MAKASSAR, BKM — Menggeluti bisnis pada usia muda merupakan hal menarik dan tak ada salahnya untuk dicoba. Bayangkan, jika masa muda hanya dihabiskan untuk melakukan hal-hal kurang berguna, tentu akan terbuang percuma.
Pada era saat ini, semakin banyak anak muda yang memilih menjalankan bisnis sendiri. Konsep memulai bisnis sendiri ini dapat menjadi hal menyenangkan dan memberikan pengalaman baru.
Tetapi pada praktiknya, juga bisa memunculkan berbagai persoalan jika tidak dibarengi dengan kreativitas dan ketekunan dari para pemilik bisnis. Sebuah bisnis tak melulu sebatas soal menghasilkan barang yang bisa dikonsumsi.
Jika seseorang berminat terjun ke sebuah bisnis bisa dimulai dengan mengembangkan hobi dan kegemaran. Salah satu bisnis yang berkembang karena hobi dan kegemaran seperti yang dijalankan Creativepreneur, Raditya Dika.
Hobi menulis membawa dirinya meraup untung dari bisnis yang ia geluti. Bahkan berhasil melebarkan sayap menjadi seorang content creator hingga komedian, karena kreativitas yang dimilikinya.
Bersama Akhmad Sobirin, penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia bidang kewirausahaan 2016 yang dijuluki sebagai Pemberdaya Gula Semut asal Banyumas, Raditya Dika membagikan pengalamannya dalam webinar bertema ‘Ciptakan Kreativitas Dalam Berbisnis’ pada Sabtu petang (5/9) melalui channel Youtube SATU Indonesia.
Webinar ini merupakan hasil kolaborasi Astra bersama GK|Hebat akselerator yang membantu pelaku usaha mikro kecil dengan dipandu MC, Host sekaligus Podcaster, Ankatama.
”Dalam proses menjadi creativeprenuer saya mulai dari hal-hal dimana saya ketika itu sedang gelisah. Saya setiap mau nulis selalu berawal dari kegelisahan. Kegelisahan itu saya jadikan stand up comedy. Banyak hal berawal dari gelisah yang kemudian saya jadikan ide untuk menulis,” ucap Raditya, pria yang kini sukses berbisnis di industri kreatif.
Begitu juga dengan yang dialami Akhmad Sobirin, seorang pemuda asal Desa Semedo, Banyumas, Jawa Tengah. Diawali dari kreativitasnya mengubah pembuatan gula merah cetak menjadi gula semut yang digemari di pasar ekspor, Sobirin pun mulai mengalihkan produksi gula merah cetak menjadi gula semut pada tahun 2012, setelah dia mempertaruhkan hidupnya dengan meninggalkan Jakarta untuk kembali ke desa dan mencari peluang meningkatkan kesejahteraan kampung halamannya.
”Suatu hari, saya membaca gula semut diminati pasar ekspor dan bernilai jual tinggi. Saya meyakini ini peluang meningkatkan kesejahteraan keluarga dan orang di kampung halaman saya yang mayoritas menyadap dan mengolah gula kelapa,” ujar satu-satunya pemuda dari Desa Semedo yang berhasil mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah ini.
Di Desa Semedo terdapat 1.700 kepala keluarga yang lebih dari 50 persennya bekerja sebagai petani gula kelapa. Desa ini merupakan sentra penghasil gula kelapa terbesar di Banyumas dengan produksi mencapai 3 hingga 4 ton per hari.
Setiap pagi dan sore hari, menjadi potret aktivitas para petani yang terbiasa memanjat hampir 40 batang pohon kelapa untuk mengambil wadah air nira. Jika beruntung, air nira yang dihasilkan 20 puluh pohon kelapa dapat memproduksi 5 kilogram gula kelapa.
Jauh sebelum putaran ekonomi desa menggelora, pohon yang menjadi sumber kehidupan warga setempat tersebut hanya mampu menjual hasil produksi sebagai gula merah cetak dengan harga Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Dengan harga jual itu kehidupan ekonomi para petani pun terbilang pas-pasan.
Dengan usaha dan kreativitas Sobirin dalam mengubah produksi gula merah cetak menjadi gula semut, akhirnya mampu meningkatkan harga jual menjadi Rp20.000 per kilogram. Dan kini juga dijual secara online. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani penderas gula.
”Kreativitas adalah menciptakan mimpi-mimpi. Teruslah bergerak untuk menggapai mimpi tersebut,” ujarnya.
Upaya Sobirin dan Raditya Dika mengajak anak muda menjadi wirausahawan yang kreatif sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa. (mir)
Raditya dan Sobirin Ajak Anak Muda Ciptakan Kreativitas Dalam Berbisnis
×

