DI tengah situasi sulit, usia tak menjadi penghalang untuk mengais rezeki demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Itulah yang dilakoni kakek bernama Incing. Ia menyebut umurnya sudah 120 tahun. Namun karena desakan ekonomi, dirinya tetap berjualan.
PADA trotoar jalan depan sebuah rumah mewah pertigaan Jalan Pongtiku-Ujungpandang Baru dan AR Hakim, Kota Makassar. Seorang kakek terlihat tengah duduk. Di depannya ada beberapa sisir pisang.
Tim Pencari Berkah di hari Jumat (13/8) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar bekerja sama dengan Yayasan Kemanusiaan Fajar (YKF) yang rencananya hendak menjumpai seorang nenek di Jalan Teuku Umar, langsung menyambangi sang kakek. Kisah dan perjalanan hidupnya pun ia ceritakan.
Sehari-harinya kakek Incing mengaku jualan pisang di depan rumah itu. Biasanya, dari 10 sisir yang ia bawa, hanya tiga atau empat yang laku. Sisa pisang yang tidak laku kemudian dia bawa pulang lagi untuk dijual keesokan harinya. Hari itu ia mengaku baru empat sisir yang terjual.
Tim lalu berbincang dengan kakek Incing. Ternyata ia kini hidup sendiri. Enam orang anaknya telah memiliki kehidupan masing-masing. Sementara istrinya telah berpulang semenjak enam tahun silam. Ia berjualan pisang demi bertahan hidup. Selama ini ia banyak dibantu oleh tetangganya.
”Anakku ada enam. Semuanya tidak tinggal sama saya. Kalau istriku, sudah lamami meninggal,” tuturnya.
Mendengar kisah hidupnya yang penuh perjuangan, tim memutuskan untuk memberikan bantuan kepadanya. Paket sembako pun diserahkan ke kakek Incing. Dia pun kaget menerima derma tersebut. Tak pernah menyangka akan mendapatkan rezeki tak disangka-sangka di hari Jumat. Tim kemudian memborong semua pisang yang dijual kakek Incing.
Karena jualannya telah habis terjual, tim lalu menawarkan kepada kakek Incing untuk mengantarnya pulang. Awalnya ia menolak. Namun setelah dibujuk, kakek Incing akhirnya mau. Mobil Berita Kota Makassar pun meluncur ke kediaman sang kakek.
Dari lokasinya berjualan selama ini, rumah kakek Incing berjarak kurang lebih tiga kilometer. Tepatnya di wilayah Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo. Bukan di pinggir jalan besar. Namun dalam lorong berukuran sempit.
Setelah masuk dan keluar lorong, akhirnya tibalah di rumah kekek Incing. Kondisinya sangat memprihatinkan. Luasnya sekitar 3×4 meter persegi. Dindingnya dari seng yang sudah berkarat. Bahkan ada yang ditutupi kardus dan tripleks bekas. Tak banyak perabot di dalamnya.
Sebuah ranjang tua ada di dalam ruangan itu. Di sinilah kakek Incing biasa melepas lelahnya. Saat tim berkunjung, seorang perempuan yang merupakan tetangganya ikut mendampingi. Dialah yang selama ini mengurus Incing setiap hari.
Setelah mengobrol dan melihat kondisi rumah kakek Incing, tim kemudian pamit. Tak lupa tim memberi pesan kepada sang kakek untuk selalu sabar dan kuat menjalani hidup ini dan selalu menjaga kesehatan. (rif)

