RASA was-was selalu ada ketika seseorang menghadapi sesuatu yang sama sekali masih awam dilakukan. Namun ketika hal itu menjadi terbiasa, maka kesan ragu ataupun takut tidak ada lagi. Itulah yang dialami Aspanty, honorer tenaga kesehatan yang bekerja di RSUD Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa.
Selama menjadi tenaga kesehatan dan ditempatkan bertugas di RSUD Syekh Yusuf Gowa, Aspanty tidak pernah ragu menjalankan tugasnya. Ibu dua anak ini mulai mengabdi di dunia kesehatan selepas dari Poltekkes Makassar sejak tahun 2007 silam. Jika dihitung-hitung, ia telah menjalani masa kerjanya sebagai honorer selama 13 tahun.
Sejak mengabdi, perempuan tangguh ini ditugaskan di bagian laboratorium RSUD Syekh Yusuf Gowa.
BKM menemuinya di sela aktivitasnya melakukan tes cepat (rapid test) dan swab antigen saat berlangsung operasi yustisi oleh Pemkab Gowa selama enam hari, 3-8 Februari 2021 lalu di poros Jembatan Kembar Jalan Usman Salengke-Jalan HOS Cokroaminoto Sungguminasa. Kala itu Aspanty terlihat enjoy.
Dengan tutur katanya yang ramah, ia menyapa setiap kali ada pelanggar prokes yang disanksi untuk rapid, swab antigen maupun PCR.
Ia selalu memberikan kalimat-kalimat penyejuk agar warga yang mendapat sanksi rapid karena melanggar prokes, tidak takut untuk menjalani tes.
“Prosesnya tidak lamaji. Cepatji dan tidak sakit. Mendongakki sedikit supaya gampang alat test swabnya masuk ke lubang hidungta,” begitu kalimat lisan Aspanty setiap kali menghadapi warga.
Wanita usia 35 tahun ini sangat teliti. Hal yang sama diterapkannya ketika mengedukasi tiga orang anaknya yang masih kecil.
“Iya, anak saya ada tiga. Yang sulung masih SD kelas enam. Sementara dua orang lainnya masih kecil-kecil. Selama pandemi covid-19, saya ekstra hati-hati menghadapi anak-anak saya. Ada juga sih rasa gelisah setiap kali pulang kerja dan harus bertemu dengan mereka. Namun kekhawatiran itu semua hilang begitu mereka pahami kerja saya. Setiap pulang saya langsung mandi dan baju yang saya pakai saya langsung rendam. Setelah bersih barulah saya menyentuh anak-anak saya,” ungkap Aspanty.
Ia mengakui, pengawasan terhadap keluarganya pun lebih ditingkatkan selama pandemi. Apalagi pekerjaannya terbilang sangat rentan tertular corona.
Selama 13 tahun Aspanty mengabdi di laboratorium, membuat ia sangat paham dengan pekerjaannya.
“Saya sudah kerja di bagian lab rumah sakit sejak masih gadis. Setelah menikah tetap di lab, sehingga terbilang pengalaman terkait itu.. yah lumayanlah. Keraguan atau takut tentu cepat pupus. Apalagi saat bertugas menghadapi orang-orang terpapar saya menggunakan alat pengaman. Selain itu, penggunaan pakaian khusus dalam tugas merawat pasien covid, termasuk tes rapid/swab itu adalah hal utama,” jelasnya.
Selama pandemi ini, Aspanty bersama rekannya sesama petugas di bagian yang terkait covid, sangat selektif juga.
Alat pelindung diri (APD) menjadi hal yang tak terpisahkan.
“Kalau ada pasien baru masuk, disitumi kita pilih. Kalau memang pasien itu terkonfirmasi covid, maka kita pakai baju hazmat. Tapi kalau tidak misalnya pasien itu hanya di IGD dan tidak covid, maka pakaian saya yang biasa juga. Seperti yang saya pakai hari ini adalah pakaian pelayanan,” terangnya.
Model pakaian yang dikenakannya seperti gamis dan mengenakan celemek plastik sebagai perisai keamanan berpakaian. Menurutnya, pakaian hazmat tergolong seragam level 1.
”Ketika saya pakai hazmat satu jam saja baju saya sudah basah semua. Masker pun saya pakai dua lapis,” jelasnya.
Dibeberkan Aspanty, setiap kali menghadapi orang yang akan dirapid/swab antigen maupun PCR, maka dirinya menggunakan masker dua lapis. Lapis pertama kalau sudah dipakainya merapid/swab seseorang, maka langsung dibuang.
“Kalau sudah berinteraksi dengan pasien maka lapis pertama dibuang, yang lapis dalam tidak karena tetap aman. Antisipasinya begitu. Ketika saya juga melayani orang swab, saya ganti sarung tangan setiap kali tangani pasien. Jadi kalau 100 orang saya rapid/swab, maka 100 kali juga saya ganti sarung tangan. Sarung tangan juga saya gunakan dua lapis, jadi tangan saya tetap aman. Awal-awalnya saya tangani rapid dan swab, sempat juga khawatir tidak steril. Tapi karena sudah sering hadapi tugas ini, maka rasa itu sudah tidak ada,” bebernya.
Aspanty mengaku enjoy dengan begitu menyenangi pekerjaannya sekarang. Alasannya, karena ilmunya sudah diaplikasikan. Dukungan kuat dari sang suami menjadi motivasi bagi dirinya setiap saat. Suaminya juga bertugas di bagian laboratorium dan saat ini mengabdi di di Balai Paru (BPKPM) Makassar. ”Kami sama-sama orang lab, jadi saling memahami tugas,” imbuhnya.
Sebagai orang kesehatan, Aspanty telaten mengedukasi siapa saja, termasuk keluarganya, tetangga, kerabat dan teman-temannya. Bahkan dia mengajak masyarakat yang dijumpainya agar tidak lupa menyiapkan tempat cuci tangan dan sabun di depan rumah.
Rumahnya pun tidak luput dari itu. Sarana cuci tangan disiapkannya di depan pintu rumahnya yang terletak tidak jauh dari RSUD Syekh Yusuf.
” Jadi kalau anak-anak saya usai bermain di halaman selalu rutin cuci tangan setiap masuk rumah. Begitu juga setiap kali ada tamu datang ke rumah, saya wajibkan cuci tangan dulu sebelum masuk dan harus pakai masker,” tandasnya. (sar)

