MAKASSAR, BKM — Industri perhotelan merupakan salah satu sektor usaha yang cukup terkena dampak pandemi covid-19. Sepinya tamu dan tidak ada kegiatan MICE membuat pengelola hotel tak dapat pemasukan. Akibatnya, selain sulit untuk membayar gaji karyawan, sejumlah hotel juga kewalahan menyelesaikan kewajiban pada sejumlah fasilitas yang disiapkan pihak ketiga, seperti listrik.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga, bahkan mengajukan usulan kepada PLN agar ada penundaan pembayaran dilakukan karena bisnis hotel makin berat. Hotel yang berani tetap beroperasi hanya dihitung jari.
“Itupun tingkat okupansinya hanya 2-4 persen. Untuk biaya operasional saja sangat berat. Makanya kita minta penundaan bayar tagihan listrik bisa sampai Agustus,” ujarnya.
Anggiat menambahkan, hotel yang masih beroperasi pun sudah merumahkan sebagian karyawannya karena makin berat kondisi. Penutupan direncanakan berlangsung hingga 31 Mei. Saat ini ada sekitar 39 hotel tutup.
“Ada dua di Gowa. Sisanya di Makassar tentu saja. Sudah ada 1.500 lebih karyawan dirumahkan. Kalau pandemi tak berakhir, bisa saja penutupan hotel makin panjang waktunya,” tandasnya.
Menyikapi hal itu, Manajer Komunikasi PLN Sulselrabar Eko Wahyu Prasongko, mengatakan memang ada usulan insentif dari pihak hotel. Terutama imbas dari pendapatan mereka yang menurun. Ada pengajuan permintaan tunda bayar.
“Kita tentu pertimbangkan. Namun untuk sementara hanya hingga rekening April saja,” ungkapnya.
Kata dia, pihaknya tentu mengkaji lagi bila PHRI meminta ada penundaan pembayaran hingga Agustus. PLN kata dia, sudah ada insentif yang diberikan kepada masyarakat golongan tertentu. Ada program listrik gratis, token gratis, dan diskon 50 persen.
“Kalau untuk permintaan hotel tunda ke Agustus kita lihat dahulu bagaimana. Dampak covid-19 sebenarnya juga dirasakan PLN,” imbuhnya.
Paket Isolasi Mandiri
Di tengah keterpurukan akibat dampak wabah covid-19, sejumlah pengelola hotel menawarkan layanan berbeda. Salah satunya paket isolasi mandiri bagi masyarakat.
Hanya saja, hingga saat ini penawaran tersebut belum mendapat respons positif. Warga lebih memilih berdiam diri. Kalau pun ada yang harus menjalani isolasi mandiri, mereka melakukannya di rumah masing-masing.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga, mengakui hal tersebut. Kata dia, paket isolasi mandiri yang coba ditawarkan lima hotel di Makassar belum juga dapat membangkitkan tingkat hunian hotel. Sejak ditawarkan, hingga saat ini belum ada satu pun yang membooking paket tersebut.
”Untuk saat ini ada lima hotel yang menawarkan (paket isolasi mandiri). Yang lainnya tutup sementara. Tapi hingga saat ini belum ada yang booking. Masih sebatas bertanya-tanya saja. Kondisi ini membuat kita semakin terpuruk,” ujar Anggiat yang dihubungi, Minggu (12/4).
Adapun hotel yang memberi penawaran paket tersebut, yakni Claro Makassar dengan harga Rp12 juta per kamar untuk waktu isolasi 14 hari. Hotel The Rinra menawarkan Rp13,5 juta per kamar. Claro Kendari dibanderol dengan harga Rp9,5 juta per kamar. Sedangkan Hotel Dalton dan Almadera memberikan harga yang sama, yakni Rp7,5 juta per kamar. Semua paket ditawarkan dengan kelengkapan dan penjagaan kebersihan secara ketat.
“Ini bagian dari upaya yang bisa kami lakukan di tengah wabah ini. Tapi sepertinya belum bisa menarik minat masyarakat. Apalagi kita tahu kondisi ekonomi juga turun dan beban biaya semakin tinggi. Penawaran ini belum ada batasnya, masyarakat bisa booking paket ini,” tuturnya.
Dijelaskan Anggiat, paket isolasi mandiri di hotel ini bisa dimanfaatkan oleh warga bukan hanya untuk mangarantina diri selama 14 hari. Tapi juga dapat dinikmati pada bulan ramadan mendatang.
Tamu akan mendapatkan fasilitas seperti sarapan, makan siang dan malam yang diantarkan ke kamar. Ada pula fasilitas laundry dan layanan doctor on call 24 jam, yang diberikan selama tamu menginap.
Selain itu, di setiap kamar akan disediakan hand sanitizer, masker dan air mineral sebanyak 3 liter setiap hari. Hotel-hotel PHI juga menyediakan wastafel untuk mencuci tangan di bagian depan lobi, melakukan pengecekan suhu tubuh kepada setiap orang yang akan memasuki area hotel tidak terkecuali karyawan. Mewajibkan semua karyawan mengenakan sarung tangan dan masker, serta melakukan sterilisasi dengan menyemprotkan cairan disinfektan terhadap barang bawaan tamu. (rhm-ita)

