DUNIA perfilman di Makassar tetap menggeliat walau di tengah pandemi. Mereka yang bergelut di industri ini terus memperlihatkan eksistensinya dengan menghasilkan karya. Meski begitu, tetap saja ada persoalan yang dihadapi.
TANGGAL 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Perfilman Nasional. Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Sulsel Syahriar Tato diundang menjadi tamu dalam sesi Podcast di Harian Berita Kota Makassar. Ia menjelaskan tentang film di era pandemi covid-19.
Diakuinya, produksi film tetap dilakukan sineas Makassar. Salah satu yang teranyar adalah film De Toeng, Misteri Ayunan Nenek dan telah tayang di bioskop. Selain itu, cukup banyak film-film pendek yang dibuat lalu kemudian ditayangkan di Youtube. Model pemutaran film ini lebih mengandalkan banyaknya viewers.
Semakin banyak viewers, kian tinggi rating dari film yang ditayangkan. Hal itu menandakan kalau film tersebut banyak yang menyukainya. Atas dasar itu pula, biasanya sebuah film pendek akan diangkat ke layar lebar. Contohnya Preman Jatuh Cinta dan Toraja In Lowe.
”Untuk saat ini ada lima film lokal yang siap tayang di bioskop, jika ada produser yang ingin menayangkan. Hanya saja, terhalang oleh kondisi covid saat ini yang menurunkan minat penonton. Ditambah lagi adanya pembatasan jumlah penonton,” ujar Syahriar Tato.

Intensnya sineas Makassar dalam menghasilkan film, tak dimungkiri oleh Syahriar Tato, menempatkan Sulawesi Selatan sebagai barometer perfilman nasional di luar pulau Jawa. Ia kemudian mencontohkan film Silaring yang dinobatkan sebagai film terbaik tahun 2017. ”Saya sempat diundang ke Malaysia untuk memperkenalkan sekaligus dinobatkan sebagai bintang Asean,” terangnya.
Walau begitu, pria kelahiran Pinrang ini mengakui, pembuatan film layar lebar menemui kendala dari segi peralatan. Sementara untuk pemilihan pemeran, dibutuhkan casting terlebih dahulu. Untuk beberapa film yang digarapnya, Syahriar Tato bahkan turun langsung dan terlibat di dalamnya.
”Khusus untuk film daerah, kita mengambil pemeran asli dari Bugis-Makassar. Alasannya, mereka sudah paham tentang siri’ na pacce, sehingga betul-betul bisa mendalami perannya di film yang dimainkan,” jelasnya.
Menjelang Hari Perfilman Nasional, Syahriar Tato berharap, rasa cinta terhadap film-film nasional tetap terjaga. Sebagai bagian dari upaya itu, setelah pandemi berakhir, pihaknya akan datang ke sekolah-sekolah untuk mengadakan workshop agar mampu menghidupkan karya karya film. Selain itu, kerja kerja film harus tetap dilakukan. (pkl)

