MAKASSAR, BKM — Perayaan Hari Raya Iduladha 1442 H tahun ini sedikit berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Walaupun masih dalam suasana pandemi Covid-19, namun daya beli masyarakat mulai membaik. Itulah yang tengah dirasakan Jumaking, seorang penjual hewan kurban sapi di Makassar.
NAMA Jumaking cukup populer di kalangan penjual hewan kurban di kawasan Jalan Aroepala, Kecamatan Rappocini. Karena ia sudah cukup lama berjualan hewan ternak setiap tahun pada momen menjelang Iduladha. Kali ini Jumaking berjualan di atas lahan kosong tak jauh dari kanal jembatan pertama Aroepala.
Jumaking mengaku, penjualan sapi calon hewan kurban tahun ini mulai membaik. Sangat berbeda dari tahun lalu. Hal itu ditandai dalam dua minggu menjelang Iduladha, sudah ada 20 ekor sapi miliknya yang terjual. Total ia menyiapkan 50 ekor sapi untuk dijual.
“Semoga tahun ini lebih baik lagi dibandingkan tahun lalu. Sekarang sudah laku terjual 20 ekor dari total 50 ekor. Padahal lagi dua minggu menjelang Iduladha. Tahun lalu sepi. Dua minggu menjelang lebaran belum ada yang laku terjual sampai 10 ekor,” kenangnya.
Menurut Jumaking, sapi-sapi yang siap jual di Kota Makassar, didatangkan langsung dari Kabupaten Bulukumba. Puluhan ekor sapinya diangkut menggunakan mobil truk juga pikap. Sebelum diberangkatkan, calon hewan kurban siap jual telah melalui pemeriksaan.
Pemeriksaan hewan dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Pertanian di daerah asal. Mereka mengecek kondisi ternak. Mulai bulu, tanduk, umur dan ciri khas lain. Setelah dinyatakan lulus, Jumaking diberikan surat keterangan (suket) kesehatan hewan. Menjadi sebuah bukti jika puluhan hewannya patut dijual untuk kurban dan aman dikonsumsi.
“Kalau ada calon pembeli menanyakan berat, kami taksir saja. Karena dalam surat atau dokumen hewan tidak ada detail beratnya. Yang pasti sapi yang kami jual ini adalah calon hewan kurban jenis kelamin jantan,” sebutnya.
Agar sapi sebagai calon hewan kurbannya tidak stres dan tetap sehat, setiap hari dia bersama rekannya menyediakan air dan rerumputan. Jangan sampai sapinya lapar, kurus dan kemudian sakit. Itulah mengapa lahan kosong selalu disewanya. Karena di lokasi lahan kosong cenderung banyak ditumbuhi rumput-rumputan liar dan tinggal mencari air sumur sebagai minuman sapi.
“Perlu dijaga kesehatan sapi. Apalagi banyak pembeli masih menyimpan sapinya. Sapi punya cap itu berarti terjual. Nanti dekat lebaran baru diambil. Makanya, makanan tambahan seperti kulit jagung kering dan air kami siapkan setiap hari untuk memastikan kesehatan,” imbuhnya.
Harga per ekor sapi ditawarkan Jumaking terbilang cukup bersaing. Dari Rp10 juta sampai Rp20 Juta. Disesuaikan dengan berat sapi.
Ditanya tentang penggunaan kode QR untuk memastikan sapi yang sehat, Jumaking mengaku belum mengetahuinya. “Saya belum dapat pemberitahuan penggunaan QR code. Kalau cuma untuk kesehatan hewan dan kelayakannya itu kan sudah ada di surat keterangan dari dinas yang bisa kami perlihatkan. Saya juga jualan langsung, belum online,” kuncinya. (arf)

