DI SAAT yang lain memilih untuk beraktivitas di dalam rumah, tidak dengan nenek Jumania. Bahkan kebanyakan orang khawatir Jumania akan terpapar virus corona dari sampah yang ia pungut setiap hari.
Tapi baginya jika itu menyangkut urusan perut tak lagi membuat dirinya mundur.Apalagi kini, pendapatnnya dari hasil mengumpulkan botol bekas menurun dan hanya mampu membawa uang Rp5 ribu rupiah setiap hari.
Ia mengakui, semenjak wabah corona menerjang kota Makassar barang bekas dan botol bekas sangat sulit ia dapatkan. Dari pagi hingga sore hari botol bekas ia dapatkan hanya setengah karung.
“Sikedde mami ini nak, tidak cukup mi sekkre karung. Tidak bisa ditimbang juga, kah belum pi ganna (cukup). Kalau cukup mi baru bisa, bisa ji tapi sikedde ji di gappa (sedikit di dapat),” ungkapnya beberapa hari lalu.
Ia hanya bisa berharap ada bantuan yang didapatkannya, sebab kemampuannya kini dari hasil memulung tidak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pendapatanyya menjadi sedikit akibat banyak pemukiman yang ditutup, belum lagi rumah makan yang tidak buka sehingga mengumpulkan botol bekas menjadi sedikit.
“Kalau ada alhamdullilah, kah saya tidak tahu ki juga minta tolong sama siapa nak. Begini mi saja, asal tena di susahi orang, uang ta ji sendiri halal dan tidak minta-minta, biasa ji itu ada kasih ki tapi tidak na ku minta-minta,” bebernya.
Sambil mendorong dengan kondisi bungkuk, nenek Jumania tetap semangat dan mengeluh walaupun dirinya kadang singgah untuk mengelus tulangnya yang sakit akibat perjalanan mendorong gerobak yang jauh dan hanya satu botol minuman yang tersedia sebagai bekalnya memulung.
Rumahnya pun nenek Jumania mengaku dikelilingi banyak bahan plastik pulungan seperti kemasan minuman perbagai macam literan. Karena rumahnya berderet dengan rumah pemulung lainnya.
Sehingga setelah memulung dirinya mengumpulkan lagi botol tersebut untuk di bersihkan dan dimasukkan dalam karung hingga cukup untuk ditimbang. “Caddi ji Ballakku, banyak yang beginian (botol) kalau cukupmi baru ditimbang,” ujarnya.
Sambil merenung, Nenek Jumania bercerita bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ia andalkan untuk memberikannya uang, sejak suaminya mengindam penyakit TBC empat tahun terakhir dirinya hanya seorang diri mencari rezeki. Dirinya mengakui mempunyai anak dua, namun anaknya pergi meninggalkannya merantau di pulau kalimantan dan satunya lagi meninggal. Kini, ia tinggal bersama suami dan satu cucu yang dititipkan kepadanya.
“Mate peka nampa-nampa tenaku a yabo-yabo (Mati pa baru tidak pergi memulung). Kalau saya tinggal di rumah, mau makan apa kodong nak, ini saja belumpika makan kodong dari pagi. Suamiku tenamo na gassing kodong, nampa nia cucuku ku meninggalmi mama na, dan bapak na pergi tidak tahu kemana,” ungkapnya kepada penulis yang ditemui di jalan Borong Bambu, Makassar.(*)

