HIJRAH di kalangan pesohor tanah air sudah banyak dilakukan. Figur publik yang sebelumnya menyandang status artis kemudian beralih menjadi pendakwah. Bahkan ada di antaranya masuk Islam dan menjadi seorang mualaf. Salah satunya adalah Dewa Putu Adhi.
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Bait lagu tersebut disenandungkan Ustas Dewa Putu Adhi. Ia memberikan tausiyah di depan jamaah Masjid Darussalam, Kompleks Bumi Bosowa Permai ORW 015 Kelurahan Minasa Upa, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Jumat malam (22/1). Lagu dengan judul Lumpuhkan Ingatanku itu dipopulerkan oleh Band Geisha.
Ya, Dewa Putu Adhi adalah pentolan grup band tersebut. Ia berposisi sebagai gitaris. Bersama Band Geisha, ia berhasil meraih popularitas. Fans di mana-mana. Penghasilan melimpah. Bisa membeli apa saja. Gemerlap dunia direngkuhnya.
Dewa Putu Adhi lahir dan menjalani masa kanak-kanak di Pulau Dewata, Bali. Ia penganut agama Hindu, sama dengan kedua orangtuanya.
Menginjak usia remaja, Dewa berangkat ke Jakarta. Satu cita-citanya, ingin menjadi seorang musisi. Ia lalu bekerja di sebuah label rekaman tempat bernaung band papan Indonesia. Tak lama berselang, Band Geisha sedang membutuhkan seorang pembetot gitar. Gitaris yang lama berurusan dengan hukum. Jadilah Dewa Putu Adhi mengisi posisi tersebut.
Tapi, di tengah kepopuleran yang tengah dikecapnya, ia merasakan ada kekosongan dalam diri. Sama dengan yang dirasakan artis lain pada umumnya. Dewa akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Ia meninggalkan dua label musik yang di dalamnya ada 40-an artis. Sekaligus hengkang dari Band Geisha. Tak lama kemudian disusul keluarnya sang vokalis.
Dewa memiliki kisah nyata nan inspiratif yang pernah dilaluinya. Ketika itu istrinya tengah hamil tua anak kedua dan akan melahirkan. Dirinya sudah mualaf kala itu.
”Waktu itu pukul dua dinihari. Saya tengah belajar agama. Tiba-tiba istri bisik ke saya, Pah saya sakit perut. Sepertinya sudah mau melahirkan. Saya jawab, bukankah dokter bilang masih satu minggu lagi. Mungkin itu sakit perut biasa. Dikasih minyak kayu putih saja,” tuturnya.
Mengenakan baju gamis berwarna putih bersih, Dewa kembali melanjutkan kisahnya dengan nada penuh haru. Seakan menahan rasa sedih.
”Dia lalu mengikuti saran saya itu. Saya kemudian melanjutkan belajar agama. Tidak lama kemudian istri saya menyampaikan kalau perutnya semakin sakit. Mungkin ketubannya sudah pecah, begitu dia bilang. Saya langsung mengantarnya ke rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah,” kenangnya.
Sesampainya di rumah sakit, pihak medis menyarankan untuk dilakukan operasi sesar. Tindakan medis tersebut diperlukan guna menyelamatkan bayi dan ibunya.
Hanya saja, Dewa terbentur biaya. Untuk operasi sesar dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Sementara ketika itu ia hanya punya uang Rp26.000.
Dia pun hanya bisa memandang wajah istrinya yang sudah pucat menahan sakit yang sangat. Dewa hanya bisa menggenggam tangan sang istri yang kondisinya mulai melemah.
Usai salat Subuh, ia meninggalkan istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit. Dewa mendatangi teman-temannya yang artis besar.
”Saya datangi rumah mereka. Saya tahu saldo mereka. Saya tidak ingin meminta. Saya hanya ingin meminjam saja. Tapi jangannya memberi, dipinjamkan saja tidak,” ujarnya dengan nada suara mulai serak.
Menurut Dewa, ada alasan temannya itu tak bersedia memberinya pinjaman. ”Saya dianggap terlalu radikal. Mengajak orang untuk hijrah dan meninggalkan musik,” katanya
Upaya mencari pinjaman uang terus dilakukannya, dari pagi hingga siang. Namun, tak sepeser pun diperolehnya.
Di tengah usahanya itu, Dewa ditelepon pihak rumah sakit. Ia diminta untuk menandatangani suatu perjanjian terkait rencana tindakan terhadap istrinya.
”Ada surat yang diberikan oleh perawat. Isinya, jika terjadi apa-apa terhadap janin atau ibunya, saya tidak boleh menuntut rumah sakit. Saya ingat sekali waktu itu, wajah istri saya begitu kesakitan,” ujarnya dengan suara kian berat.
Di tengah kegamangan yang tenga dialaminya, Dewa lalu menghubingi seorang karibnya Ustas Khalid Bassalamah. ”Saya tidak minta pinjaman uang. Saya sampaikan ke beliau, saya sedang cari solusi untuk masalah saya. Tidak bilang kalau istri hendak melahirkan dan butuh uang untuk biaya operasi,” ungkap Dewa.
”Untuk apa cari solusi? Allah ciptakan manusia untuk beribadah. Jika kita punya masalah dan kesulitan, cek ibadah kita,” begitu jawaban Ustaz Khalid Basalamah, seperti ditirukan Dewa.
Seketika itu pula Dewa tersadar. Di tengah masalah yang menderanya, salat dhuha yang selama ini rutin ditunaikan, akhirnya terlewatkan demi mencari pinjaman. Salat dhuhur juga terlambat didirikannya. Seharian yang terbayang hanya wajah pucat istrinya di rumah sakit.
“Saya langsung menuju musalah kecil yang ada di belakang rumah sakit. Saya hanya minta pada Allah, ya Allah, ampuni saya. Saya minta ya Allah selamatkan istri saya, selamatkan anak saya,” doa itu terus Dewa panjatkan hingga usai salat Ashar.
Setelah salat, Dewa kembali ke ruangan di mana istrinya dirawat. Kondisi sang istri kian mengkhawatirkan. Bercak darah mulai mengalir hingga membasahi ranjang pasien. Sementara petugas medis rumah sakit belum mengambil tindakan karena tidak ada pembayaran.
“Saya kembali ke ruangan istri saya. Istri saya sudah pucat sekali, saya mengelap darahnya di kasur, saya cuma bisa pegang tanganya dan bilang sabar ya ma. Kondisinya sudah sangat lemah. mengangguk saja dia sudah tidak kuat,” kenang Dewa.
Menjelang Maghrib, Dewa kedatangan teman mualafnya. Ia warga keturunan Cina yang juga seorang pengusaha.
”Saya tanya ke dia, kenapa ada di rumah sakit. Dia bilang, beberapa kali telepon saya tapi tidak diangkat. Lalu ke rumah mengecek, ternyata saya tidak ada. Tetangga sampaikan kalau saya ada di rumah sakit,” terang Dewa.
Kepada temannya itu, Dewa menceritakan ia tengah menunggui istrinya untuk lahiran. Hanya saja harus dioperasi, sementara dirinya tak punya untuk membayar.
”Teman saya itu langsung membayar semuanya dan lunas. Alhamdulillah, anak saya lahir. Perempuan. Sekarang sudah umur tiga tahun. Ibunya juga sehat. Sekarang kami sudah punya tiga orang anak,” jelasnya.
Apa hikmah yang diambil Dewa dari pengalaman hidup yang didapatnya? “Ini sebenarnya kelemahan kita. Kita lupa sama Allah. Kita sibuk sama dunia. Nanti kalau kita sudah susah, kalau sudah kesulitan, sudah mentok, sudah sangat terpojok sekali, baru kita ingat Allah,” ujarnya.
Bernaung di bawah Mualaf Center Indonesia, Dewa selalu mewanti-wanti kepada sesamanya mualaf untuk jangan sekali-kali meminta-minta di tengah kesulitan hidup yang dialami. Karena itu pula ia pantang meminta-minta walau dalam situasi sulit. (rus)

