MAKASSAR, BKM — Partai Golkar memberi pressure. Mereka mengeluarkan ancaman akan hengkang dari koalisi dan meninggalkan bakal calon wali kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, manakala menggaet politisi Partai Nasdem Hj Fatmawati Rusdi sebagai bakal calon wakil wali kota.
“Iya, kita akan keluar dari koalisi,” tegas Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel HA Kadir Halid, Senin (22/6).
Hal sama disampaikan Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel Arfandi Idris. Namun, ia menyertakan pertimbangannya. “Tentu Golkar akan pertimbangkan lagi atau meninjau kembali surat penetapan Danny sebagai bakal calon wali kota. Ini perlu dipahami, Golkar tidak mungkin bisa memberi dukungan tanpa menggandeng kader partai kami. Namun demikian tentu kita berharap bahwa ada penjelasan dari Danny apa dan bagaimana penetapan bakal calon wakilnya, karena Golkar berpegang pada Danny meninta berpasangan dengan kader Partai Golkar,” jelas Arfandi, kemarin.
Juru bicara Golkar Sulsel Muhammad Risman Pasigai yang dihubungi terpisah, mengaku belum mendapat informasi tersebut.
“Kami belum dapat info secara langsung dari Pak Danny. Namun bagi kami di Golkar, mendukung Danny adalah keputusan politik yang besar. Jadi kalau memang Danny memilih yang lain selain kader Partai Golkar, maka kami akan tunggu Danny komunikasi dengan pimpinan Partai Golkar,” terangnya.
Risman kembali mengingatkan Danny bahwa rekomendasi yang diserahkan di CCC (Celebes Convention Centre) beberapa waktu lalu bukan main-main. “Perlu diketahui surat tugas Danny itu diserahkan langsung oleh Ketua Umum Partai Golkar Airangga Hartarto. Jadi tidak main-main,” tegasnya.
Danny memang mendapat sinyal dari Partai Nasdem agar berpasangan dengan Hj Fatmawati Rusdi sebagai tandem di pilwali Makassar 9 Desember mendatang. Danny sebelumnya telah mendapat rekomendasi dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem Surya Paloh. Sementara Fatmawati Rusdi merupakan salah satu pengurus di DPP Partai Nasdem.
Wacana Danny berpaket dengan Fatmawati yang juga istri Ketua DPW Nasdem Sulsel Rusdi Masse beredar sejak sepekan terakhir.
Partai Nasdem Sulsel bahkan menyambut positif mengenai wacana pencalonannya di pilwali nanti.
Untuk itu, Nasdem yang juga partai pemenang Pemilu 2019 di Kota Makassar ini, sedang mempertimbangkan mengenai kemungkinan menduetkan Danny dengan Fatmawati. Pasalnya, keduanya dinilai bisa saling melengkapi.
“Peluang ke situ (duet Danny-Fatmawati) sangat terbuka. Kita sedang mempertimbangkannya, sambil melihat sejauh mana potensi keterpilihannya melalui hasil survei,” ujar Sekretaris DPW Nasdem Sulsel Syahruddin Alrif, Senin (22/6).
Syaharuddin Alrif yang juga wakil ketua DPRD Sulsel ini menambahkan, partainya memang sudah memberikan surat tugas usungan ke Danny. Hanya saja, sejauh ini belum diputuskan siapa yang bakal dijadikan wakil. Karena itu, kemunculan Fatmawati Rusdi bisa menjadi salah satu opsi atau pilihan.
“Kita tak mau asal-asalan mendorong pasangan yang kita usung di setiap pilkada, termasuk Makassar. Makanya, kita berusaha mengusung yang terbaik dengan beberapa variabel dalam menentukan dan menilainya,” jelas Syahar, sapaan akrabnya.
Pihaknya tak menampik jika sebagian pengurus dan kader partainya menginginkan duet Danny-Fatmawati. Alasannya, selain bisa saling melengkapi, juga pertimbangan keduanya punya pengalaman dan kapasitas mumpuni.
“Kalau memang dianggap cocok, dan sama-sama tidak keberatan maju berpasangan, kenapa tidak. Cuma itu tadi, kita tidak asal mengusung begitu saja. Ada pertimbangan dan variabel yang kita jadikan dasar. Nasdem kan ingin usungannya menang,” terangnya.
Sejauh ini, Danny yang pernah menjabat wali kota Makassar belum memutuskan siapa yang dijadikan pasangan untuk maju. Meski demikian, beberapa nama sering dikaitkan layak menjadi pendamping.
Ketika dihubungi melalui telepon selular, Senin petang (22/6), Danny memberi jawaban diplomatis. Kata dia, semua kembali dan bergantung dengan pembicaraan partai.
Tentang Nasdem yang mengajukan pinangan dan menawarkan cawali, Danny menyebut bisa saja dilakukan. Karena Nasdem memang partai pengusungnya. Begitu pula dengan Partai Golkar.
”Masing-masing partai mengajukan sayu calon wakil. Tapi sampai sekarang belum ada yang ditetapkan. Jadi kembali kepada pembicaraan partai pengusung,” ujarnya.
Selain nama Fatmawati, juga ada nama Irman Yasin Limpo, Andi Yagkin Padjalangi serta putra sulung Ketua DPD I Golkar Sulsel Nurdin Halid, Andi Zunnun.
Irman telah mengantongi rekomendasi dari PAN. Andi yagkin didorong oleh PDIP, serta Zunnun didukung oleh elit Golkar.
Fatmawati juga mengaku siap maju di pilwali Makassar bila memang mendapat penugasan dari partainya. Ia tak mempermasalahkan posisi 01 maupun 02, sepanjang itu yang terbaik menurut kajian partainya dan bacaan hasil survei.
Penuh Ketidakpastian
Seperti apa peluang Danny-Fatmawati jika maju berpasangan di pilwali Makassar? Pengamat politik Dr Arief Wicaksono menilai pasangan tersebut bisa dan ada peluang.
“Bisa itu. Ada peluang buat Pak Danny. Apalagi kan Nasdem itu adalah partainya sendiri, dan sudah sejak jauh hari Pak Surya Paloh sudah bicara juga soal dukungannya. Artinya, jika Pak Danny berpaket dengan Bu Fatma, yang notabene adalah istri dari Ketua Nasdem Sulsel RMS, maka peluang itu terbuka lebar,” ujar Arief, kemarin.
Masalahnya, bagaimana dengan Zunnun yang sudah sempat didekati oleh Pak Danny waktu acara di CCC? Karena Zunnun juga menentukan dukungan Golkar.
Jika paket Danny-Fatma jadi, maka dukungan Golkar kemungkinan akan ditarik. Pasangan itu pun akan bekerja keras lagi dari awal untuk mencukupkan kursi dukungan.
Belum lagi jika ada sentimen politik anti Nasdem yang menguat, mengingat potensi Nasdem di pemilu 2019 kemarin yang sangat maksimal dari sisi perolehan kursi parlemen.
“Jadi mungkin itu yang harus dipertimbangkan jika Bu Fatma memutuskan untuk berpasangan dengan Pak Danny,” jelasnya.
Dosen politik Unismuh Dr Luhur A Prianto, mengemukakan bahwa posisi politik Danny ini masih penuh ketidakpastian. Terutama karena sikap Partai Nasdem yang mengatur ritme kontestasi secara paralel dengan pilkada daerah lain.
Menurutnya, Danny masih tersandera kepentingan elite Nasdem dalam menentukan pasangan wakil. Eksperimen untuk mencukupkan dukungan dari Partai Golkar, juga tidak mulus. Terutama karena penerimaan yang rendah dari Nasdem atas Zunnun NH, calon wakil wal ikota yang disodorkan oleh Golkar. Rivalitas Nasdem dan Golkar memang cukup kompetitif di pilkada serentak 2020 ini.
”Masih tersedia kemungkinan-kemungkinan untuk Danny di kontestasi. Bisa Danny-Zunnun, Danny-None, Danny-Fatma atau kemungkinan lain seperti pasangan None-Fatma. Tantangan terbesar bagi Danny adalah memastikan Nasdem untuk tetap mendukungnya dan menerima calon pasangan yang di pilihnya. Melepas dukungan Golkar merupakan pilihan yang berisiko bagi masa depan Danny di kontestasi pilwali,” jelas Luhur.
Perihal Fatmawati Rusdi, tentu ia punya hak politik untuk dipilih. Pun tidak ada hal yang menghalanginya untuk berkontestasi di pilwali Makassar 2020. Apalagi ia bagian dari elite Nasdem, peraih kursi terbanyak di DPRD Kota Makassar. Hanya saja, selama ini investasi politik Fatma lebih banyak dilakukan di luar Makassar. Kehadirannya secara tiba-tiba di langgam kontestasi, bisa dilihat sebagai faktor yang bisa menggoyang dukungan sementara Nasdem pada Danny. ”Alih-alih sebagai calon pasangan, untuk menjadi kontestan yang kuat, sebaiknya Fatma membuktikan kapasitas personal dan jejaring politiknya bagi masyarakat kota Makassar. Terutama di era pandemi seperti sekarang ini,” tandasnya.
Pengamat politik dari Unhas Dr Andi Haris mengemukakan, bila semua tergantung pada lobi politik dan peluang menang di pilwali ditentukan oleh jejak rekam kerja dan popularitas mereka di mata publik. (rif)

