MAKASSAR, BKM — Kebakaran yang melanda SMK-SMTI (Sekolah Menengah Teknologi Industri) Makassar ternyata cukup parah. Selain menghanguskan gedung laboratorium beserta isinya, sebanyak 21 siswa sekolah ini terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit dr Tadjuddin Chalid.
Hingga Kamis (22/8), enam di antaranya masih menjalani perawatan. Selebihnya sudah diperbolehkan pulang. Korban mengalami sesak napas saat kebakaran melanda.
Selain itu, pihak sekolah juga meliburkan siswanya selama dua hari. Mereka kembali masuk pada hari Senin (26/8).
BKM mendatangi lokasi SMK/SMTI Makassar yang terletak tak jauh dari GOR Sudiang, kemarin. Tidak ada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar, karena diliburkan.
H Mukti yang bertugas sebagai satpam di sekolah ini, mengaku siswa diliburkan pascakebakaran melanda pada hari Rabu (21/8). Kepala SMK/SMTI dan guru-guru tidak berada di sekolah, karena tengah menjenguk siswanya yang dirawat di rumah sakit.
”Tidak bisaki masuk ke dalam. Sekolah diliburkan dua hari. Saat kejadian, ada 21 siswa yang dibawa ke rumah sakit dekat sini karena sesak napas. Saat kejadian banyak siswa yang ada di dalam laboratorium. Sekarang yang masih rawat inap sisa enam orang,” ujar H Mukti.
Pemicu kebakaran, diakui H Mukti, disebabkan pembakaran rumput di sekitar GOR Sudiang. Api kemudian merambat naik ke atas plafon plastik gedung lab. Akibatnya, ada tiga gedung yang terbakar. Yakni lab pabrik kakao, lab produksi kue serta gudang.
“Itu gedungnya ada di belakang. Hangus semua. Bangunannya berbentuk L. Kebakarannya berlangsung pukul 15.30 Wita. Nanti jam 18.00 baru padam semua api,” terangnya.
Pascakebakaran, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel Irman Yasin Limpo menginstruksikan ke bidang SMK Disdik untuk melakukan pendampingan terhadap siswa-siswi di sana.
Lelaki yang arkrab disana None menekankan, pihaknya meminta agar keamanan dan kesehatan para siswa harus diprioritaskan. Selain itu, beberapa siswa yang dilarikan ke rumah sakit saat kebakaran terjadi harus ditangani dengan maksimal. Termasuk rasa trauma yang dirasakan akibat kebakaran tersebut.
“Saya sudah koordinasi dengan bidang SMK dan kepala sekolahnya. Yang kita minta dipriotitaskan keamanan dan kesehatan anak anak dulu,” ungkap None saat dihubungi, Kamis (22/8).
Soal kerusakan, tambahnya, pihak sekolah saat ini masih sementara melakukan penghitungan. Data sementara, khusus untuk laboratorium yang terbakar, diperkirakan kerugian yang diderita lebih Rp1 miliar.
“Karena selain gedungnya hancur, peralatan laboratorium juga terbakar,” ungkapnya.
Dia menambahkan, sekolah tersebut berada di bawah binaan langsung Kementerian Perindustrian. Sehingga instansi tersebut yang lebih berwenang dalam mengambil langkah untuk segera memulihkan kondisi di sekolah yang terbakar.
Masalah Baru Najamuddin
Usai kebakaran yang melanda satu unit rumah dan usaha mebel di RT 4/RW 1 Kelurahan Laikang, Kecamatan Biringkanaya, korban M Najamuddin kini dirundung masalah baru. Ia harus mengganti kerugian seluruh pesanan mebel pelanggannya, dan beberapa orderan yang uangnya telah diterima.
“Iya, ada pelanggan yang mengerti. Tapi ada juga yang tidak. Tadi (kemarin) ada yang tanyakan lagi itu pesanannya. Saya minta waktu dulu, karena tidak bisa berpikir juga kalau begitu. Habis semuami,” ujarnya datar saat ditemui, Kamis (22/8).
Puing bekas bangunan rumahnya kini telah dibersihkan petugas kebersihan. Aliran listrik yang diduga menjadi penyebab kebakaran di rumahnya kini tengah diperbaiki.
Tidak berhenti di situ. Najamuddin yang seharusnya mendapatkan simpati dan kepedulian dari tetangganya, justru sebaliknya. Ia dituntut mengganti tembok tetangga yang juga ikut terbakar dan mengalami keretakan.
“Semalam tetangga datang ke saya minta ganti rugi. Katanya, temboknya retak karena rumah saya yang terbakar. Padahal ini musibah yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya kasihan. Untuk ada tetangga lain yang ikut menjelaskan ke dia,” tandasnya. (ita/rus)

