat Polres Jeneponto bersama Polsek Bangkala turun mengamankan TKP. Termasuk mengupayakan perdamaian kedua belah pihak, agar permasalahan tersebut tidak berkembang lebih jauh.
”Personel kepolisian ditempatkan di lokasi kejadian guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Baru akan ditarik setelah situasi kondusif,” terang AKP Syahrul. (krk/rus/b)
Cemburu Kakek Berujung Nyawa Dibalas Nyawa
×

