MAKASSAR, BKM–Pemerintah Provinsi Sulsel kembali memutuskan untuk tetap melanjutkan proyek strategis nasional (PSN). Ada lima proyek yang sementara berjalan, setelah sempat terhambat oleh persoalan pembebasan lahan di 2019 lalu.
Lima proyek tersebut yakni, proyek Bendungan Karalloe yang menelan anggaran sebesar Rp584 miliar, Bendungan Passeloreng dengan nilai proyek Rp800 miliar, Bendungan Pamukkulu dengan nilai proyek Rp992 miliar, Bendungan Jenelata nilai proyek Rp1,6 triliun, serta Bendungan Baliase, nilai proyek sebesar Rp 1,3 triliun.
Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah memastikan pengerjaan proyek strategis nasional saat ini semuanya sudah berjalan, meski sebelumnya terhalang pembebasan lahan.
Agar pembangunannya selesai tetap waktu, tegas NA sapaan akrabnya, dibutuhkan penguatan kerjasama antara pemerintah kabupaten, kejaksaan negeri, kejaksaan tinggi dan badan pertanahan. Bahkan, ujar NA, dampaknya-pun telah dirasakan oleh Pemprov Sulsel.
“Ini kan sebenarnya sudah berjalan, untuk itu agar pembangunan PSN di Sulsel dapat selesai, maka diperkuat kerjasama dengan BPN dengan kejati, pemkab serta kejari,” ujar Nurdin, Rabu (6/2).
Lebih jauh Nurdin mengatakan, PSN di Sulsel hampir rata-rata tidak ada kendala. Ia minta seluruh pihak terkait agar bisa duduk bersama untuk menyelesaikan kendala jika ada seperti pembebasan lahan.
“Alhamdulillah tidak ada kendala, kuncinya bagaimana sinergi. Ada kendala di sini kita duduk bersama, kita bisa menyelesaikan,” ucap Nurdin.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jenneberang (BBWSPJ), Supardji, menyebutkan, pengerjaan proyek strategis nasional di Sulsel masih didominasi kendala pembebasan lahan.
Supardji menegaskan, PSN tersebut pada dasarnya tidak memiliki kendala serius. Kendalanya hanya pada pembebasan lahan saja.
Seperti, ujar Suparji, pada pembangunan bendungan Pammukulu di Kabupaten Takalar yang terkendala pembebasan lahan dan pembangunan bendungan Baliase yang juga terkendala pembebasan jaringan.
“Jenelanta saat ini proses pembangunan, mudah-mudahan cepat selesai. Begitu-pun dengan bendungan Paseloreng,” ujarnya.
Sementara pembangunan bendungan Karaengloe, sambung Supardji, juga ditargetkan rampung tahun ini, sedangkan pembangunan bendungan Pammukulu sementara pembebasan lahan, dan bendungan Jenelanta sementara desain.
“Agar seluruh pembangunan bendungan ini dapat selesai tepat waktu, kita terus berkoordinasi dengan pemprov , sehingga kebutuhan masyarakat itu cepat terpenuhi utamanya ketahanan air,” ucap Supardji.
Selain dapat memenuhi kebutuhan air di Sulsel, tambahnya, bendungan yang dibangun di beberapa wilayah tersebut juga difungsikan untuk memenuhi pengairan di sektor pertanian di Sulsel.
Apalagi, kata dia,, Sulsel merupakan wilayah pemasok pangan dibeberapa wilayah di Indonesia. Untuk itu, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pemprov sehingga ketika ibu kota negara sudah pindah di Kalimantan, Sulsel bisa menjadi penyangga utama.
“Sulsel ini pemasok pangan nasional dengan adanya ibu kota baru, bisa di pasok semua, dan dapat dipenuhi,” tutupnya.(nug)

