MAKASSAR, BKM — Beberapa rumah sakit rujukan pasien covid-19 di Sulawesi Selatan kini mulai penuh. Sebelumnya, Gubernur HM Nurdin Abdullah telah menunjuk lima rumah sakit tempat perawatan dan penanganan pasien covid-19, yakni RSUP Wahidin, RS Pendidikan Unhas, RSUK Dadi, RS Sayang Rakyat, dan RSUD Daya.
Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sulsel Safri Arif, membenarkan hal tersebut. Terkait okupansi rumah sakit, jika merujuk pada penambahan kasus per hari yang berada di angka 100 ke atas, bisa dikatakan sudah hampir penuh.
“Saya tidak bisa bilang penuh karena masih ada sekitar 50-an. Tapi khusus untuk di RS Dadi dan RSUD Daya sudah penuh,” beber Safri Arif.
Ia menyebutkan, kelima rumah sakit tersebut menjadi rujukan utama. Untuk menghindari terjadinya outbreak atau ledakan pasien dengan penambahan kasus perhari yang mencapai 100-200, Safri Arif meminta pemerintah harus siap untuk melakukan penanganan.
Sebagaimana diketahui, pada awal masuknya covid 19 di Sulsel, sebanyak 20 rumah sakit di Kota Makassar yang menjadi RS rujukan dan penyanggah. Sementara total untuk Sulsel sebanyak 40. Sehingga jika terjadi outbreak, pasien bisa ditangani dan dirawat di RS lain yang ada di Makassar.
“Itu bisa kita maksimalkan, katakanlah seperti saat ini, RSUD Haji misalnya, kenapa tidak. RS Tajudin Chalid, kenapa tidak. Kan awalnya menjadi rujukan nasional. RS Pelamonia dan lain sebenarnya siap kalau terjadi outbreak,” jelasnya.
Sementara untuk menampung masyarakat yang terinfeksi corona tanpa harus mendapatkan perawatan medis, mereka ditempatkan di hotel untuk mengikuti masa inkubasi selama 14 hari.
“Instruksi Pak Gubernur, kita akan membuka isolasi mandiri di hotel-hotel. Jadi ini bisa memberi informasi ke masyarakat (RS yang hampir penuh), tapi juga kita melakukan antisipasi,” terangnya.
Sementara itu, tim ahli data dan epidemologi gugus tugas covid Sulsel Ridwan Aminuddin menyampaikan, selain kapasitas rumah sakit, masalah lain yang perlu diwaspadai ialah penutupan RS dan puskesmas. Sejauh ini ada dua daerah yang melakukan penutupan RS dan puskesmas, yakni Kabupaten Jeneponto dan Takalar.
Penutupan tersebut dilakukan karena permintaan dari masyarakat lantaran banyaknya tenaga medis yang terinfeksi virus corona. Menurutnya, ada kecenderungan perluasan dampak paparan covid kepada nakes yang ada di daerah.
“Beberapa kabupaten/kota yang melaporkan nakesnya, utamanya yang bekerja di RS dan Puskesmas. Misal di Takalar sudah dua atau tiga minggu lalu sudah menutup RS-nya. Kemudian beberapa puskemas di Jeneponto juga akan ditutup,” jelasnya.
Hal tersebut menjadi keprihatinan, kata Ridwan. Naker terpapar saat melakukan pelayanan terhadap pasien. Gejala yang dialami pasien berbeda-beda, sehingga mereka yang dilayani dengan standar pelayanan biasa memungkinkan menularkan virus kepada nakes.
Ubah Perilaku
Dewan Profesor Universitas Hasanuddin meminta agar masyarakat segera melakukan adaptasi dan perubahan pola perilaku, agar upaya penanggulangan penyebaran covis-19 bisa dilakukan dengan baik. Hal itu mengemuka dalam seminar daring seri kelima yang digelar, Kamis (16/7).
Ketua Dewan Professor Unhas Prof Mursalim, mengatakan seminar daring ini menjadi bagian dari keterlibatan aktif pihaknya untuk melakukan pengembangan pemikiran akademik dalam rangka membahas dan mencari solusi terhadap permasalahan bangsa.
“Di tengah krisis akibat situasi pandemi, kita membutuhkan keterlibatan semua unsur guna memikirkan bersama persoalan bangsa yang sampai sekarang belum memperoleh penyelesaian dan semakin meluas dampaknya. Kita harapkan seminar online ini akan menghasilkan output untuk menjadi rujukan bersama,” ungkapnya melalui aplikasi zoom meeting dan live streaming di kanal Youtube Senat Akademik Unhas.
Seminar mengusung tema; ‘Protokol Keperilakuan Menuju Tatanan Baru Dalam Perspektif Kearifan Lokal dan Kesalehan Sosial. Hadir sebagai narasumber Guru Besar Antropologi Universitas Gajah Mada Prof Irwan Abdullah, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu RI Prof Muhammad, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gajah Mada Prof Koentjoro, dan Dosen FIB Unhas Alwy Rachman. Sebanyak 300 peserta mengikuti webinar ini.
“Jangan sampai masyarakat secara keseluruhan menganggap ini bukan masalah, sehingga tidak ada upaya dalam melakukan perubahan perilaku. Olehnya itu, sangat penting kita satukan pandangan agar proses percepatan penanggulangan bisa berlangsung efektif,” tegas Prof Mursalim.
Guru Besar Antropologi UGM Prof Irwan Abdullah menuturkan, krisis pandemi bukan masalah baru dalam sejarah peradaban manusia. Sehingga masyarakat dituntut untuk melakukan adaptasi dan perubahan pola perilaku, agar upaya penanggulangan penyebaran covid-19 bisa diatasi dengan baik.
“Kita melihat bersama perkembangan kasus yang terus meningkat. Kasus ini akan turun ketika ada upaya perubahan perilaku masyarakat. Jika kita mengakumulasi energi nasional, dalam artian menata perilaku kesalehan secara global, maka kita akan mampu mengubah keadaan,” jelasnya.
Dalam memandang kasus covid-19, Prof Irwan membaginya ke dalam beberapa landasan pemikiran. Di antaranya covid-19 sebagai prakondisi bagi great transformation yang menghadapkan manusia pada tantangan perubahan alam dan sosial. Covid-19 juga dipandang sebagai preseden bagi berlakunya sistem sosial baru dan tatanan global, sekaligus menjadi kondisi objektif yang memaksa adaptasi perilaku subjektif dan tatanan sosial baru. (ita-nug)

