MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel terus berkoordinasi dengan Pemprov Papua untuk penanganan pengungsi akibat konflik yang terjadi di Wamena. Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah mengaku intens berkomunikasi dengan gubernur Papua dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) guna mengetahui kondisi mereka di sana.
NA mengatakan, warga Sulsel yang berdomisili di Wamena saat ini kebanyakan mengungsi ke Sentani. Di sana ada pos pengungsi yang didirikan untuk tempat mereka tinggal sementara hingga kondisi membaik. Mereka diberikan pendampingan untuk menghilangkan trauma.
Selain itu, kata Nurdin, bagi yang mau pulang ke kampung halamannya di Sulsel, pemprov memfasilitasi mereka. “Jadi tidak semua pengungsi itu ingin kembali ke Sulsel. Apalagi mereka sudah lahir besar dan berusaha di sana. Mereka hanya menunggu keadaan membaik dan kembali lagi. Tapi kalau ada yang mau pulang ke Sulsel, kami siap memfasilitasi,” ujarnya, kemarin.
Nurdin berjanji, pemerintah akan menanggung seluruh kebutuhan pengungsi. Mulai dari transportasi dan akomodasi bagi mereka yang ingin kembali.
“Kita akan tanggung semua. Kecuali mereka yang punya ekonomi yang bagus, nggak mungkinlah kita tanggung,” ungkapnya.
NA juga mengemukakan, Pemprov Sulsel telah menyalurkan bantuan sosial senilai Rp1 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Sulsel Imran Jausy mengatakan, sejauh ini belum ada data pasti yang diperoleh terkait jumlah pengungsi yang akan dipulangkan ke Sulsel atas fasilitasi pemerintah. Yang saat ini terjadi, adalah pengungsi kembali ke Sulsel atas inisiatif sendiri dan langsung kembali ke daerah masing-masing.
“Belum ada data ke kami berapa yang akan pulang, karena mereka juga masih ditampung oleh Pemerintah Jayapura,” ungkapnya.
Jika memang sudah ada informasi ada yang akan dipulangkan, menurut Imran, pihaknya akan segera mempersiapkan
segala sesuatu yang dibutuhkan. Termasuk mendirikan posko penampungan pengungsi sementara.
“Tapi karena sejauh ini belum ada informasi kalau ada pengungsi yang akan difasilitasi kedatangannya, kita belum mempersiapkan posko,” kata Imran.
Dia mengaku, pihaknya saat ini juga menunggu instruksi pimpinan terkait langkah-langkah yang akan diambil pemprov untuk penanganan pengungsi.
“Kami juga sementara menunggu perintah Pak Wagub dan Pak Sekda pulang dari Wamena, karena kan mereka yang tahu kondisi di sana dan apa yang harus dilakukan Pemprov Sulsel,” jelasnya.
Begitu juga terkait bantuan yang akan disalurkan ke Papua. Pihaknya masih menunggu arahan langsung dari wagub dan sekprov.
“Kalau yang beredar di media, mereka membutuhkan makanan, pakaian, obat-obatan. Namun kami belum mobilisasi bantuan ke sana karena menunggu kepulangan pimpinan terlebih dahulu,” tambahnya.
Sementara itu, Mansur selaku ketua KKSS Papua yang dihubungi, Selasa (1/10) mengatakan, hingga saat ini jumlah warga Sulsel yang sudah turun dari lokasi konflik ke Jayapura berkisar 2.500 jiwa lebih.
Mereka ditempatkan di lima posko resmi yang didirikan KKSS di Tongkonang, Kota Jayapura, dan Sentani, Kabupaten Jayapura. Mereka seluruhnya diangkut menggunakan pesawat Hercules.
“Kalau sampai sekarang, sudah turun 2.500 jiwa lebih di Yayapura. Kebanyakan dari Toraja, kurang lebih 1.000 orang. Selebihnya Bugis-Makassar. Mereka menempati lima tempat posko KKSS yang resmi di Tongkonang Kota Jayapura dan Sentani. Mereka turun dengan Hercules,” tandasnya.
Bertemu Kapolda Sulsel
Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe bertemu tokoh Papua dan Maluku, serta mahasiswa Papua yang ada di Makassar. Pertemuan dilakukan secara terpisah, Selasa (1/10).
Pertemuan dengan tokoh Papua dan Maluku yang ada di kota ini, guna menyikapi insiden yang terjadi di Wamena, Papua serta bencana alam yang terjadi di Ambon, Maluku.
Kapolda Irjen Guntur didampingi Wakapolda Brigjen Adnas, Kabid Humas Kombes Dicky Sondani, Irwasda Kombes Roberth Watratan, dan Karo SDM Kombes Markilat.
Sementara, tokoh Maluku dan Papua yang hadir, di antaranya Prof Atja Razak Thaha, Pendeta Daniel Sopamena, dan Prof Sadli. Termasuk para orangtua wali dan juga sesepuh dari Papua dan Maluku.
Kapolda mengatakan, persoalan di Papua mesti ditanggapi secara bijak dan tidak emosional. Apalagi melihat kondisi Wamena saat ini sudah berangsur kondusif, pascakerusuhan beberapa waktu lalu.
Tujuannya untuk menangkal dampak yang bisa ditimbulkan dari masalah tersebut. Terutama mengantisipasi penyebaran informasi yang tidak benar atau hoax.
“Kita tidak boleh mudah percaya pada informasi yang tidak benar dan hoax. Apalagi, kadang moment seperti ini dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab” ujar Irjen Guntur Laupe.
Dalam pertemuan itu, ia menekankan bahwa tidak benar yang terjadi di Wamena adalah SARA. Karena semua bersaudara dan satu. Karena itu, kapolda mengajak untuk bersama-sama menjaga keutuhan dan persaudaraan.
Temui Mahasiswa Papua
Selain tokoh, Kapolda Irjen Guntur juga bertemu dengan mahasiswa Papua yang tengah kuliah di Makassar. Khususnya yang ada di Universitas Negeri Makassar (UNM).
Momentum memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober kemarin, UNM menggelar kegiatan pentas seni budaya dengan melibatkan mahasiswa asal Papua.
Rektor UNM Prof Husain Syam mengatakan, pentas seni seperti ini sudah rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian UNM kepada mahasiswa asal Papua.
“Kita ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa UNM Makassar sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia Timur memiliki kepedulian terhadap sesama, khususnya mahasiswa dari Papua,” ujar Prof Husain, kemarin.
Prof Husain menambahkan, selama mencuatnya konflik terkait Papua dalam beberapa waktu terakhir, pihaknya menjamin keberadaan mahasiswa yang sementara menimba ilmu di UNM. “Kita melakukan koordinasi dengan pihak berwajib, dan akan melindungi seluruh mahasiswa Papua dari ancaman yang bisa datang dari mana saja,” tandasnya.
Lebih lanjut, Prof Husain menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan mahasiswa asal Papua ini kembali ke kampung halamannya, sementara pendidikannya belum selesai.
“Kalau sudah selesai belajar dan dirasa ilmu yang dimiliki sudah cukup untuk membangun daerahnya, silakan kembali. Tapi kalau sementara kuliah dan ingin pulang seperti di Pulau Jawa, kita tidak izinkan,” imbuhnya.
Kapolda Irjen Mas Guntur Laupe yang hadir langsung di kampus UNM, memberikan apresiasinya. Ia menilai kegiatan ini sangat bagus dalam upaya mempererat persaudaraan.
“Kegiatan budaya seperti ini menjadi salah satu cara yang mudah untuk merajut kebersamaan,” ujarnya. (rhm-mat-nug/rus)

