GOWA, BKM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Desa Rappoala dan Rappolemba, Kecamatan Tompobulu berangsur-angsur berhasil dipadamkan, Kamis (24/10). Peristiwa ini berlangsung sejak Minggu (20/10).
Hal itu diinformasikan Camat Tompobulu Zulfikar yang dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis (24/10) pukul 14.57 Wita. Kata dia, kondisi karhutla sudah tidak seperti hari-hari sebelumnya. Tiupan angin pun sudah mulai melemah. Meski begitu, pihaknya bersama personel TNI-Polri, Manggala Agni, dan warga setempat masih tetap mengawasi kemungkinan masih adanya bara tertinggal.
Ditanya soal seberapa besar kerugian yang dialami akibat karhutla, Zulfikar belum bisa memastikannya. Pihaknya masih melakukan pendataan, dan semua pihak masih fokus pada proses pemadaman.
“Sampai saat ini kami belum mengidentifikasi kerugian yang terjadi. Kita masih fokus untuk pemadaman. Meski tiupan angin sudah melemah, tapi kita masih mengawasi lokasi dan memastikan api betul-betul sudah padam. Jadi untuk mendata kerugian kami masih belum lakukan,” jelas Zulfikar.
Dia juga mengatakan, kemungkinan yang terbakar adalah kebun kopi, bukan cengkih. Karen mayoritas yang ditanam warga di Rappoala dan Rappolemba adalah kopi.
Itupun, kata dia, pihaknya masih menunggu konfirmasi lanjutan dari Kades Rappoala Syamsu Rijal dan Kades Rappolemba Abd Harim Tompo. Sebab jaringan telepon selular masih terganggu dan sulit menjangkan kedua wilayah tersebut.
Ditanya berapa warga yang mengungsi karena karhutla, Zulfikar langsung menampiknya. “Tidak ada warga yang mengungsi, karena lokasi karhutla dan area permukiman sangat jauh. Yang mengungsi itu hanya yang jadi korban angin kencang, sebab atap rumah mereka diterbangkan angin. Itupun mengungsinya cuma di tetangga dekat saja. Tidak jauhji. Sekarang mereka sudah balik lagi ke rumahnya untuk memperbaiki atap yang masih bisa dipasang,” terang Zulfikar.
Sementara terkait 26 ekor sapi milik warga yang dilaporkan hilang saat karhutla, menurut Zulfikar, belum ada laporan lanjutan. Jadi belum bisa dipastikan apakah sapi-sapi itu mati terpanggang atau lari ke desa tetangga saat hutan dan lahan terbakar.
Sehari sebelumnya, Rabu siang (23/10) Wakil Bupati Gowa Abd Rauf Malaganni meninjau langsung kondisi karhutla di Rappoala dan Rappolemba. Ia juga melihat langsung kondisi rumah warga yang rusak akibat diterjang angin kencang.
Dalam kunjungan itu, wabup didampingi Camat Tompobulu Zulfikar, Kepala Desa Rappoala Syamsul Rijal, dan Kades Rappolemba Abd Harim Tompo serta tim penanganan karhutla. Abd Rauf menginstruksikan agar seluruh tim pemadaman, baik unsur masyarakat, damkar, Manggala Agni hingga TNI-Polri untuk terus mengawasi seluruh titik yang dianggap paling berpotensi terjadi kebakaran susulan.
“Terima kasih kepada seluruh warga dan tim penanganan yang secara kompak melakukan pemadaman dan mengawasi titik api. Intinya, jangan tinggalkan lokasi jika masih ada api, terutama pohon yang masih menimbulkan asap. Karena itu akan sangat mudah kembali memicu munculnya api. Apalagi kalau ada angin kencang,” tandas wabup.
Wabup menyebut, untuk proses pemadaman ini hanya menggunakan peralatan manual atau alat semprot pertanian. Ditambah bantuan 5 rol selang dan pompa portable untuk membantu suplai kebutuhan air dari irigasi yang diberikan oleh Dinas Damkar Gowa. Hal ini dilakukan, karena medan menuju sumber api sangat tidak memungkinkan bagi mobil damkar.
Pemadaman dilakukan di wilayah Kampung Ulu Alla, Dusun Bori Masunggu atau perbatasan Desa Rappoala dan Desa Rampolemba. Upaya pemadaman inipun terkendala dengan lokasi yang cukup jauh. Titik kebakaran berada di ketinggian, medannya pun cukup terjal untuk dilewati.
“Kami hanya memadamkan yang bisa dijangkau saja,” kata Camat Tompobulu.
Sementara itu khusus di Kecamatan Parigi, tidak ada karhutla. Namun, sebanyak 144 unit rumah warga rusak akibat angion kencang.
Camat Parigi Muh Guntur yang dikonfirmasi, mengatakan dari 144 rumah rusak, 64 di antaranya terletak di Desa Manimbahoi, 38 rumah di Desa Bilanrengi, 10 rumah di Desa Jonjo, 18 rumah di Desa Majannang, dan 14 rumah di Desa Sicini.
Sesuai instruksi wabup, kata Guntur, pihaknya masih mendata lebih detil kemungkinan masih ada rumah warga yang belum terdata dan menjadi korban angin kencang. Dari 144 rumah rusak, pemerintah kecamatan memilah jumlah rumah rusak sedang, ringan, dan berat.
“Yang rusak ringan dan sedang, kini sudah diperbaiki kembali dan sudah ditempati lagi oleh pemiliknya. Sementara yang rusak berat, masih diperbaiki secara gotong royong. Pemiliknya masih menumpang sementara di rumah keluarga atau tetangga dekatnya,” kata Camat Parigi.
Sementara lokasi karhutla di Parigi terjadi di kaki gunung Lompobattang, tepatnya di Kampung Bangkeng Kajang, Dusun Balleanging, Desa Manimbahoi yang Rabu sebelumnya terbakar, hingga kemarin masih terus berlangsung.
Meski terbatas akses, tim penanganan karhutla dan masyarakat terus melakukan upaya pemadaman meski peralatan yang terbatas.
Camat Parigi Muhammad Guntur mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pemadaman. Selain tim dibantu masyarakat, pemadaman kali ini juga dibantu dari personel Damkar Wajo, Damkar Maros, dan Damkar Makassar yang tergabung dalam Asosiasi Pemadaman Kebakaran Indonesia (Apakari) Sulsel. Dengan kekuatan penanganan tersebut, karhutla bisa segera teratasi.
“Beberapa titik sudah mulai padam, siklus apinya juga telah berkurang dari sebelumnya. Kemarin kita lakukan pemadaman hingga pukul 01.00 Wita dengan menggunakan alat manual. Pemadaman kami hentikan karena asap. Mata dan pernapasan sudah mulai terganggu akibat asap,” kata Guntur yang berada di lokasi karhutla, Kamis (24/10).
Guntur menyebutkan, sekitar 70 personel yang mendatangi titik kebakaran. Masing-masing Damkar Maros 18 orang, Damkar Makassar 15 orang, Damkar Wajo 9 orang, Manggala Agni 7 orang, Dompet Dhuafa 20 orang, dan masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Gowa Rostam Razak menyampaikan apresiasinya atas perhatian Apakari kabupaten/kota yang telah membantu tim penanganan karhutla dalam memadamkan api di sejumlah titik di Parigi.
“Tadi malam (Rabu malam) seluruh anggota Apakari sudah tiba di Malino. Pagi tadi (kemarin) mereka pun telah menyebar ke wilayah kebakaran, utamanya ke Parigi,” kata Rostam.
Untuk anggota Apakari Maros dan Wajo, mereka menyebar di Kecamatan Parigi. Sementara yang dari Damkar Makassar, antara Kecamatan Tinggimoncong atau Kecamatan Tompobulu. (sar/rus)
Api di Tompobulu Mulai Padam, di Parigi Masih Berlangsung
Damkar Tiga Daerah Bantu Padamkan Karhutla di Gowa
×

