AWAL mendirikan usaha, Nirwanti mengerjakannya dengan dibantu ketiga anaknya. Mereka membagi tugas, ia yang meracik, ada yang jadi kasir, ada yang bagian toping, dan ada yang membuat nota.
Laporan: NUGROHO
Bahkan sebelum ia bergabung dengan Gojek dan Grab, pesanan yang dipesan melalui telepon ataupun media sosial diantar sendiri oleh Nirwanti. Dulu, ia mengisahkan memang begitu berat saat awal merintis usaha. Apalagi ilmu-ilmu yang diterapkannya kini ia pelajari hanya secara otodidak.
Namun kerja keras dan semangatnya lah, usaha yang dibangunnya ini bisa sukses hanya dalam waktu kurang lebih dua tahun saja. Bahkan kini, berbagai penghargaan pun berhasil ia peroleh.
“Penghargaan ada dari Gojek dan Grab. Piscok ini selalu di rating teratas. Kita juga selalu dapat penghargaan merchant terbaik,” kata Nirwanti.
Semangat, menjadi pegangannya hingga kini. Bahkan ia menyarankan kepada semua pengusaha yang baru saja merintis usaha, harus tetap semangat. Selain itu menggunakan waktu sebaik-baiknya juga sangat diperlukan.
“Biar banyak rencanamu kalau ndak semangat, percuma. Anak-anak sekarang banyak cuma wacana, punya rencana tapi ndak action. Jadi pergunakanlah waktu juga sebaik-baiknya,” sarannya.
Begitu juga seperti yang menjadi kendalanya kini. Pegawainya yang kadang malas-malasan menjadi salah satu kendalanya. Sehingga mau tak mau dirinya lah yang kadang turun tangan langsung.
“Kadang-kadang ndak serius bekerja. Kalau ada yg ndak masuk, ya saya yang turun tangan. Kompetitor kan semakin banyak, jadi harus lebih semangat,” tambahnya.
Kini Nirwanti hanya perlu mempertahankan kualitas dari usahanya. Selain kualitas, ia juga ingin terus berinovasi. Kualitas dan inovasi inilah yang diyakininya bisa menjaga agar usahanya tetap stabil dan terus berkembang.
Seperti yang akan ia kembangkan selanjutnya. Setelah sukses dengan pisang, berbagai aneka minuman akan ia coba hadirkan di tempatnya.
“Kita rencana mau bikin menu baru, minuman. Kita namai Purere. Minuman ini nantinya ada beberapa rasa. Mulai dari kopi, green tea, thai tea, dan sebagainya,” jelas Nirwanti.
Kedepan ia berharap usahanya ini bisa semakin lebih besar. Membuka berbagai cabang di berbagai daerah lain juga menjadi cita-citanya. Yang jelas, Nirwanti mengatakan akan terus mengembangkan berbagai inovasi yang ia punya.
“Saya berharap Piscok ini bisa menjadi super. Menjadi lebih besar,” ujarnya.
Outlet berwarna kuning yang hanya berukuran kurang lebih 2×3 meter ini hampir tiap harinya dipadati pembeli. Baik masyarakat sekitar, maupun para driver online pengantar makanan.
Outlet itu bernama Piscok Super. Menjual berbagai macam pisang yang dibalut dengan aneka macam coklat. Mulai jam 13.00 siang hingga jam 12.00 malam, outlet ini tak pernah sepi pengunjung.
Terhitung sudah ada tujuh cabang di Makassar, masing-masing cabang di Gowa, Takalar, Masamba, Mamuju, dan ada tiga cabang di Jakarta. Untuk di Makassar, selain di Jalan Letjend Hertasning, ada di Jalan Masjid Raya, Jalan Abdul Kadir, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Leimena, Jalan Mappanyuki, dan Jalan Dg Ramang.
“Untuk yang di Makassar, saya yang mengelola langsung. Kalau yang di daerah dan di Jakarta, itu sudah kami franchisekan,” kata wanita 49 tahun ini.
Usaha ini bermula dari Nirwanti yang memang sangat hobi masak. Kemudian saat itu anaknya yang bernama Muhammad Abi Rafdi mengusulkan kepadanya untuk membuatkan usaha. Terutama yang pisang coklat, karena menurut Abi saat itu, masakan tersebut unik dan bahkan belum ada yang jual.
“Piscok buatan saya ini bisa dibilang pelopor pisang coklat. Saya pikir waktu itu, makanan apapun kalau di mix dengan coklat pasti enak. Saya coba di pisang. Dan setelah Piscok ini, akhirnya banyak lagi orang yang menjual makanan varian pisang coklat lainnya,” ungkapnya.
Awalnya Nirwanti membuka usahanya di rumahnya sendiri di Jalan Arwana. Ia tidak menyangka ternyata saat itu respon masyarakat yang beli, semua langsung suka. Bahkan beberapa dari yang beli, kembali lagi untuk membeli kesekian kali. Dari situlah ia mulai bersemangat dan berhasil mengembangkan usahanya hingga saat ini.
“Ternyata waktu itu banyak yang suka. Akhirnya Abi juga buatkan instagramnya, dan mulailah berkembang. Sekarang Alhamdulillah, sehari untuk satu outlet bisa dapat sampai Rp10 juta yang di Masjid Raya. Kalau yang disini sekitar Rp5 juta sampai Rp7 juta sehari,” bebernya.(b)

