pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Penduduk Miskin Sulsel Kini 776.830 Jiwa

MAKASSAR, BKM — Penduduk miskin di Sulawesi Selatan bertambah secara signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, jumlah warga miskin di daerah ini pada Maret 2020 sebanyak 776.830 jiwa.
Angka tersebut mengalami peningkatan sebanyak 17.250 jiwa terhadap September 2019, dan meningkat 9.030 jiwa terhadap Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 8,72 persen. Naik sebesar 0,16 poin dari September 2019 dan naik 0,03 poin dari Maret 2019.
Persentase kenaikan ini terjadi, baik di perkotaan maupun perdesaan selama periode September 2019-Maret 2020. Pada Maret 2020, garis kemiskinan sebesar Rp350.265 per kapita per bulan. Komposisinya, kemiskinan makanan sebesar Rp263.690 per kapita per bulan (75,28 persen), dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp86.574 per kapita per bulan (24,27 persen).
Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah menyebut, komoditas makanan yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, bandeng, kue basah, gula pasir, dan mi instan. ”Untuk komoditas bukan makanan, kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi,” jelas Yos dalam keterangan pers di kantornya, Senin (20/7).
Ia menuturkan, meningkatnya angka masyarakat di daerah kabupaten/kota yang rentan miskin, juga dipicu oleh pandemi covid-19. Masyarakat pun harus menjalankan protokol kesehatan dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
”Sejumlah pelaku ekonomi dan masyarakat sama-sama mempunyai perasaan khawatir semenjak wabah covid-19 di Sulsel. Ditambah lagi masyarakat harus menjalankan protokol kesehatan,” jelas Yos.
Secara absolut selama periode September 2019-Maret 2020, penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami peningkatan 11.410 jiwa. Demikian pula di daerah perdesaan, meningkat sebesar 5.840 jiwa. Persentase penduduk miskin di kedua wilayah tersebut mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,27 dan 0,007 poin persen.

Ramai PHK

Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) Anas Iswanto Anwar, mengatakan sepanjang masa pandemi covid-19 belum dapat diselesaikan, maka perekonomian tidak bisa naik.
“Mengapa kemiskinan di Sulsel bisa terus naik dan kenaikannya ini dengan jumlah besar? Pertama, sejak Maret-Juni kemarin ramai terjadi PHK secara besar-besaran. Belum lagi beberapa harga kebutuhan pokok naik, beberapa usaha tutup dan bisnis ikut terganggu. Tidak heran jika berdampak pada jumlah kemiskinan. Sementara pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari sudah tidak ada lagi,” terang Anas yang dihubungi, Senin (20/7).
Dalam kondisi seperti ini, menurutnya, kelompok menengah paling rentan untuk kembali menambah jumlah data kemiskinan baru. “Kelompok menengah tanggung ini yang harusnya didorong oleh pemerintah bagaimana tidak menambah angka kemiskinan. Untuk dan yang terlanjur masuk di angka miskin, dicarikan solusinya. Seperti pemerintah harus menjaga biaya hidup agar tetap bisa kelompok ini tidak jatuh kembali,” jelasnya.
Kebijakan-kebijakan yang ada, seharusnya menjaga agar masyarakat tidak menjadi miskin. Dan yang berada di kelas menengah tanggung tidak jatuh miskin kembali. Ini adalah tugas berat pemerintah di tengah masa pandemi.
“Kondisi ini akan sampai di triwulan berikutnya. Bahkan jumlahnya akan bertambah jika situasi sekarang belum bisa diatasi,” ucapnya.
Selain itu, di tengah situasi ini, solusi lain untuk menekan kemiskinan di tengah pandemi adalah pengusaha lokal harus melihat pasar-pasar yang dibutuhkan dan memiliki daya beli tinggi.
“Kondisinya sekarang jangan hanya menjadi penonton, dan asing memanfaatkan situasi ini. Pemerintah sebenarnya mampu mengatasi masalah ini. Caranya, dengan membuat regulasi terkait sistem pemberdayaan masyarakat ke bawah,” jelasnya. (nug-ita)




×


Penduduk Miskin Sulsel Kini 776.830 Jiwa

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar