MAKASSAR, BKM — Rumit dan membingungkan. Begitulah yang dirasakan oleh kebanyakan orang tua siswa mengikuti proses Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2021 di Kota Makassar. PPDB yang dilaksanakan dalam jaringan (daring/online) ini menyisakan masalah.
Selasa (22/6), pemandangan orang tua calon siswa yang ramai di depan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 8 Jalan Batua Raya, cukup menarik perhatian. Kedatangan mereka menyampaikan kendala yang dihadapi saat proses pengiriman (mengunggah) berkas formulir secara daring.
Menurut sekuriti SMPN 8 Makassar Faisal, masih ada beberapa calon orang tua siswa datang langsung ke sekolah karena kurang menguasai cara untuk mendaftar. Apalagi berkas pendaftaran terdiri dari Surat Keterangan Lulus (SKL), Kartu Keluarga (KK) dan akta kelahiran yang menjadi syarat pendaftaran harus dikirim secara daring.
“Sejak kemarin banyak orang tua siswa datang ke sekolah sampaikan kendalanya. Sementara sekolah melaksanakan PPDB ini online. Makanya saya arahkan ke toko tempat jualan alat tulis depan sekolah situ. Di sana kan bisa juga membantu untuk mengirim berkas pendaftaran secara online. Sudah banyak orang tua siswa menggunakan jasa di sana karena lengkap komputernya,” jelas Faisal kepada BKM.
Hadirnya jasa pengiriman berkas formulir pendaftaran PPDB di sekitaran SMPN 8 Makassar, ditegaskan Faisal, sama sekali tidak bekerja sama dengan pihak sekolah. “Tidak ada kerja sama dengan pihak sekolah. Sudah lamami itu juga buka. Sekitar sini ada tiga, tapi dua tutup. Coba cek sendiri,” sambungnya.
Sebuah toko yang berdiri tepat di hadapan SMPN 8 Makassar tidak hanya sekadar menjual alat tulis, cetak foto dan scan dokumen, tapi juga menawarkan jasa pengiriman berkas formulir PPDB. Tarif yang ditawarkannya sebesar Rp30 ribu.
“Kalau sudah lengkap berkasnya sudah ada SKL, KK, dan akta kelahiran atau dokumen yang diperlukan, sudah bisa kami kerja. Tidak lamaji,” terang seorang pegawai di toko tersebut yang tidak ingin menyebutkan namanya.
Kata dia, pegawai tokonya hanya sebatas membantu untuk mengirim berkas dokumen pendaftaran lalu memberikan bukti cetakan pendaftaran. Tidak lebih. Estimasi waktu untuk pengiriman setiap berkas tidak dapat dipastikan.
“Kalau jaringan baik, biasanya cepatji. Kalau buruk pasti harus menunggu. Tapi paling lama biasanya tiga jam saja. Kalau sudah sukses terkirim, tunggumi saja dari pihak operator di sekolah. Yang datang tidak menentu jumlahnya. Harga kami kasih Rp30 ribu,” singkatnya.
Irvan, orang tua siswa mengaku sempat kesulitan dan bingung cara mengirim berkas pendaftaran online secara mandiri. Selain kualitas jaringan yang tidak mendukung, dia tidak menguasai pengiriman menggunakan komputer. Sehingga memilih menggunakan jasa pengiriman berkas secara daring.
“Dari kemarin saya bolak-balik. Sekarang saya gunakan saja jasa pengiriman. Kan pengiriman berkas formulir ini tidak bisa melalui telepon. Harus komputer. Jadi tentu ini sangat sulit bagi saya,” keluhnya.
Dia mengaku sangat khawatir mendaftar melalui telepon genggamnya sendiri. Karena rumor beredar kalau sudah memasukkan data anak dan kemudian gagal server, maka pengiriman data selanjutnya otomatis ditolak.
“Harusnya kan ada fasilitas disediakan untuk mendaftar. Ini tidak ada sama sekali. Sementara tahapan awal saja saya daftar titik koordinat tidak akurat. Apalagi kalau mau pengiriman berkas. Harus panitia perhatikan kualitasnya ini. Jangan kesannya ada main-main di dalamnya,” tandasnya. (arf)

