MAKASSAR, BKM — Pengaruh pengendali alias dekkeng atau yang biasa disebut the king maker, bisa jadi tokoh yang ada di belakang setiap calon kepala daerah (cakada). Apakah itu kandidat wali kota ataukah bupati.
Tokoh ini dapat memengaruhi pilihan masyarakat atas pasangan calon wali kota dan wakil wali kota, serta calon bupati dan wakil bupati di 12 daerah, yang akan menggelar kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) Makassar dan pemilihan bupati (pilbup) 23 September tahun depan.
Di Kota Makassar dan daerah lainnya, setidaknya ada sejumlah tokoh yang dinilai punya basis dan jaringan yang cukup bagus. Di antaranya mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mantan Gubernur Sulsel yang pernah menjabat Ketua DPD I Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL), Gubernur Sulsel saat ini Prof Nurdin Abdullah, Penjabat Wali Kota Makassar M Iqbal Suaeb, serta mantan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
Tokoh yang ada di Makassar dan daerah sekitarnya, tentu memiliki pengaruh terhadap warga yang ingin menentukan pilihannya terkait calon pemimpin lima tahun berikutnya.
Di Gowa tentu ada nama SYL dan keluarga besarnya. Bulukumba juga ada bupati saat ini, yakni Andi Sukri Sappewali serta mantan bupati Zainuddin Hasan.
Di Kabupaten Maros ada Bupati Hatta Rahman. Sementara di Kabupaten Pangkep ada Bupati Syamsuddin A Hamid.
Tujuh daerah lain juga tidak lepas dari peran tokoh atau elite partai yang punya jaringan dan basis di setiap daerah.
Di Kabupaten Barru ada mantan bupati Andi Muhammad Rum, serta mantan Gubernur HM Amin Syam. Di Kabupaten Soppeng masih ada politisi PDIP Samsu Niang dan anggota DPR RI Supriansa.
Di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara juga masih ada tokoh yang cukup didengar, yakni Irjen Pol (Purn) Mathius Salempang, Litha Brent, serta anggota DPD RI Lily Amelia Salurapa.
Di Luwu Timur, ada mantan bupati yang kini menjadi anggota DPRD Sulsel, yakni Andi Hatta Marakarma. Di Luwu Utara juga ada mantan anggota DPR RI dan pernah tercatat sebagai bupati Luwu Utara dua periode yakni Luthfi A Mutti.
Politisi Partai Golkar Sulsel HA Kadir Halid mengakui jika pengaruh tokoh seperti SYL, IAS, dan Andi Amran Sulaiman tentu patut diperhitungkan pada kontestasi pilwali dan pilbup 2020 mendatang. “Iya, pengaruh tokoh seperti SYL, IAS dan Pak Amran untuk pilkada di Sulsel patut diperhitungkan. Dan saya kira masih sangat besar,” ujar Kadir Halid yang juga Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Pemerhati politik dari Duta Politika Indonesia Dedy Alamsyah Mannaroi, juga mengakui adanya peran dan pengaruh tokoh. Termasuk HAM Nurdin Halid (NH).
“Juga nama NH patut diperhitungkan. Tapi saya pikir nama tokoh besar di belakang cawali tidaklah terlalu membawa dampak secara elektoral. Karena itu semua kembali kepada pola gerakan tim dan personalisasi cawali itu sendiri,” ujar Deddy.
Apalagi, menurutnya, Makassar merupakan kota metropolitan, di mana karakter masyarakatnya yang majemuk sulit untuk diarahkan ketimbang di pilkada kabupaten.
Nurmal Idrus dari lembaga Nurani Strategic, mengemukakan bila orang-orang di belakang kandidat biasanya disebut the king maker. “Mereka mengatur segalanya. Fenomena itu umum terjadi di pilkada. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya biaya politik yang membuat kandidat harus mencari funding sebagai sponsor di belakang mereka,” ujar Nurmal Idrus.
Mantan ketua KPU Makassar ini mengakui bila pengaruh para tokoh itu masih sangat besar, terutama IAS dan SYL. “Mereka menguasai jejaring politik karena pernah bertarung di pilgub Sulsel,” ucap Nurmal.
Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulsel Rudi Pieter Goni (RPG), merespons positif adanya tokoh di balik sejumlah bakal calon wali kota dan bupati. Seperti SYL, IAS, hingga Amran Sulaiman.
Menurut RPG, tokoh selalu menjadi pewarna yang menarik selain partai tentunya. “Besarnya pengaruh tokoh bergantung juga siapa yang didukung. Karena bukan postulat lagi, tapi masyarakat bebas dalam memilih. Jadi faktor kesukaan calonnya juga sangat penting,” ujarnya.
RPG menjelaskan, bahwa sekali lagi masyarakat disajikan menu pemimpin. “Tentu akan memilih pemimpin terbaik. Jadi zaman juga bergeser. Sekarang pengaruh partai dan tokoh ada yang menyaingi, yaitu media. Sebab dalam satu klik dan dalam hitungan menit, endorse dan sebaliknya dapat membuat calon terpelanting. Dahsyat, media menjadi kekuatan baru. Tokoh tanpa media tidak dasyat,” tandasnya.
Pengamat politik dari Unhas Dr Andi Lukman Irwan, juga mengakui akan tetap ada tokoh di balik pertarungan balon wali kota dan bupati di 12 daerah. “Seperti jika JK tetap ikut disebut, itu wajar saja,” ujar Andi Lukman, Minggu (22/12).
Selain JK, juga ada nama SYL dan IAS. “Jika yang lalu pengaruh SYL mulai memudar setelah tidak lagi menjadi ketua Golkar dan gubernur Sulsel, namun ketika terpilih menjadi menteri, pengaruhnya semakin naik dan besar. Demikian pula bagi IAS. Saat pilwali lalu, IAS tidak bisa bermain. Namun coba lihat ketika pileg kemarin, IAS mampu meloloskan istrinya kembali masuk Senayan,” ucap Lukman. (rif/rus)
Dekkeng di Belakang Cakada
×

