MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menetapkan Asrama Haji Sudiang sebagai fasilitas isolasi terintegrasi (FIT) covid-19. Namun faktanya, mereka yang terkonfirmasi positif ditolak untuk menjalani isolasi di tempat tersebut.
“Sebelum kami berdua datang pada Sabtu (31/7) malam, ada empat warga sebelumnya yang positif lebih dulu datang namun mendapat penolakan di Asrama Haji untuk isolasi. Itu karena mereka diwajibkan melampirkan surat keterangan dari puskesmas. Saya bersama teman juga sempat ditolak dengan tidak sopan oleh petugas. Disuruh pulang dengan jarak antara ruangan dengan lobi. Setelah itu mereka berlalu, karena petugas tidak mau mendekat dan tidak mau menyebutkan namanya,” ungkap DR kepada BKM, kemarin.
Belakangan, ia akhirnya diterima untuk diisolasi di Asrama Haji, dengan jaminan surat keterangan Puskesmas akan menyusul
. DR yang juga seorang wartawan dan posko di kantor gubernur, selama ini intens memfasilitasi untuk pemberitaan tentang penanganan covid-19. Namun, ketika datang tengah malam dirinya mendapat penolakan.
”Di saat hujan, di jalan sempat mendapat musibah karena terjatuh dari motor, setibanya di Asrama Haji langsung disuruh pulang,” cetusnya.
Kenyataan ini tidak sesuai dengan apa yang disampaikan sebelumnya oleh Penanggung Jawab FIT Haris Nawawi, bahwa syarat isolasi cukup menunjukan hasil PCR yang menyatakan positif covid-19
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Persandian Sulsel Amson Padolo berjanji akan menyampaikan hal itu ke Kepala Rumah Sakit Labuang Baji dr Haris selaku penanggung jawab FIT.
”Ada beberapa teman media yang memang telepon ke kami, tapi setelah menelepon Pak dr Haris, mereka sudah di sana (Asrama Haji). Persyaratan yang diminta, selain surat PCR juga surat rujukan dari puskesmas. Karena FIT integrasi dari Rumah Sakit Labuang Baji. Sehingga untuk klaim administrasi perlu rujukan tersebut,” ujar Amson.
Sulitnya mengakses FIT Asrama Haji Sudiang yang menjadi tempat isolasi pasien covid-19 bagi orang tanpa gejala (OTG) juga diungkap Ridwan Marzuki (38). Karyawan swasta ini mengatakan, dirinya dinyatakan positif sejak tanggal 28 Juli 2021 lalu.
Ia meminta rujukan di Puskesmas Pampang untuk bisa diisolasi di Asrama Haji Sudiang. Namun, pihak puskesmas mengaku hanya bisa memberi rujukan Isolasi Apung milik pemkot Makassar.
“Puskesmas tidak mau kasih pengantar. Alasannya, pengantar hanya diberikan bagi yang mau isolasi di kapal apung saja,” kata Ridwan, Minggu (1/8).
Oleh karena itu, Rido –sapaan akrabnya– lebih memilih untuk melakukan isolasi di rumahnya. Alasannya, jika isolasi di kapal bisa saja ia tambah lebih sakit.
“Nanti saya bisa-bisa tambah sakit di sana. Berdesak-desakan di kapal,” ujarnya lagi.
Senada dengan itu, salah seorang lainnya juga mengaku dipersulit ketika akan mengurus surat rujukan dari puskesmas yang berbeda untuk bisa diisolasi di Asrama Haji.
Sekadar diketahui, berdasarkan rilis Pemprov Sulsel sebelumnya, persyaratan menikmati FIT adalah mendaftar di call center Hallo Dokter 0811466465, atau mendaftar melalui website hallodokter.sulselprov.go.id. Mendapat rujukan dari puskesmas untuk dilakukan perawatan covid-19 di rumah sakit, dan melakukan swab RT-PCR dengan hasil positif dengan tanpa gejala dan gejala ringan tanpa komorbid.
FIT akan diprioritaskan untuk beberapa kelompok. Pertama, mereka yang tinggal sendiri dalam rumah dan tanpa keluarga.
Kedua, tinggal bersama kelompok rentan, yakni, usia lansia dan memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan jantung hipertensi, gagal ginjal, stroke dan penyakit pernapasan kronis dan penyakit kanker.
Ketiga, kondisi rumah tidak memungkinkan melakukan isolasi mandiri dan tidak ada kamar khusus bagi penderita.
Keempat, jika kondisi lingkungan masyarakat di sekitar rumah tidak memungkinkan dilakukan isolasi mandiri seperti ancaman penolakan atau ancaman keamanan. Penilaian tersebut dilakukan oleh puskesmas.
Isoman Apung Difungsikan Hari Ini
Pemerintah Kota Makassar mengoperasikan KM Umsini sebagai tempat isolasi mandiri (isoman) bagi orang yang terpapar covid bergejala ringan maupun OTG.
Persiapan untuk menerima pasien Isoman sudah dirampungkan.
Pada
Minggu (1/8), Wali Kota Makassar Moh Ramdan Pomanto melakukan simulasi akhir penanganan pasien covid-19 isolasi apung terpadu, sekaligus gladi seremoni penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara Pemkot Makassar dengan Kementerian Perhubungan dan Pelni.
Pengoperasian KM Umsini sebagai tempat isoman apung sempat beberapa kali mengalami penundaan. Pasalnya ,
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI belum mengeluarkan surat rekomendasi penggunaan KM Umsini milik PT Pelni untuk digunakan sebagai tempat isolasi apung bagi pasien covid-19.
“Tapi surat rekomendasi tersebut sudah ada. Surat rekomendasi dengan nomor SR.0304/II/1979/202 itu ditandatangani oleh Dirjen P2P DR Maxi Rein Rondonuwu,” ungkap Juru Bicara Makassar Recover Aloq Natsar Desi.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Danny Pomanto menyebut, alasan Pemkot Makassar menunda program tersebut diakibatkan penyerahan kapal KM Umsini harus melalui nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Perhubungan.
Kata Danny, perwakilan Kementerian Perhubungan akan datang ke Makassar, Senin hari ini.
Danny mengungkapkan saat ini sudah ada 112 penumpang yang telah bersedia isolasi di Kapal Umsini. Namun ditunda karena penandatanganan MoU. Hal itu menyebabkan calon penumpang harus melakukan tes kesehatan terlebih dahulu. (jun-rhm)

