DINAMIKA hidup seorang Satpol PP wanita, memiliki suka duka masing-masing, seperti yang dialami Sri Eka Wahyuni. Ia kadang berbenturan dengan pedagang jika hendak melakukan penertiban
Laporan: JUNI SEWANG
Perempuan berumur 24 tahun ini mengakui ketika menjalankan tugas dalam upaya penertiban pedagang kaki lima (PKL), pengemis maupun bangunan tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB), selalu saja berbenturan antara ketegasan maupun rasa iba.
Eka panggilan akrabnya ini adalah salah seorang staf pelaksana Satpol PP bagian Palwa (Pengamanan dan Pengawalan). Ia mengatakan bahwa profesinya ini lekat dengan cemooh dan sindiran dari berbagai pihak, terutama rakyat kecil yang merasa tertindas.
“Ayo siapa yang tidak benci Satpol PP?. Kita selalu dianggap kejam. Padahal kita bekerja sesuai tugas,” kisah Eka, saat melakukan tugas di Pos jaga kantor Kecamatan Tallo.
Padahal, bagi Eka, dirinya dan rekan-rekannya sesama petugas Satpol PP, tidak akan mungkin melakukan penertiban tanpa sebab yang tidak jelas dan perintah dari pimpinan.
“kita tidak mungkin mengadakan penertiban, bongkar dagangan tanpa aturan yang tidak jelas. Kami beri peringatan 1, 2 dan 3, setelah itu baru kita tindak,” jelasnya kepada penulis.
Bahkan tak jarang, Eka pun merasa tak tega dengan para pedagang, pengemis maupun pihak lainnya yang ia tertibkan.
“terkadang tidak tega. Tapi sudah melakukan sesuai prosedur aturan yang ada saja. Saya sebenarnya dilema, tidak tega juga sama mereka. Bentrokan dengan warga hampir setiap hari. Makanya dengan itu kitanya harus sabar,” ujarnya kepada penulis.
Selain itu, para petugas Satpol PP ini ternyata tak jarang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari kalangan sesama aparat penegak hukum.
“Saya pernah dimarahi sama aparat, dibilang saya tahu tupoksi kamu, kamu cuma urusin pedagang kaki lima saja, tidak usah ngurusin selain itu. Makanya pekerjaan kami Satpol PP dari sesama aparat pun kadang orang tidak tahu,” cerita Eka.
Padahal tupoksi dari Satpol PP, bagi Eka, juga menyangkut pengawasan, pengawalan hingga penertiban pengemis maupun bangunan tanpa IMB.
Selain berbicara tentang kisah duka, Eka juga berbagi kisah sukanya dalam pekerjaan. Eka menyebut kekompakan tim secara internal sebagai alasannya giat dalam melakukan pekerjaannya.
Ia memulai bergabung Satpol PP Pemkot Makassar awal tahun 2018 dan mendapat tugas di Kecamatan Tallo sampai sekarang. Terhitung, hampir sudah dua tahun, alumni SMA Barru ini menjadi anggota Satpol PP.
Sambil bekerja, Eka juga berstatus ibu rumah tangga. Perempuan yang memiliki tinggi 156 centimeter ini mengaku tidak merasa kerepotan bekerja sambil mengurus rumah tangga.(*)

