PANDEMI covid-19 membuat tatanan hidup masyarakat berubah untuk sementara waktu. Termasuk dalam mekanisme jual beli yang banyak beralih ke sistem daring. Tak terkecuali di bisnis kuliner.
ATURAN pemerintah yang meminta para pedagang makanan maupun minuman mempromosikan dagangannya secara online, membuat banyak orang beralih ke sistem dalam jaringan (daring). Khususnya di bulan suci Ramadan.
Dengan memanfaatkan media sosial, mulai Facebook, WhatsApp, hingga Instagram, promosi dilakukan. Bukan hanya dari warung tempat berbisnis, namun juga langsung dari rumah.
Khusus melalui Facebook, ada yang menawarkan dagangannya melalui akun pribadi, atau sengaja membuat akun bisnis, lewat grup-grup dagang, atau live.
Seperti yang dilakoni seorang ibu rumah tangga bernama Fakra. Wanita berjilbab ini gencar mempromosikan kuliner buatannya melalui akun Facebook maupun WA. Akun FB untuk mempromosikan bisnis kulinernya dinamakan Dapur MamaAji.
Hampir tiap hari, selama Ramadan ini, Fakra memposting sejumlah menu takjil atau berbuka puasa, hingga menu ‘berat’ untuk sahur.
Beragam menu menggugah selera yang ditawarkan. Di antaranya es pisang ijo, es pallu butung, es kacang ijo, hingga ayam palekko, buras, dan camilan seperti cokelat bonibol dan kacang ijo original.
Harga yang ditawarkan untuk setiap makanan menggugah selera tersebut bervariasi.
Untuk takjil seperti pallu butung, es kacang ijo, dan es pisang ijo, ditawarkan seharga Rp10 ribu per porsi.
Sementara untuk menu berat, tergantung banyaknya pesanan. Ayam palekko misalnya, ada yang dijual porsi standar seharga Rp20 ribu, medium Rp40 ribu, san porsi besar seharga Rp80 ribu.
Untuk buras seharga Rp3000 per ikat, sambal teri Rp25.000 per 200 gram, dan bumbu pecel Rp20.000 per 250 gram.
Dia mengatakan tertarik terjun ke bisnis kuliner karena memang doyan makan, cekrek-cekrek dan merekam video makanan yang sedang disantapnya.
“Saya itu doyan kulineran, cekrek-cekrek dan ngerekam video. Sampai sekarang masih jadi hobiku,” ungkap Fakra.
Dia mengaku mempromosikan dagangannya secara online cukup efektif. Hanya bermodal data internet, promosinya bisa terlihat sampai ke berbagai daerah.
Model transaksi pun cukup mudah. Konsumen tinggal menghubungi akun WA atau FB yang ada untuk memesan makanan yang diinginkan dengan menyertakanan alamat. Selanjutnya akan diantarkan langsung sampai di depan pintu. Pembayarannya pun bisa sistem transfer atau COD (bayar di tempat ketika makanan sudah tiba).
Dalam sehari, pesanan dari berbagai wilayah di Makassar berdatangan. Seperti buras yang menjadi salah satu menu andalannya. Dia bisa memproduksi ratusan ikat berdasarkan pesanan pelanggan.
Fakra mengaku, setelah mencicipi buras buatannya, banyak memesan lagi berulang-ulang. Itu karena dia mengutamakan kualitas dan rasa makanannya.
“Kualitas dan rasa makanan harus kita jaga supaya pelanggan puas menikmati dan memesan kembali produk makanan kita. Itu paling penting dalam bisnis kuliner. Selain itu, pengantarannya juga harus diperhatikan,” kata Fakra.
Dari bisnis kulinernya itu, Fakra bisa mengantongi omzet hingga jutaan rupiah dalam sehari. (rhm)

