MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar di era kepemimpinan Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto telah menghadirkan 10 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN). Tanpa anggaran untuk pengadaan gedung serta lahan, sekolah tersebut mampu direalisasikan.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Makassar yang kala itu dijabat Abd Rahman Bando, menempuh kebijakan tak biasa. Menggabungkan beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang jumlah muridnya tergolong kurang.
Lalu, bagaimana kabar SMPN baru tersebut? Ternyata, kondisinya begitu memprihatinkan.
BKM mencoba mengunjungi salah satunya, yakni SMPN 51. Berlokasi di Jalan Tamangapa Raya V, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala. Sekolah ini meminjam dan memanfaatkan gedung SDN Parinring, Manggala. Berada di dalam kompleks TK Adinda.
Begitu tiba di depan sekolah, pemandangan miris langsung terlihat. Papan nama sekolah bukan terbuat dari kayu, apalagi tembok semen. Melainkan selembar bahan spanduk yang di atasnya ditulis nama dan alamat sekolah. Tiangnya pun hanyalah kayu berukuran kecil yang dipancangkan di depan pagar.
Masuk ke dalam sekolah, kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga terlihat. Siswa siswi baru hasil penerimaan tahun ajaran 2019-2020 tampak belajar dengan duduk di atas lantai.
Mereka yang kini duduk di bangku kelas VII, melakukannya karena bangku tak tersedia. Anak-anak ini menulis di buku belajarnya dengan beralaskan lantai sambil merunduk.
Bukan hanya dari sagi sarana yang tidak mendukung proses belajar mengajar. Tenaga pengajar di sekolah ini masih sangat minim. Bahkan ada satu tenaga pengajar sukarela di tempat ini yang harus merangkap sebagai guru di SDN Parinring
Sukaeni selaku Wakil Kepala SMPN 51 Makassar, mengakui hal itu. ”Iya, tenaga pengajar di sini merangkap juga sebagai guru di SD,” ujarnya, kemarin.
Untuk ruang kerja kepala sekolah dan ruang guru, SMPN 51 menumpang di rumah ketua Yayasan TK Adinda yang satu kompleks dan satu pagar dengan SDN Parinring.
”Oleh ketua Yayasan TK Adinda, kami diberikan satu ruangan di rumahnya untuk dijadikan kantor SMPN 51,” ujar Sukaeni di sela-sela kegiatan belajar mengajar, Senin (19/8).
Di awal pengoperasiannya tahun ini, SMPN 51 menerima lebih 100 siswa. Untuk menampung mereka, dipinjam empat ruangan SDN Parinring. Proses pembelajaran berlangsung dari pukul 07/15 Wita-13.50 Wita.
”Siswa yang diterima tahun ini dibagi dalam empat kelas. Masing-masing 32 siswa untuk kelas VIIA dan VIIB, serta masing-masing 28 siswa di kelas VIIC dan VIID,” terang Sukaeni.
Untuk tenaga pengajar, lanjut Sukaeni, ada yang memegang dua mata pelajaran. Misalnya, guru bahasa Inggris juga mengajar bahasa daerah.
”Kalau untuk pelaksanaan upacara, kami sebenarnya mau dirikan tiang. Tapi masih bingung, mau pasang di mana. Kita tidak tahu mana lahan SMP, mana punyanya SD,” imbuhnya.
Sebenarnya, kondisi yang terjadi di SMPN 51 tak jauh beda dengan SMPN baru lainnya di Makassar. Sarana berupa bangku dan meja menjadi persoalan utama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kadisdik Kota Makassar Azis Hasan yang dihubungi, kemarin mengaku belum mengetahui persoalan tersebut. Ia berdalih dirinya baru menjabat di posisi yang ditinggalkan Rahman Bando karena dikembalikan ke jabatan sebelumnya selaku kepala Dinas Pertanian dan Perikanan.
”Nanti dicek di bagian sarana, apa kendalanya sehingga sekolah belum ada bangku dan mejanya,” ujar Azis Hasan. (jun/rus)
SMP Baru Tanpa Bangku, Siswa Belajar di Lantai
×

