MENCAPAI sebuah kesuksesan tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan perjalanan panjang. Salim Djati Mamma mengalami pasang surut dalam berusaha, hingga akhirnya bisa seperti saat ini.
PRIA yang karib disapa Bung Salim ini merupakan owner Vito (Virtual Technology). Ini sebuah brand di bawah naungan PT Sukses Indonetwork Digital (SID). Di dalamnya terdapat empat core bisnis. Masing-masing Vito, e-commerce, periklanan, dan media. Untuk medianya, ada televisi streaming, podcast, production house (PH), sekolah, serta yayasan kemanusiaan.
Hal itu dijelaskan Salim ketika tampil dalam Podcast Diary Putri yang ditayangkan kanal Youtube Berita Kota Makassar, Rabu (28/7).
Dijelaskan, pada tanggal 17 Agustus mendatang, pihaknya akan melakukan grand launching untuk core bisnis terbarunya, yaitu iklan dan e-commerce. Salim menyebutkan alasannya memilih 17 Agustus sebagai waktu pelaksanaan.
“Karena hari kemerdekaan Indonesia di situ adalah kemerdekaan finansial, momennya dapat. Jadi di zaman pandemi ini kan banyak orang yang merayap. Saya tidak menjadikan itu suatu musibah, namun sebagai kekuatan,” ujarnya.
Grand launching ini akan disiarkan secara live di 55 TV dan secara offline di Gedung Graha Pena, Makassar. “Undangan terbatas karena ini kan masa pandemi. Jadi betul-betul kita atur berapa kapasitasnya, maksimal 200 saja,” terangnya.
Ia menjelaskan alasannya memilih jalur iklan dan e-commerce sebagai cabang bisnis terbarunya. “Karena member saya sudah mencapai 70.000. Pengikut saya sudah setia. Jadi untuk mendapat iklan, pengiklan yang mau itu sudah jelas. Mereka bersedia memberikan iklan kepada kami dan jelas penontonnya. Tidak akan skip karena sasarannya sudah dapat,” jelasnya.
Ia juga berkisah tentang perjalanan hidupnya selama ini. Salim merupakan alumni Fajar Group. Ia pernah memimpin surat kabar Harian Ujung Pandang Ekspress. “Saya ini mantan jurnalis kriminal, kemudian saya disuruh memimpin bisnis. Saya juga bingung pertamanya. Tapi dasar saya orang marketing, saya jurnalis, saya pernah di media, kenapa tidak saya manfaatkan, jadikan sebuah bisnis,” tandasnya.
“Yakinkan gini, pasarnya di mana, berapa penontonnya. Saya melihat, siapa yang menguasai teknologi itulah yang menjadi pemenangnya. Karena terus terang, kita kalau tidak mengikuti zaman, kita akan tertinggal,” tambahnya.
Kesuksesan yang telah ia capai tidak sertamerta dengan mudah didapatkan. Namun, berkat kegigihannya untuk terus belajar dan menerapkan nilai-nilai baik yang diperoleh, ia akhirnya bisa menjadi seperti sekarang.
“Saya tujuh bersaudara itu berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Bapak saya berpesan, saya tidak akan mewariskan harta, tapi saya wariskan ilmu. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Kalau harta akan habis, ilmu tidak akan pernah habis. Jangan pernah merusak nama baik. Jagalah kepercayaan itu,” ujarnya mengutip pesan sang ayah.
Bungsu dari tujuh bersaudara ini mampu membuktikan bahwa orang yang dianggap dulunya kecil, tidak bisa dianggap enteng. Setiap orang bisa menjadi sukses dengan jalannya masing-masing. “Jadi saya tidak pernah mengatakan bahwa orang itu kecil, karena takut kualat. Ketika ada hal kecil yang membuat kita kesandung, itulah yang akan membuat kita jatuh. Jangan pernah menganggap enteng sesuatu,” jelasnya.
Berkaitan dengan masa pandemi, perusahaan-perusahaan besar maupun kecil tentu saja terkena dampak penurunan ekonomi. Ada beberapa yang menyerah dan menutup usahanya. Lalu bagaimana seorang Salim sebagai leader memimpin beberapa perusahaan yang dipegang di masa pandemi ini?
“Jangan menjadikan wabah pandemi ini sebagai malapetaka bagi kita. Saya mulai awal, ya saya tahu pandemi ada. Tidak ada yang bisa menyangkal. Cuma begini, satu jaga imun, jaga kesehatan kita. Selalu mencari ide baru. Contohnya, November nanti ada namanya ASO (Analog Switch Off) yang berganti menjadi serba digital dalam penyiaran televisi. Itu kami mengambil kesempatan ini, sehingga cepat menghubungi semua para distributor besar. Kami menjadi reseller. Jadi kami akan menawarkan kepada beberapa daerah yang ingin membuka TV streaming. Karena dengan membuka beberapa media akan memberikan peluang-peluang kepada pebisnis-pebisnis lain,” ungkapnya.
Ia berpesan, jangan anggap pandemi ini sebagai musibah yang tidak bisa dihadapi. Untuk itu kita harus berpikir kreatif dan memanfaatkan apa yang bisa dilakukan. Intinya jaga imun, jaga kesehatan, hati yang bersih dan selalu berpikir tenang. ”Setiap yang saya lakukan, Alhamdulillah tidak ada kendala yang berat asal kita lakukan dengan yakin. Jangan mengeluh. Kita jalan aja, senyumin aja,” kuncinya. (pkl)

