JIKA ingin jujur, tak ada yang ingin tertular dengan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Namun, kerap orang tidak bisa menghindarinya, kendati sterilisasi dan menjaga diri telah dilakukan seteliti mungkin. Mungkin karena interaksi dengan banyak orang sehingga virus corona akhirnya hinggap juga.
SEPERTI dialami Fajrin dan Andre, dua staf Humas pada Bidang Komunikasi Publik Dinas Kominfo Statistik dan Persandian Kabupaten Gowa. Mereka kini menjadi duta covid-19, seusai keduanya menjalani karantina pada salah satu hotel di Makassar.
Fajrin merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Pria dengan nama lengkap Muh Fajrin Arifandy ini dinyatakan positif covid-19 setelah menjalani swab pertama, Kamis, 20 Agustus 2020 lalu. Dia kemudian masuk karantina setelah hasil swab diterima pada Jumat esok harinya.
“Saya mulai dikarantina Sabtu 22 Agustus sampai 13 September. Ketika di awal masuk karantina, saya sangat stress. Saya tidak demam, namun saya tidak punya semangat. Saya menghuni hotel dengan fasilitas yang memadai namun serasa hidup di hutan. Sebab tidak bisa ditemui fisik oleh ibu, keluarga dan teman-teman kantor. Saya bagai hidup di planet lain,” tuturnya. Yang bisa berinteraksi dengan Fajrin ketika itu hanyalah relawan yang ditugaskan di hotel. Juga sesama peserta yang menjalani karantina.
”Itupun hanya bertemu saat olahraga di halaman hotel. Beruntung ada HP. Bisa berkomunikasi videocall dan chatting WhatsApp dengan keluarga. Pokoknya, di masa awal saya tertular covid, perasaan saya campur aduk. Pikiran sayapun amburadul,” papar Fajrin.
Diakuinya, sejak masuk karantina, dirinya harus menjalani swab empat kali. Swab terakhir akhirnya negatif, sehingga dia pun bisa kembali pulang ke rumahnya.
“Saya bisa kembali ke rumah tapi tetap masih harus isolasi beberapa hari sebelum masuk berkantor. Saya lega bisa keluar dari tempat karantina, bebas seakan baru terbebas dari penjara,” jelas pria lajang berlesung pipit ini.
Diakuinya, ada banyak duka yang dirasakannya kala menjalani karantina. Terlebih ia mesti jauh dari ibu, adik serta kakaknya. Tak terkecuali teman-teman kantor.
Dalam aktivitas kantornya, Fajrin bertugas sebagai videografer, fotografer, serta menjadi pengisi konten Humas Pemkab Gowa. Namun sejak terkonfirmasi positif sebagai OTG (orang tanpa gejala), ia sempat kehilangan semangat.
Selama 22 hari dikarantina, ada rasa bosan dan jenuh menghinggapi ketika berada di dalam kamar hotel. Tanpa teman bicara dan tanpa variasi kegiatan, selain makan tidur dan nonton televisi.
Satu-satunya yang membuatnya terhibur adalah gawai. Sebab ia bisa berkomunikasi dengan rekan dan pimpinannya di kantor yang hampir tanpa jedah menanyakan kondisinya.
“Saya sangat bangga kepada rekan kantor. Apalagi pimpinan. Mereka sangat perhatian, sehingga meski sekeliling saya sepi, saya masih bisa merasa happy. Selama saya dikarantina makanan kiriman teman kantor tiada henti. Berat badan saya malah sempat naik lagi, mengalahkan kerisauan saya menghadapi covid-19 ini,” jelasnya.
Namun, Fajrin sempat drop lagi, karena kembali dinyatakan positif saat dia sudah masuk kembali berkantor. Akhirnya, ia kembali dikarantina untuk kedua kalinya selama 14 hari.
“Saya kembali merasa terpenjara. Saya sempat kembali stress, namun akhirnya saya lawan rasa stres itu dengan mengambil kesibukan kantor. Pekerjaan saya kan mengisi konten-konten humas. Jadi bahannya dishare dari kantor ke email maupun WA saya, lalu saya pun bekerja,” terangnya.
Untuk mendukung aktivitasnya, komputer kantor diboyong ke kamar hotel tempatnya diisolasi. Diapun bisa bekerja seperti biasa, layaknya berada di ruang kantor.
”Alhamdulillah, jenuh saya hilang. Tidak lagi stres. Apalagi rekan kantorku, Andre juga harus masuk karantina. Saya sekamar dengan dia. Kerja dapat, di kamar pun tidak sendiri ada teman bicara,” beber Fajrin yang dikarantina kedua pada 24 September hingga 10 Oktober lalu.
Menurut Fajrin, selama karantina, perasaannya lebih fit. Karena selain nonton film sesuka hati, ia juga bisa mengerjakan editan foto dan mendesain konten humas. Kemudian sore harinya senam bersama peserta karantina lainnya yang berasal dari berbagai kabupaten/kota, serta berbagai profesi.
Selain terpapar corona, hal lain yang membuat Fajrin drop adalah ada beberapa rekan satu kantor yang menghindari dirinya. ” Iya, saya maklumi itu, sebab covid ini memang sempat membuat orang jadi parno. Apalagi harus berkontak fisik atau sekadar berpapasan saja dengan saya yang terpapar. Namun semua itu akhirnya saya acuhkan saja. Karena teman kerja di humas tidak menghindari saya. Support dan perhatiannya luar biasa. Setiap hari tanyakan kondisi saya dan Andre selama karantina. Janganmi dibilang makanan dan vitamin, wah kiriman makanan yang tidak pernah absen…hahaha,” ucap Fajrin tertawa, yang mengaku menjalani swab delapan kali.
Hal sama diceritakan Syahrul Andrian yang karib disapa Andre. Putra bungsu dengan perangai sedikit manja ini mengaku sempat parno besar.
Andre yang tinggal di kecamatan dataran tinggi ini mengaku sempat syok berat saat dinyatakan positif terpapar corona dari hasil swab awal. Ia menjalani karantina pada 20 Agustus sampai 18 September 2020. Andre diswab sebanyak tujuh kali dan diinapkan juga di hotel, bahkan selama 30 hari lamanya.
“Bukan main covid ini. Mampu membuat saya drop hebat. Hal yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Saya menghuni Swiss Bell, hotel bagus tapi perasaan saya tidak karuan. Teman saya banyak sih. Teman baru lagi. Tapi bagi saya itu tak seberapa dibanding saya tidak bisa berinteraksi bebas di luar sana,” terangnya.
Dukanya lagi adalah jauh dari kedua orang tua yang tinggal di wilayah Tinggimoncong. ”30 hari saya merasa dalam ‘penjara’ yang nyaman. Nyaman suasana tapi tidak nyaman di hati,” aku Andre.
Rutinitasnya di hotel, diakui Andre telah membuatnya jenuh. Mulai pukul 07.00 pagi sarapan, lalu jam 08.00 sampai 10.00 pagi senam dan berjemur. Pukul 11.00 bersih-bersih, dan pukul 12.00 Wita makan siang. Pukul 01.00-15.00 Wita istirahat. Pukul 14.00 sampai 18.00 berjemur dan menyaksikan sunset di halaman belakang hotel. Kemudian pukul 19.00 Wita makan malam.
Panik dan cemas paling menguasai diri Andre saat itu. Apalagi sempat harus tidur sendirian, ketika Fajrin teman kamarnya sudah negatif dan harus meninggalkan tempat karantina.
“Saya pernah sempat sampai merengek ke petugas agar saya tidurnya tidak sendiri. Harus ada teman sekamar. Sejak Fajrin keluar, saya tinggal sendirian. Saya sampai parno berlebihan. Tapi Alhamdulillah, bos-bos dan teman-teman di kantor rutin menyapa via vicall maupun WA,” jelasnya.
Pikiran tak tenang itu berangsur hilang, seiring dengan aktivitas Andre yang diberi ruang untuk mengerjakan tugas kantor mendesain, mengedit hasil video atau foto, kemudian mengirimkannya kembali ke kantor.
Baik Fajrin maupun Andre, meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak pernah mengabaikan protokol kesehatan, khususnya 3M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Hal ini penting untuk menghindari tertular covid-19.
”Jangan lupa rutin minum vitamin dan makan makanan bergizi agar imun kita tetap kuat. Saya sudah rasakan betapa tersiksanya di saat virus itu berada di tubuh kita. Alhamdulillah, Tuhan memberikan kesabaran menjalani masa karantina,” tandasnya. (sar)

