pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Jalan Kaki 10 Km, Bergaji Rp300 Ribu/Bulan

Kisah Guru Honorer di Daerah Terpencil

BULUKUMBA, BKM — Pahlawan tanpa tanda jasa. Sebutan itu disematkan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru. Andi Sri Rahayu pun sangat patut untuk mendapatkannya.

ANDI Sri Rahayu adalah seorang guru yang berasal dari Desa Sapobonto, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. Perempuan berusia 29 tahun itu mengajar di Madrasah Aliyah (MA) Guppi Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Bulukumba.
Untuk menuju desa tersebut, ada dua jalur alternatif yang bisa dilalui. Jalur pertama melewati Desa Sapobonto ke Desa Kindang. Melintasi jalan setapak dan jembatan bambu. Jarak tempuhnya kurang lebih 10 kilometer.
Jalur kedua dari Desa Sapobonto ke Desa Kindang melalui beberapa desa, seperti Bonto Lohe, Anrang, dan Tamaona. Akses ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Namun, jarak tempuhnya lebih jauh, yakni berkisar 25 kilometer.
Yang lebih sering dilalui Sri adalah jalur kedua. Walau tergolong jauh dan melelahkan, namun ia tak pernah menyerah. Panggilan hatinya sebagai guru menuntunnya untuk terus datang ke sekolah.
Malah, karena tanggung jawabnya pada tugas, ia pernah melalui jalur pertama dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Melewati kebun dan jembatan bambu. Hal itu dilakukan agar para siswanya bisa mendapatkan pelajaran.
Namun, kala itu ia tak sendiri. Ada beberapa siswanya yang melalui jembatan bambu itu. Termasuk para petani asal Desa Sapobonto. Mereka memikul hasil panennya dari Desa Kindang untuk dijual.
Sudah empat tahun Sri mengabdikan di sekolah swasta yang berjarak 60 kilometer dari Kota Bulukumba itu. Rasa letih usai perjalanan jauh seketika lenyap saat tiba di sekolah, menatap satu per satu siswanya yang menyambut dengan wajah ceria.
Ibu satu putra ini bangga dengan profesinya sebagai guru, walau mengajar di daerah terpencil. Ia punya alasan melakukan itu. Ingin membagikan ilmunya kepada banyak orang.
“Daripada ilmu tertinggal, lebih baik dibagikan. Semoga bisa jadi amal jariyah,” kata Sri melalui pesan WhatsApp, Selasa (6/10).
Setiap hari, Sri biasanya mengendarai sepeda motor menuju sekolah. Berangkat dari rumahnya di Desa Sapobonto pada pukul 06.30 Wita dan sampai pukul 07.30 Wita.
Demi melaksanakan tanggung jawabnya sebagai guru, alumnus STAI Al Gazali Bulukumba ini tak patah semangat. Dengan status seorang guru honorer, ia mulai mengajar pada tahun 2017 hingga saat ini. Walaupun dengan gaji hanya Rp300 ribu per tiga bulan. Hingga pada akhirnya saat ini digaji Rp300 ribu per bulan, yang diterima tiap tiga bulan.
“Di awal-awal gajinya hanya Rp300 ribu untuk tiga bulan. Setelah itu naik Rp900 ribu per tiga bulan,” tuturnya.
Sri mengaku ingin mengubah status dengan mendaftar CPNS. Hanya saja, usahanya itu belum berbuah hasil. “Sudah tiga kali saya daftar CPNS tapi tidak pernah lulus. Mungkin belum rezekinya,” imbuh istri Andi Alam ini.

Diakui Sri, selama pandemi covid-19 saat ini, siswa belajar secara daring. Namun ada beberapa di antaranya yang tidak memiliki gawai android, sehingga ketika mengirim tugas terpaksa meminjam ponsel temannya.
Kepala Desa Sapobonto Andi Bangkailong, menuturkan jembatan bambu yang biasa dilalui Sri bersama siswanya dan petani setempat, keberadaannya sudah puluhan tahun. Ada jalur kedua bisa dilalui warga, tapi harus memutar jauh dan melewati beberapa desa untuk menuju ke Desa Kindang.
“Selama ini tidak ada jalanan, warga hanya melalui jalan setapak melewati jembatan bambu. Jembatan penghubung dua desa antara Desa Sapobonto dengan Desa Kindang,” tuturnya.
Namun, sekarang dirinya bersyukur karena personel Kodim 1411 Bulukumba merintis jalanan penghubung dua desa tersebut. Proyek tersebut merupakan bagian dari program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).
“Tentu sangat bersyukur dan berterima kasih atas adanya kegiatan TMMD. Jalanan ini akan mempermudah warga ketika melintas. Pasti akan menambah nilai-nilai kemasyarakatan, ekonomi, dan wisata,” tandasnya. (min)




×


Jalan Kaki 10 Km, Bergaji Rp300 Ribu/Bulan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar