MAKASSAR, BKM– Film Ati Raja mulai diputar serentak di bioskop Indonesia, 7 November, kemarin. Para milenial dan para pemangku kepentingan baik di dunia seni, politik dan pemerintahan serta pengusaha tak ketinggalan menonton tanyangan perdana film Ati Raja tersebut.
Bahkan Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah, ikut berbaur dengan warga kota untuk menonton Film Ati Raja di studio XXI Trans Studio mal.
Film Ati Raja bukan hanya merekonstruksi jaman atau periode Makassar tahun 1930, tapi juga memunculkan kembali dialektika kehidupan bermasyarakat diantara etnis-etnis yang mendiami Makassar saat itu. Khususnya etnis pendatang, India, Tionghoa, Arab, dan sebagainya.
Politik menjadi sangat dinamis, yang kemudian memunculkan Partai Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dimana Ho Eng Dji sebagai salah Satu deklaratornya.
Biopik Ho Eng Djie di film Ati Raja menarasikan cinta Ho Eng Dji yang begitu kompleks, Cinta pada tanah air, tradisi, profesi, juga sekian kisah perempuan yang hadir dan mewarnai hidupnya.
Penggambaran cerita inilah sempat dibahas dalam diskusi Film Ati Raja di Baruga Prof Andi Mattulada Unhas, Rabu, 6 November, lalu.
Pemeran Sosok Hoengdjie, Bojan, mengatakan, sosok yang spesial Ho Eng Djie meski seorang peranakan Tionghoa, ia mampu menghasilkan karya-karya berkearifan lokal yang sampai detik ini masih bisa nikmati.
Bahkan ia mampu menjadi sebuah solusi dengan kondisi negara yang sedang sibuk mengurusi sekat sekat yang ada kala itu terkait perbedaan suku ras dan Agama.
Kata Bojang, agar ciri khas itu bisa ia jiwai dalam film, makanya ia lakukan pendalaman karakter selama dua tahun lalu sejak didaulat menjadi sosok Ho Eng Dji dalam film. Mulai dari mengunjungi keluarganya yang masih hidup dan sedikit berdiskusi tentang sosok Ho Eng Dji. Hingga mengunjungi makam peranakan Tionghoa tersebut agar jiwanya masuk kedalam raganya sendiri.
” Alhamdulillah ternyata proses itu yang membuat saya bisa menyelesaikan semua proses yang ada,” ucapnya.
Sutradara Ati Raja, Shaifuddin Bahrum, juga mengatakan, tak hanya lewat karyanya namun sosok Ho En Dji juga sempat diundang oleh Presiden Soekarno ke istana dan berdiskusi tentang kebudayaan khususnya musik sebagai potensi pengikat jalinan persaudaraan antar etnik yang berdiam di Makassar.
Lewat musik, lagu, dan syair, Ho Eng Dji bicara tentang persatuan, toleransi, penghargaan akan dimana bumi yang ia pijak, juga langit yang dijunjung. Kesadaran yang rasanya cukup asing bagi kita saat ini.
“Cukup banyak apresiasi untuk sosok Ho Eng Dji hingga kita tampakkan dalam film, ini biar generasi milenial tau siapa dia,”ungkapnya.(jun)
Menyatukan Sekat Lewat Film Ati Raja
×

