MAKASSAR, BKM — Sisa menghitung jam, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto akan dilantik sebagai wali kota Makassar periode 2021-2026. Berbagai persiapan sudah dilakukan untuk pelantikannya kali kedua. Baik oleh tim pemenangannya, keluarga, maupun dirinya sendiri.
Untuk kostum pelantikan, Danny sudah mempersiapkan pakaian dinas upacara putih-putih yang baru. Lengkap dengan sepatu putihnya. Dia berseloroh, berat badannya ternyata tidak berubah pada saat ini dengan saat akan dilantik sebagai wali kota Makassar di periode sebelumnya.
“Ukuranku tidak berubah. Berarti beratku masih sama saat akan dilantik sebagai wali kota di periode sebelumnya, ” ungkap Danny saat ditemui di kediaman pribadinya, Jalan Amirullah, Rabu (24/2).
Danny menyebutkan, sebelumnya dalam rangkaian kegiatan pelantikan, dirinya berencana menggelar pidato kerakyatan di atas kapal Phinisi di Pantai Losari. Namun sayang, rencana tersebut batal dilaksanakan. Alasannya, ada surat dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang memerintahkan pidato dilaksanakan di DPRD. Terkait teknis dan mekanisme berlangsungnya acara, itu menjadi ranah dan kewenangan DPRD.
“Saya kan rencananya pidato di Phinisi, tapi batal. Kebetulan ada surat dari Kemendagri memerintahkan pidato di DPRD. Masak dua kalika pidato. Terpaksa di DPRD,” terangnya.
Diapun sangat menyadari jika prosesi pelantikannya dilaksanakan di tengah pandemi covid-19. Karena itu, dirinya mewanti-wanti tidak boleh ada konsentrasi massa saat pelantikan. Kepada para pendukungnya dan seluruh warga Makassar, dia meminta agar menyaksikan prosesi pelantikan di rumah masing-masing. Tidak ada kegiatan nonton bareng.
“Komunitas yang ingin menyaksikan secara virtual, kami minta di rumah masing-masing. Tidak ada nonton bareng. Semua di tempat masing-masing. Camat dan lurah di kantornya masing-masing. Kami fasilitasi kegiatan bisa disaksikan secara live streaming, di TV lokal, dan di medsos” jelasnya.
Untuk undangan yang bisa menghadiri pidato kerakyatan di DPRD, Danny membatasi hanya 16 orang. Sudah termasuk di dalamnya keluarga, beberapa anggota DPR RI, dan partai pengusung.
Ditanya apakah setelah dilantik nanti Danny langsung memboyong keluarganya ke rumah jabatan wali kota yang telah disiapkan? Dengan tegas dia mengatakan tidak.
Dia mengaku ingin tinggal di kediaman pribadinya saja. Rumah jabatan nantinya akan dipergunakan untuk menerima tamu, audiens, dan kegiatan-kegiatan lainnya. “Saya tidak akan tinggal di rumah jabatan. Biarmi dipakai untuk terima tamu saja,” pungkasnya.
Bertemu Gubernur
Jelang pelantikan, pasangan wali kota dan wakil wali kota Makassar terpilih Moh Ramdhan Pomanto dan Hj Fatmawati Rusdi bertemu dengan Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah, kemarin. Masing-masing menggunakan dua Alphard berwarna hitam. Khusus kendaraan yang digunakan Danny, di sisi samping mobil terdapat tulisan besar yang menjadi jargonnya saat pilwali lalu, yakni Adama.
Ikhwal pertemuan Danny dan Gubernur yang hubungannya disebut-sebut kurang harmonis, Danny mengatakan, itu diinisasi oleh mantan Ketua DPRD Sulsel HM Roem yang saat ini menjadi salah satu bagian dari Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP).
“Jadi Pak Roem sebagai orangtua kita, penasihatnya Pak Gub mencoba memberikan pandangan yang menurut saya bagus sekali. Banyak orang berharap ini ada titik temu. Bagi saya kan tidak pernah ada hal-hal terkendala soal ini,” ungkap Danny di kediaman pribadinya, Jalan Amirullah.
Dan alhamdulillah, lanjutnya, ternyata niat baiknya untuk bertemu orang nomor satu Sulsel itu direspons sangat baik. Dua hari sebelum keduanya bertemu, ada undangan klarifikasi yang menyatakan gubernur siap menerimanya Rabu pagi pukul 08.00 Wita.
Dia menekankan, antara dirinya dengan gubernur merupakan dua kawan lama. Jadi tidak ada persoalan diantara mereka.
Saat bertemu, Danny mengaku sempat meminta maaf atas banyaknya informasi-informasi yang membuat kedua belah pihak merasa tidak nyaman. “Saya juga bilang mohon maaf Pak Gubernur kalau ada yang tidak mengenakkan hatinya Bapak. Harus begitu. Artinya, sebagai persaudaraan,” tambahnya.
Selain itu, tambah Danny, dirinya memang harus menemui gubernur sebelum pelantikan. Logikanya sederhana, masak dirinya sowan ke Penjabat Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin, sementara ke gubernur tidak.
Dia mengatakan, sejak dulu dirinya selalu terbuka dan mengedepankan budaya sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. “Kalau kita praktikkan itu ajaran orangtua kita, selesai persoalan. Saya juga sudah melapor diri. Ssiap menerima bimbingan dari provinsi. Saya juga minta izin dan dukungan untuk Makassar. Provinsi dan kota itu tidak bisa dipisahkan,” tambahnya.
Danny berharap, dalam menjalankan roda pemerintahan ke depan, tidak ada kawan dan lawan. Semua bersatu untuk Makassar. “Kalau dulu saat merebut kemenangan saya punya dukungan dua partai di parlemen serta dua non parlemen. Itu selesai. Mengisi kemenangan, ayo sama sama,” pungkasnya.
NA-DP Tetap Harmonis
Menurut Nurdin, pertemuannya dengan Danny bermakna bahwa hubungan yang terjalin antara gubernur dengan wali kota terpilih selama ini tetap harmonis.
“Saya kira hari ini kita patut bersyukur bahwa sudah terjawab kepada masyarakat, gubernur dan wali kota terpilih itu tidak ada masalah,” ujarnya.
Ia melihat sosok Danny telah banyak memberikan kontribusi di Sulsel, merancang pembangunan di Sulsel dan kabupaten/kota lainnya. Harapan dan titipan diberikan kepada Danny untuk membangun Kota Makassar.
“Saya titip Makassar. Karena Makassar ini adalah etalase Sulsel, bahkan Indonesia Timur. Pemerintah provinsi siap untuk bersinergi, tentu tanggung jawab kita bersama Kota Makassar ini,” tambahnya.
Pemprov dan pemkot, kata Nurdin, akan membangun team work yang kuat untuk terus mendorong percepatan pembangunan di Kota Makassar. Pertemuan awal ini sebagai tanda kolaborasi yang baik ke depan, serta sebagai momen yang tepat untuk bertemu menjelang pelantikan.
“Kita bicara dari hati ke hati. Apa yang bisa kita support tentu kita juga harus mendengar dari wali kota terpili maupun dari ibu wali kota,” ungkapnya.
Tidak ketinggalan, Nurdin memuji Fatmawati sebagai pendamping DP. Dengan pengalaman yang dimiliki menjadi kombinasi kepimimpinan yang baik.
“Ibu wakil wali kota juga punya pengalaman yang luar biasa. Saya kira ini kombinasi yang sangat bagus,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Danny Pomanto mengapresiasi langkah gubernur yang menggelar pelantikan kpala daerah secara semi virtual atau hybrid. Pelantikan secara luring dan during itu dinilainya tetap menjaga kesakralan pelantikan. Hal yang diiniasi oleh gubernur ini menggelar dianggap luar biasa.
“Saya juga menyampaikan ke beliau, terima kasih karena di atas ekspektasi kami. Kalau kami lihat virtual itu sakralisasinya tidak terlalu penuh,” ujarnya.
Ia menyatakan pelantikan model hybrid ini diusulkan Nurdin ke Kemendagri dan diterima. “Saya kira itulah hal-hal yang diimpikan kami kepala daerah bahwa dilantik jelas ada pemasangan pangkat dan tanda jabatan. Nah itu sakralnya penuh,” sebutnya.
Apresiasi ini dinyatakan Danny telah disampaikan juga di media. Pelantikan kepala daerah sakralitasnya secara kultural tetap dijaga di Sulsel.
“Saya kira ini baru di Indonesia. Ini satu-satunya dan itu ada tertulis dan kita diberi diskresi untuk itu,” tandasnya.
Patut Dijadikan Contoh
Pertemuan antara Danny-Fatma dengan NA diapresiasi Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Sulsel Syaharuddin Alrif. Menurut pria yang karib disapa Syahar ini, kedatangan Danny-Fatma bertemu dengan NA merupakan bentuk sipakalebbi, sipatokkong. Sikap pemimpin yang patut jadikan contoh.
“Kontestasi pilkada sudah selesai. Sekarang mari kita bersatu untuk membangun Makassar dan Sulsel,” pinta Syahar, Rabu (24/2).
Menurut wakil ketua DPRD Sulsel ini, tidak ada lagi warna, tidak ada perpecahan, tidak ada lagi konflik. “Yang ada adalah satu tujuan, bekerja untuk masyarakat membangun Makassar dan Sulsel. Selamat untuk rakyat Makassar. Kita sambut pemimpin ini dan mari kita dukung semuanya agar kita bisa menikmati hasil program Pak Danny dan Bu Fatma,” tandas Syahar. (rhm-nug)

