MAKASSAR, BKM– Pengerjaan jalan tol layang AP Petta Rani dipastikan molor dari target awalnya, Juli mendatang.
Salah satu kendala yang menyebabkan molornya mega proyek tersebut adalah, terlambatnya sejumlah bahan yang dibutuhkan. Apalagi dengan adanya pandemo virus corona, dipastikan jika jalan tol layang pertama di Indonesia Timur itu tidak bisa rampung sesuai jadwal.
Menyikapi persoalan tersebut, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) meminta dilakukan evaluasi target penyelesaiannya.
Kepala BPJT, Danang Parikesit, mengatakan, saat ini memang tidak ada moratorium atau penghentian pengerjaan konstruksi proyek. Pengerjaan tetap namun kontraktor mesti menerapkan aturan ketat protokol terkait covid-19.
“Kita juga mendorong pengerjaan menggunakan teknologi. Bukan lagi padat karya yang risiko terpapar covid-19 cukup tinggi,” ungkap Danang.
Dia menambahkan, pihaknya sebenarnya sudah meminta kepada kontraktor proyek agar melakukan assesment proyek. Mesti melakukan kalkulasi ulang jadwal penyelesaian dan pengoperasian jalan tol.
“Jadi kita minta dahulu mereka lakukan assesment, kapan kemungkinan rampung dan sebagainya karena situasi kan dinamis. Termasuk untuk proyek tol layang Pettarani,” jelasnya.
Sementara itu, Dirut PT BMN-JTSE, Anwar Toha menambahkan pihaknya menunggu konsultan melakukan kajian ulang.
Diakuinya memang pihaknya sangat pesimis bisa mengejar target Juli. Apalagi belum ada tanda-tanda pandemi covid-19 berakhir.
“Kita sebenarnya target fungsional Juli dan beroperasi penuh September. Bila melihat situasi yang ada bisa saja molor hingga November,” bebernya.
Kata dia, kondisi ini ditambah lagi dengan terhambatnya sejumlah bahan untuk proyek. Bahkan 30 persen bahan mesti diimpor dan terhambat karena sampai saat ini belum ada informasi pengiriman dari Tiongkok.
“Mungkin perusahaannya tutup sementara. Kita belum tahu bagaimana. Kalau dari Malaysia, barangnya sudah sampai,” tuturnya.
Pihaknya kini memaksimalkan pekerjaan yang mengandalkan bahan lokal. Pengerjaan pier head terakhir disebutnya sudah rampung. Kini prioritas pada pemasangan box girder.
“Pier head 58 sudah aman. Kita tetap memaksimalkan pekerjaan. Belum ada pemikiran untuk perpanjangan. Kita tetap maksimalkan apa yang bisa tuntas hingga Juli,” tukasnya. (rhm)

