pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Sepasang Lanjut Usia Bertahan Hidup di Sebuah Gubuk

MAROS, BKM — Sepasang suami istri lanjut usia di Dusun Balocci, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Maros, harus bertahan hidup di sebuah gubuk reyot berukuran 3×3 meter.
Mereka hanya mengharap iba dari warga lainnya untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Keberadaan mereka sempat viral di sosial media beberapa waktu lalu. Mereka adalah Daeng Sambang dan Sari. Umur keduanya diperkirakan telah mencapai 90 tahun dan telah menetap di dusun yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Maros, sejak tahun 2000 silam.
Selang beberapa tahun, mereka lalu meninggalkan Maros dan sempat tinggal di Gowa bersama keluarganya. Selama berkeluarga, pasangan ini pernah dikaruniai seorang anak. Namun malangnya, buah cinta mereka meninggal saat masih Balita.
Olehnya itu, mereka berani menjual semua harta bendanya untuk menyekolahkan salah satu anak keponakannya di Gowa yang mengajaknya tinggal bersama. Namun malang bagi mereka, selang satu tahun tinggal bersama keluarganya itu, mereka justru diusir dan diperlakukan tidak selayaknya.
Mereka pun kembali ke Maros dan diberikan tempat untuk membangun gubuk di lahan salah seorang warga. ”Mungkin karena hartaku sudah habis, mulai rumah, sawah dan sapi. Semua saya jual untuk biayai cucu keponakan saya itu. Tapi justru saya malah diusir,” kata Daeng Sambang, Senin (20/1).
Saat mengenang perlakuan keluarganya itu, kakek yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) itu, sempat berurai air mata. Dia tidak menyangka, jika semua harta yang selama ini telah habis untuk biaya sekolah anak keponakannya itu dibalas dengan pengusiran.
”Anak keponakan saya itu sudah bekerja di sebuah rumah sakit sekarang. Dia sekolah dari hasil menjual harta saya. Tapi tidak tau kenapa mereka begitu tega sama saya dan istri yang sudah tua ini,” lanjutnya.
Saat masih bugar, Daeng Sambang mengaku bekerja sebagai petani dan berkebun. Namun saat ini, jangankan untuk bekerja, berjalan saja dia mulai tidak mampu. Istrinya pun sudah tidak mampu berjalan dan hanya bisa merangkak tiap kali berpindah tempat.
”Bagaimana saya bisa bekerja, jalan saja saya tidak bisa. Istri saya juga sudah lama begitu. Untungnya ada orang baik yang mau bantu kami berdua di sini. Padahal mereka bukan keluarga,” sebutnya.
Salah seorang warga, Rohani (25), mengaku sangat prihatin dengan pasangan kakek nenek itu. Sehari-hari, dirinya pun selalu memberikan bahan makanan dan juga membantu memasak di gubuk itu.
””Kadang kalau nasi saya masakan di sini di rumahnya. Kalau sayur dan ikan biasa saya bawakan dari rumah,” katanya.
Tak hanya bantu memasak, Rohani juga sehari-harinya rela mengangkat air bersih ke atas gubuk mereka. Bahkan, gubuk reyot yang mereka tinggali itu dibangun oleh ipar di atas lahan miliknya. Harapannya, gubuk itu bisa diperbaiki agar lebih layak ditinggali.
”Saya sudah berkali-kali ajak dia tinggal di rumah saya. Tapi mereka menolak. Saya sudah anggap mereka seperti orang tua saya sendiri. Waktu masih bugar mereka juga sangat baik sekali sama saya,” lanjutnya.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Maros, Prayitno, mengatakan, pihaknya sudah turun melakukan peninjauan langsung ke lokasi itu setelah videonya viral di media sosial. Dia mengaku, keduanya sudah didaftarkan untuk mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).
”Kami sudah berkunjung ke sana setelah melihat videonya yang viral itu. Kita sudah usulkan ke Kemensos untuk mendapatkan bantuan. Karena mereka terdaftar sebagai warga miskin,” terangnya. (ari/mir/c)



×


Sepasang Lanjut Usia Bertahan Hidup di Sebuah Gubuk

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar