MAKASSAR, BKM — Ahli kebatinan Padepokan Bawakaraeng Syekh Sayyed Abdullah menggelengkan kepala, kala menjawab kapan pandemi covid-19 berakhir. Sesaat itu juga dia menundukkan kepala, lalu memperbaiki letak duduknya.
Sebagai hasil konsentrasi yang ia lakukan, Syekh Abdullah menyebut serangan virus corona memungkinkan berakhir tahun 2021. Tetapi ada pengecualian. Jika warga mematuhi peraturan pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, langkah memutus mata rantai penyebaran covid-19 bisa berhasil. Minimal dalam waktu dekat di tahun 2020.
Ditemui di kediamannya, Minggu (19/7), Sayyed Abdullah menuturkan, untuk melumpuhkan serangan virus covid-19, semua harus bersinergi. Terutama strategi yang pada umumnya sudah diterapkan masyarakat luas dalam hal protokol kesehatan itu.
Warga harus membuat benteng pertahanan yang kokoh dalam dua unsur. Pertama, menangkis serangan dari luar melalui penggunaan masker. Kenapa virus dilawan dengan masker? Karena virus menyerang melalui udara. Sehingga dengan masker, penulasarannya bisa dicegah. Kemudian mencudi tangan dengan air dan sabun.
”Kedua, warga harus melakukan perlawanan dari dalam tubuh dengan pola meningkatkan ketahanan tubuh (immun). Ketahanan tubuh ini berfungsi sebagai benteng terkuat. Apapun yang dilakukan penyerang tak masalah, karena penjaga gawang diandalkan,” terangnya memberi perumpamaan.
Untuk menjaga daya tahan tubuh, mengonsumsi madu menjadi salah satunya. Termasuk meminum sari jus jahe merah yang direbus. Dan yang belum banyak diketahui selama ini, yakni meminum gula aren yang masih dalam proses tanak.
”Jahe merah itu untuk menghentikan batuk serta gatal pada tenggorokan. Sari gula aren (bahan gula sebelum kental), untuk memperbaiki sel-sel jaringan tubuh, khususnya jaringan paru-paru,” jelasnya.
Terkait klaim sari gula aren bisa mencegah covid-19, BKM menghubungi Daeng Nassa dan Dahlia, Minggu (19/7). Warga Desa Lauwa, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa ini sudah cukup lama menggeluti pembuatan gula aren.
Menurutnya, pada kondisi tertentu bahan baku gula aren yang ditanak dan belum kental, bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dapat memperbaiki jaringan paru-paru yang terinfeksi virus. Hal ini didasarkan pada sifat dan bahan aktif yang dikandungnya.
”Sudah banyak warga dari luar yang datang untuk mengonsumi gula aren yang sementara kami masak. Katanya untuk mencegah corona,” tutur Daeng Nassa.
Konsumsi Madu
Dr Yuliana Syam,MKes, dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) mengatakan, salah satu pola dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau IL-6 bisa dengan mengonsumsi madu 0,23 ml/20 g BB. Atau setara dengan enam dan tujuh sendok makan bagi manusia setiap harinya dalam kondisi sehat.
Pada kondisi infeksi, pemberian madu dosis 0,27 ml/20 g BB atau madu 0,27 ml/20 g BB dilakukan 24 jam dan 74 jam setelah infeksi. Atau setara dengan tujuh sendok pada manusia setiap harinya akan meningkatkan ekspresi IL-6.
Wakil Bidang Akademik PSIK FK-Unhas itu menyebut, sifat madu yang juga sebagai antibakteri, terutama didasarkan pada fisiknya sifat dan bahan aktif yang dikandungnya. Pertama, madu memiliki efek osmotik, menjaga kelembaban dari lingkungan dan dehidrasi bakteri. Kedua, nilai pH madu yang mencapai antara 3,2 dan 4,5 dengan keasaman ini dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme, seperti e.coli, pseudomonas aeruginosa, spesies saimonella dan streptocossus pyogenes. Ketiga, mothylglioxal (MGO) adalah salah satu fitokimia faktor dengan aktivitas antibakteri yang telah diidentifikasi dalam MH. (zai/rus)

