MAKASSAR, BKM–Warga Sinrijalla mengobarkan semangat perjuangan untuk memenangkan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto – Fatmawati Rusdi (Adama) pada 9 Desember mendatang.
Sorak-sorai menyambut kedatangan Danny-panggilan akrab Ramdhan Pomanto begitu di-elu-elukan warga. Warga Sinrijalla memaknai sebagai simbol keagungan, penghargaan kepada tamu kehormatan yang datang ke kampungnya.
Hadir dalam kampenye dialogis tersebut antara lain, komunitas Sinrijalla bersatu, komunitas kebaikan bersama, laskar Sinrijalla, para tomas Sinrijalla, tokoh pemuda, pemuka agama, unsur RT/RW dan penasehat wali kota.
“Prosesi ini sudah turun-temurun, sebuah adat yang diwariskan oleh orang tua kita. Intinya, warga Sinrijalla bukan hanya memberikan semangat ke paslon Danny-Fatma, tapi juga menjanjikan kemenangan,” tandas Wawan, ketua komunitas kebaikan bersama, Kamis (22/10).
Wawan mengaku, harapan warga Sinrijalla hanya disandarkan kepada sosok Danny yang dipercaya sebagai pengebrak zaman, dapat merestorasi nasib rakyat lebih baik lagi ke depannya.
Ketua Laskar Sinrijalla, Agung mempercayai di tangan Danny, kejayaan Makassar yang hilang akan segera kembali. Oleh karena itu warga berbondong-bondong hadir di acara “Tudang sipulung” guna mendengarkan orasi politik Danny Pomanto.
“Warga Sinrijalla sudah tidak sabar untuk memenangkan Danny-Fatma, alasan sederhananya guna merestorasi masa depan yang lebih baik dari situasi paceklik saat ini,” ungkap Agung.
Danny lalu membakar semangat warga dengan yel-yel khas Adama, Tunggma. Danny mengaku akan mencatat semua apa yang menjadi keresahan dan keluhan warga kampung Sinrijalla.
“Kita catat semua bapak ibu. Tidak mungkin kita yang berkeringat yang lain mau menikmati, tidak ada rumusnya itu,” tandas Danny disambut aplaus warga.
Danny juga hadir di Kelurahan Kassi-kassi.
Syahrir Nyarrang, salah satu ketua RT di Kelurahan Kassi-kassi mengaku, kebijakan penurunan isentif RT/RW itu bukan lagi berdasar pada basis kinerja. Syahrir menilai sarat kepentingan politik.
“Saya tidak tau bagaimana dasar penilaian dari camat-lurah, karena tugas saya tetap saya jalankan yakni 9 indikator itu, tapi pak lurah turunkan insentif saya,” tambah Syahrir.
Dia mencurigai, Camat-lurah ditunggangi kepentingan politik. Apalagi sejak dirinya terang-terangan mendukukung paslon nomor 1, isentifnya menurun drastis.
“Dari 1.000.000 juta turun menjadi 250.000 ribu. Saya memang terang-terangan mendukung Adama,” ujarnya.
Ketua RT di Kelurahan Bangkala, Aksan juga mengaku mengalami hal serupa di wilayahnya. Aksan mengaku RT/RW pendukung Adama seperti di-anak tirikan oleh pihak Kelurahan.
“Ada apa, kami ini relawan pemerintah, tapi kenapa ada sekat-sekat sejak pilwali ini berlangsung, kami merasa disisihkan, terus terang saya juga pendukung Adama,” ungkapnya.
Untuk itu, Danny meminta RT/RW bersabar atas tindakan oknum pemerintah yang tidak adil terhadap mereka.
“Sabarki, kebenaran tdak pernah kalah, terus berjuang untuk memenangkan masa depan kita, Tungguma,” kata Danny memotivasi. (jun/rif)

