PANDEMI covid-19 telah mengubah banyak perilaku masyarakat. Termasuk hobinya. Kalangan ibu-ibu yang kini lebih banyak tinggal di rumah, menyalurkannya dengan menanam bunga. Mereka yang bergelut di jenis usaha ini pun mampu meraup rupiah dari bisnisnya.
DI SEBUAH dusun bernama Teko, Desa Pallantikang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Satu dusun ini seluruh warganya bermata pencaharian menjual aneka bunga. Teko pun dikenal sebagai sentra penjualan bunga, mulai dari berkelas dan berharga mahal hingga bunga liar.
Duki Dg Rannu, salah satu penjual bunga di Teko. Ia cukup mendapat berkah dari kebiasaan menanam bunga saat ini. Tempat jualannya selalu ramai pengunjung.
Daeng Rannu, begitu wanita ini akrab disapa. Posturnya sedang. Mengenakan hijab ketika ditemui.
Kata dia, selama pandemi dirinya serta pera penjual bunga di dusunnya menjadi sering dikunjungi pecinta bunga. Bahkan berasal dari luar Kabupaten Gowa.
Ia lalu berkisah tentang awal memulai usahanya. Kala itu dirinya hanya berbekal lima pot bunga. Itupun bunga tidak berkelas, namun cantik. Yakni bunga tunisia, berdaun kecil dengan bunga cantik warna ungu dan pink mirip terompet, serta bunga jam sembilan. Bunga ini dimilikinya sebanyak lima pot. Tidak disangka, ada orang lewat depan rumahnya dan meminta beli bunganya..
” Waktu itu sekitar lima tahun lalu, lima pot bunga yang saya punya dibeli orang. Harganya cuma Rp5.000-an hingga Rp25 ribuan. Setelah orang beli, saya pun mulai berpikir kenapa tidak saya kembangkan dan perbanyak bunga yang saya jual. Akhirnya saya pun mulai mengembangkan usaha kecil-kecilan ini. Kemudian saya tinggalkan pekerjaan saya sebagai tukang kebun di lapangan golf Padivalley. Dan sampai sekarang saya usaha bunga,” ungkap Dg Rannu, yang kini memiliki ratusan jenis bunga.
Ketika ditemui BKM, wanita single parent ini pun dengan lugas menyebutkan satu persatu jenis bunga yang dijualnya. Paling banyak adalah jenis geranium atau dipopulerkan orang dengan nama Ayu Tingting. Kemudian ada kembang kertas dan kroasia.
Galeri bunga milik Dg Rannu seluas kurang lebih 15 are. DI dalamnya pula berdiri tempat tinggalnya, dengan halaman yang dipenuhi sesak bunga aneka jenis.
“Rata-rata bunga yang saya kembangkan ini adalah lokalan. Jenisnya macam-macam. Kalau dari luar ada kiriman melalui teman. Dari semua tanaman bunga yang saya miliki, yang paling mahal adalah kembang kertas. Saya jual dengan harga antara Rp500 ribu sampai Rp 700 ribu. Kembang kertas ini jadi mahal karena jenisnya unik bunganya dua warna. Ini hasil tempelan,” beber Dg Rannu.
Diakui Dg Rannu, di awal membuka usaha ini omzetnya tidaklah terlalu besar. Namun kemudian terus bertambah. Hasil dari berjualan bunga, diakuinya mampu mencukupi kebutuhan hidup dirinya bersama putra semata wayangnya yang sudah remaja.
“Bunga terompet atau bunga tunisia adalah bunga pertama yang saya jual dengan harga Rp25 ribu. Lumayan. Sejak saya buka usaha pembibitan dan penjualan tanaman bunga, sudah banyak orang yang tahu tempat saya di Dusun Teko ini. Ada yang datang hanya borong tanaman yang saya bibit sendiri, khususnya kantor-kantor. Kayak bibit ayu tinting, aglo, puring. Yang paling banyak diminati pembeli adalah ayu tinting dan bunga jam sembilan,” beber Dg Rannu.
Kalau bunga ayu tinting yang dikembangkannya hingga saat ini ada 12 jenis. Harga per potnya bervariasi. Ada yang Rp5.000, Rp10.000, Rp15.000, Rp50.000 hingga Rp100 ribu. Selain itu, ada pula kaktus. Harganya Rp25 ribu hingga Rp100 ribu.
”Awalnya saya sempat ragu usaha ini bisa menghidupi keluarga saya. Namun setelah saya jalankan dan menyukainya, ternyata mampu menopang hidup saya sampai sekarang. Saudara-saudara saya, sepupu dan tetangga saya pun mulai mengikuti saya. Sehingga hampir seluruh rumah di Teko ini mengembangkan usaha penjualan bunga ini. Alhamdulillah, selain sebagai sumber pendapatan keluarga, kampung saya ini menjadi indah dan cantik,” jelasnya.
Salah seorang pembeli, Sriwisar Sumarni asal Bontomarannu mengatakan, jika ingin membeli bunga dia hanya ke Teko. Sebab di tempat ini ada banyak varian bunga.
“Saya biasa merekomendasikan ke teman-teman pencinta bunga untuk beli di Teko, termasuk di galerinya Dg Rannu ini karena murah dan banyak jenis,” kata Sriwisar Sumarni.
Dusun Teko tidak sulit dijangkau. Lokasi ini berada di kawasan lapangan olahraga golf Padivalley di Pattallassang. Jarak dari ibukota Kecamatan Pattallassang hanya berkisar 5 kilometer dengan jalanan aspal yang mulus. (sar)

