MAKASSAR, BKM — Seiring berjalannya waktu, kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) Makassar makin mengerucutkan kandidat. Mereka kemungkinan besar akan maju pada perhelatan di 23 September 2020.
Sebaliknya, seleksi alam berlangsung pada bakal calon (balon) lainnya. Sedikit demi sedikit mereka mulai mundur secara teratur dari kancah sosialisasi. Bahkan ada di antaranya yang sudah ‘lempar handuk’ dan tidak lagi punya keinginan untuk bertarung.
Hal tersebut dipicu lantaran balon tidak mendapat respons positif dari partai politik serta masyarakat. Ada pula yang realistis terkait besaran finansial yang mesti disiapkan untuk ikut berkompetisi pada pilwali mendatang.
Sedikitnya ada 20-an balon wali kota dan wakil wali kota yang sudah mengerem langkahnya. Buktinya, mereka tak lagi masif turun ke tengah masyarakat. Demikian pula alat peraga kampanye yang semakin berkurang. Hingga tidak mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di partai tingkat provinsi.
Sebut saja HM Busrah Abdullah, Edy Baramuli, Taufiq Fachruddin, Dr Alimuddin, Muh Ikbal Djalil, dr Wahyudi Muchsin, Sri Rahmi, Mudzakkir Ali Djamil, Aliyah Mustika Ilham, hingga Andi Rukman N Karumpa.
Begitu pula Adi Rasyid Ali, Indira Chunda Tita Syahrul, Farouk M Betta, Andi Muh Yasir, Andi Bukti Jufri, H Suhardi Haseng, Fitra Burhan, Zulkarnain Paturuni, Rudianto Lallo, dan Muh Iqbal Arifin.
Tiga nama di antaranya, yakni Indira Chunda Tita Syahrul, Aliyah Mustika Ilham, dan Andi Rukman N Karumpa disebut akan lebih fokus untuk berkiprah di tingkat nasional. Tita saat ini menjabat ketua umum DPP Garnita Malahayati Nasdem, menggantikan Suryani Chaniago. Sementara Aliyah Mustika Ilham kembali terpilih sebagai anggota DPR RI untuk periode kedua. Adapun Andi Rukman masih tercatat sebagai pengurus DPP Golkar.
Meski ada sekitar 20 yang terkesan ‘buang handuk,’ namun masih ada kurang lebih 20 nama yang masih optimistis ikut bertarung.
Ketua DPD Partai Nasdem Kota Makassar Andi Rachmatika Dewi, menyebut fenomena mundurnya calon dari bursa kandidat merupakan hal yang wajar. ”Biasaji itu, seleksi alam,” ujar Cicu, panggilan akrab Andi Rachmatika Dewi, Selasa (12/11).
Ketua DPW Garnita Malahayati Sulsel ini, mengemukakan masih banyak tokoh lama yang bersedia untuk maju bertarung, “Utamanya yang sudah punya popularitas dan elektabilitas cukup,” imbuh ketua Komisi B DPRD Sulsel ini.
Balon wali kota yang juga wakil ketua DPW PKS Bidang Pemenangan Pemilu Sri Rahmi yang dimintai tanggapannya, enggan memberikan komentar. Ketua Fraksi PKS DPRD Sulsel ini hanya terseyum.
Balon wali kota yang juga politisi Partai Demokrat Zulkarnain Paturuni juga tidak begitu memberikan tanggapan. “Ha…ha…ha.. begitukah?” tulis Zulkarnain Paturuni.
Mantan anggota Fraksi PKS DPRD Makassar Muhammad Ikbal Djalil memberikan tanggapan, bahwa pilwali tidak sekadar uang. Namun perlu niat dan komitmen yang kuat.
Menurutnya, kekuatan finansial menjadi salah satu tolok ukur dalam setiap kontetasi politik. Tidak terkecuali pada perhelatan pilwali Makassar 2020.
“Tapi, terlepas dari kekuatan finansial, diperlukan niat ikhlas dan komitmen untuk membangun Makassar yang lebih baik,” ujarnya.
Iqbal Djalil menegaskan, dalam setiap perhelatan banyak figur yang muncul lalu kemudian mundur satu persatu. Mundurnya mereka bukan sekadar karena tidak punya uang atau melihat peluang tipis untuk memenangi kontestasi.
“Tidak bisa dipungkiri, ada yang maju karena dorongan orang-orang sekitarnya. Ada juga karena coba-coba. Ada karena berupaya menjaring donatur politik. Akhirnya alasan mundur di tengah jalan juga akan beragam,” terang Iqbal Djalil, kemarin.
Olehnya itu, Ketua Ikatan Pondok Pesantren Indonesia (IPI) ini menegaskan, saat maju di kontestasi politik semacam pilwali, yang perlu diperbaiki adalah niat. Berawal dari niat pengabdian untuk membawa Makassar lebih baik, maka akan berujung pada hasil yang baik pula.
“Setelah niat baik maka dilanjutkan dengan ikhtiar. Tapi dari semua proses itu, maka komitmen perjuangan adalah hal penting lainnya. Agar tidak kendor, tidak mudah putus asa, tidak mudah ‘lempar handuk’ dan akhirnya menyerah,” tegasnya.
Iqbal Djalil menuturkan, dalam perjalanan karir politiknya, termasuk menghadapi kontestasi seperti pileg, kekuatan finansial bukan segalanya. Harus ada kerja sama tim yang baik, ditunjang oleh jaringan pemenangan mumpuni.
“Ikhlas itu perlu dalam kontestasi politik. Ikhlas untuk mewakafkan diri dan harta demi kemaslahatan orang banyak. Tentu dengan perhitungan yang matang, karena pertarungam politik itu soal strategi,” tandasnya.
Iqbal Djalil menyebutkan, calon wali kota Makassar dihadapkan pada dua hal, yakni mempersiapkan finansial yang cukup untuk membiayai berbagai agenda politik yang panjang. Yang tak kalah pentingnya adalah proses menjadi calon wali kota, yakni mendapat dukungan partai politik.
“Kalau dua hal ini tidak siap atau salah satunya tidak ada, maka pasti akan berhenti di tengah jalan. Tapi itu adalah proses menuju pilwali 2020 yang mau tidak mau harus dijalankan. Sekali lagi, politik itu soal strategi,” jelasnya.
Wakil Ketua DPD Gerindra Sulsel Syawaluddin Arief mengemukakan bahwa Partai Gerindra Sulsel telah membuka pendaftaran calon kepala daerah di 12 kab/kota se-Sulsel sejak 25 Oktober hingga 15 November. Hasilnya sangat menakjubkan. Ekspektasi masyarakat terhadap Gerindra sangat tinggi, ditandai dengan banyaknya tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan tokoh masyarakat yang mendaftar melebihi dari perkiraan.
Syawal mengambil contoh Makassar. Tercatat ada 19 bakal calon yang mendaftar. Hampir sama dengan 11 daerah lainnya.
“Jadi kalau dikatakan bahwa banyak bakal calon yang ‘lempar handuk’ disebabkan karena semakin dekatnya masa pendaftaran, dan akan memasuki seleksi. Berikutnya adalah fit and proper test. Disusul kemudian survei elektabikitas. Dengan demikian bakal calon yang hanya main-main, coba-coba dan tidak serius akan terdepak dengan sendirinya,” ujar Syawal.
Juru bicara DPD Gerindra Sulsel ini mengakui jika memang para peminat akan terus mengerucut. “Saya yakin, semakin dekat masa penetapan akan mengerucut bakal calon yang ada. Karena semakin ketat persyaratan yang diajukan oleh partai pengusung. Sebab hampir semua partai, utamanya Gerindra mau menang. Bukan hanya mau jadi peserta. Sehingga kandidat yang direkomendasi adalah putra putri terbaik,” ucapnya.
Ketua DPW PKS Sulsel Surya Darma mengakui bila setiap balon tentu akan realistis. “Saya kira yang buang handuk duluan karena realistis melihat daya dukung yang ada, serta kecilnya peluang memperoleh kendaraan politik untuk bertarung di pilwali,” terang Surya Darma.
Disebutkan, di PKS saja ada sekitar 20 orang yang mendaftar sebagai bakal calon wali kota maupun wakil wali kota. “Ini belum ditambah yang mendaftar di partai lain dan tidak mendaftar pada kami. Tapi fenomena ini juga punya sisi positif. Yaitu pada akhirnya mereka yang maju bertarung memang sosok yang mumpuni dan kridibel,” ucapnya.
Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel HA Kadir Halid tak menampik sudah banyaknya balon wali kota yang buang handuk. Kadir yang juga ketua Tim 9 Golkar Sulsel memberi alasan. Karena yang mendaftar atau mengembalikan formulir cukup banyak, namun yang ikut uji kelayakan dan kepatutan hanya sedikit. Di antaranya Mohammad Ramdhan Pomanto, Irman Yasin Limpo, Munafri Arifuddin, Syamsu Rizal, dan Haris Yasin Limpo.
“Itu berarti ada yang tidak serius, bahkan sudah lempar handuk,” tandas Kadir. (rif)
Puluhan Balon ”Lempar Handuk”
×

