pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Alat Rapid Test Diragukan

Hasil Reaktif 20 Anggota Dewan, Uji Swab Negatif

GOWA, BKM — Hasil rapid test reaktif terhadap anggota DPRD Gowa memantik reaksi. Keraguan melingkupi para wakil rakyat terkait akurasi pada alat yang digunakan.
Karenanya hari ini, Senin (11/5), lembaga legislatif itu mengagendakan memanggil Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Langkah tersebut ditempuh, karena hasil tes cepat yang dilakukan Dinkes bagi anggota dewan berbeda dengan tes serupa yang dilaksanakan di klinik dokter.
Selain Dinkes, dewan juga memanggil Dinas Sosial. Pemanggilan ini menyusul banyaknya protes dari masyarakat terkait pembagian sembako menjelang penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kabupaten Gowa.
”Kita sudah layangkan surat pemanggilan untuk Dinkes dan Dinsos. Rencananya Senin (hari ini) akan dimintai klarifikasi,” ujar Wakil Ketua I DPRD Gowa Andi Tenri Indah, pekan lalu.
Indah menjelaskan, dewan ingin mengetahui lebih jauh dan mempertanyakan merek alat rapid test yang digunakan terhadap para legislator Gowa. Sebab, alat rapid test yang digunakan menunjukkan bahwa 20 legislator DPRD Gowa reaktif covid-19. Sementara, hasilnya non reaktif ketika para legislator itu memeriksakan diri kembali dengan alat rapid test berbeda pada klinik dokter. Apalagi setelah pemeriksaan swab, semuanya negatif.
“Teman-teman mesti mengeluarkan uang pribadi untuk memeriksa ulang. Kita curiga, jangan sampai alat rapid test yang digunakan sama seperti di Bali,” kata Indah.
Ia menyebut, kasus yang terjadi di Bali, ratusan warga di sebuah desa dinyatakan reaktif berdasarkan hasil pemeriksaan rapid test. Namun, ketika dilakukan pemeriksaan swab, semua dinyatakan negatif.
“Ini yang akan kita tanyakan kepada Dinas Kesehatan Gowa. Kita ingin minta penjelasannya,” tegas Indah.
Hal senada disampaikan anggota Komisi IV Diana Susanti Tunru. Legislator Fraksi Amanat Sejahtera ini mengatakan, DPRD Gowa harus mendengarkan penjelasan langsung dari Dinkes tentang merek alat rapid test yang digunakan. “Hari Senin kita rapat gabungan komisi,” kata Diana saat dihubungi.
Pelaksanaan rapid test di DPRD Gowa beberapa hari lalu memang dilakukan tim Dinkes Gowa. Hadir Kepala Bidang (Kabid) P2P Dinkes Gowa dr Gaffar. Hasilnya ketika itu, sebanyak 20 legislator dinyatakan reaktif.
”Setelah dilakukan rapid test secara mandiri di klinik dokter, hasilnya non reaktif. Bahkan dari hasil uji swab sehari setelahnya, hasilnya juga negatif semuanya,” ujar Indah yang juga ketua DPC Gerindra Gowa.
Menurut Indah, hasil uji swab tersebut diperoleh DPRD Gowa dari Dinkes pada hari Jumat (8/5). Karenanya, legislator Fraksi Partai Gerindra ini meyakini tidak ada wakil rakyat di Gowa  yang terpapar virus corona. Dia pun meragukan alat rapid test yang digunakan oleh Dinkes Gowa.
BKM mengonfirmasi hal ini ke Dinas Kesehatan Gowa, Minggu (10/5). Melalui Kabid Pencegahan dan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Gaffar, disampaikan bahwa wajar jika beberapa anggota DPRD Gowa mempertanyakan keakuratan alat medis yang digunakan dalam melakukan rapid test.
“Kami sangat memahami sikap anggota dewan. Sebenarnya informasi  terkait rapid test ini kami anggap sudah clear. Kami sudah jelaskan di konferensi pers beberapa hari lalu bersama Gugus Tugas Covid DPRD Gowa terkait dasar spesifikasi rapid test dan direkomendasi oleh siapa saja, baik dalam maupun luar negeri,” kata dr Gaffar melalui pesan WhatsApp.
Dikatakan dr Gaffar, pihaknya sangat menghargai setiap argumen anggota dewan yang terukur. “Saya yakin mereka semua orang cerdas dan pasti memiliki dasar argumentasi yang terukur. Tentu kami sangat menghargai itu. Terkait kualitas alat yang dipergunakan tim Gugus Covid-19 di Gowa (alat rapid test), kami yakin sudah melalui mekanisme persyaratan yang ada. Tentu dengan konsultasi ke pihak terkait dan atas rekomendasi Kementerian Kesehatan RI,” tambahnya.
Mantan Kepala Puskesmas Pallangga ini juga menerangkan, bahwa alat yang dipakai tim Gugus Covid-19 Gowa sudah mendapatkan standart FDA US dan sertifikat CE (Europa Certifikat).
“Dan yang paling penting sudah dilakukan uji klinis seperti dipersyaratkan semua bahan dan alat medis yang akan dipakai di dunia medis. Selain itu, yang kami ketahui alat ini dipakai di beberapa negara, termasuk Australia, Eropa dan negara lainnya. Di Indonesia sendiri beberapa rumah sakit di kabupaten/kota, termasuk beberapa rumah sakit di DKI Jakarta serta  provinsi yang ada di Indonesia memakai alat ini. Jadi alat ini bukan saja di Gowa yang memakainya,” beber dr Gaffar.
Terkait beberapa anggota dewan yang hasil tesnya reaktif , menurut dr Gaffar, itu hal biasa. “Semua orang punya potensi untuk reaktif, termasuk saya dan teman-teman petugas. Tidak perlu kita permasalahkan atau dibuat aib hingga akhirnya menjadi stigma. Stigma ini yang menjadi tantangan terbesar dalam memutus mata rantai covid-19. Kalaupun reaktif, kita lakukan protokol selanjutnya yaitu pemeriksaan PCR/swab, isolasi mandiri dan Alhamdulillah hasilnya semuanya negatif,” jelas dr Gaffar.
Dia lalu memberi satu contoh bahwa sehari setelah pemeriksaan  dengan alat rapid test yang sama di DPRD, tim Gugus Covid-9 Gowa juga melayani tes serupa untuk para ASN di Pemkab Gowa. Termasuk bagi wartawan, relawan Tagana, Satpol PP dan petugas posko, yang jumlahnya sekitar 100 orang. Hasilnya, hanya satu orang yang diketahui reaktif.
Begitu pun beberapa posko pintu masuk di perbatasan Gowa yang beberapa hari ini dilakukan pemeriksaan. Dari rapid test terhadap petugas jaga posko, belum ada yang reaktif.
Ditanya soal pemanggilan Dinkes ke DPRD, dr Gaffar mengatakan hal itu suatu yang positif. “Iya, saya yakin ini suatu hal positif. Mungkin anggota DPRD kita mau mendengarkan langsung penjelasan terhadap apa yang sudah dilakukan tim Gugus Covid-19. Terutama dalam upaya percepatan penanganan covid-19 di Gowa,” ujarnya.
Ia lalu menjelaskan, yang perlu dipahami bahwa rapid test seseorang yang reaktif itu belum tentu positif atau terpapar covid-19. Demikian pula sebaliknya, hasil rapid test yang nonreaktif juga belum tentu bebas dari penyakit ini atau tidak terpapar. Semuanya masih butuh proses. Perlu dikonfirmasi dengan PCR/swab.
”Rapid test inisangat membantu menscreaning pasien yang kita sasar saat ini dengan adanya ditemukan kasus positif yang baru. Hasil dari tracking kontak yang dirapid test reaktif, setelah itu diswab. Kami berharap semua pihak yang sudah melakukan rapid test untuk bisa mengikuti protokol yang ada,  yakni melakukan karantina  atau disolasi mandiri,” terangnya.
Terkait anggota dewan yang melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan hasilnya, menurut dr Gaffar, itu hal yang biasa.
“Untuk mengonfirmasi terkadang dibutuhkan second opini. Dan sebaiknya dalam proses konfirmasi ini dengan spesifikasi alat yang sama. Kebetulan alat rapid test yang beredar ada dua jenis. Yang pertama dengan dua  indikator, yaitu kontrol dan tes. Jenis kedua, terdapat tiga indikator yakni selain control, ada IgG dan IgM. Kebetulan yang dipakai di Dinas Kesehatan dengan tiga kontrol, orang bisa saja reaktif IgM nya atau IgG saja atau kedua-duanya. Tentu dengan penjelasan terkait perjalanan penyakitnya,” jelasnya. 
Idealnya, lanjut dr Gaffar, tidak membandingkan dengan alat yang hanya dua indikatornya. Selain itu, ada faktor yang memengaruhi, yaitu standar dari manufaktur di masing-masing merek yang beredar.
”Jadi banyak faktor yang memengaruhi. Atas dasar itu rapid tidak dijadikan alat diagnostik, tapi sangat membantu screaning dan selanjutnya dipastikan di pemeriksaan PCR/Swab sebagai alat diagnostik. Dengan hasil ini barulah bisa dikatakan yang bersangkutan negatif atau positif covid-19,” papar dr Gaffar. (sar)



×


Alat Rapid Test Diragukan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar