MAKASSAR, BKM — Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX di Papua dihelat pada bulan Oktober mendatang. Sulawesi Selatan menjadi salah satu bagian dari perhelatan empat tahunan ini.
Untuk mengikuti ajang tersebut, tentu saja diperlukan berbagai persiapan. Lalu, seperti apa persiapan yang dilakukan oleh Provinsi Sulawesi Selatan yang turut ikut dalam ajang Pekan Olahraga Nasional ini? Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sulsel Andi Arwien Azis memaparkannya pada sesi podcast di program RanahRus untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Jumat (20/8).
Dijelaskan, sebelum menepatkan komposisi kontingen yang definitif, terlebih dahulu dilaksanakan seleksi pra PON. Proses yang berlangsung 2019 ini berhasil meloloskan 32 cabang olahraga (cabor) dengan 294 atlet. Jumlah ini termasuk pelatih, asisten pelatih, mekanik dan official. Merekalah yang kemudian dipersiapkan untuk berlaga pada PON Papua yang semestinya dilaksanakan pada tahun 2020. Namun akibat adanya pandemi covid-19 yang hadir secara tiba-tiba, membuat pelaksanaan ini harus diundur.
“Waktu itu kami merasa bahwa kontingen ini tidak dapat dipersiapkan secara maksimal, karena tentu berdampak pada program latihan yang dilakukan atlet-atlet. Karena saat itu kita betul-betul menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Untuk bertatap muka langsung itu sangat tidak dimungkinkan,” terang Arwien.
Akibatnya, para atlet terpaksa diarahkan untuk melakukan latihan secara mandiri di tempat masing-masing. Untungnya, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menetapkan PON ditunda hingga tahun 2021. “Ini menjadi peluang untuk kita melakukan konsolidasi terhadap persiapan atlet-atlet kita menuju ke PON Papua,” tutur Arwien.
Saat ini, atlet-atlet Sulsel sudah intens melakukan latihan-latihan secara tatap. Termasuk melaksanakan try out dan try in pada beberapa daerah yang mereka jadikan sebagai ajang uji coba. Hal tersebut sudah dilaksanakan sejak awal tahun 2021. Sementara, dalam upaya memastikan kondisi kesehatan dan performa atlet, Dinas Pemuda dan Olahraga melakukan langkah-langkah berupa tes kesehatan dan fisik.
Dengan semakin dekatnya pelaksanaan PON XX, pada 18 Agustus lalu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman telah melakukan peresmian kontingen, yang secara khusus juga dibentuk Satuan Tugas (Satgas) PON Papua. Pembentukan satgas ini dimaksudkan untuk melakukan pendampingan dan pengawalan terhadap persiapan PON XX Papua. Satgas ditugaskan untuk memastikan para atlet terfasilitasi dengan baik pada pelaksaan PON yang akan datang.
Untuk membantu atlet-atlet yang akan bertanding agar tetap fokus dan konsentrasi saat latihan, Satgas PON kemudian melakukan pemusatan latihan di training center yang akan dimulai pada hari ini, Senin (23/8). Pemusatan latihan ini dibagi menjadi tiga klaster. Masing-masing klaster Tanjung Bunga, Petta Rani, dan Sudiang.
Penetapan klaster ini, menurut Arwien, disesuaikan dengan pembagian lokasi pelaksanaan PON XX. Nantinya di Papua akan ada empat klaster sesuai dengan lokasi pertandingan. Masing-masing Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Timika, dan Merauke.
Terkait dengan target pencapaian dalam PON Papua XX, menurut Arwien, plt gubernur menetapkan bahwa kontingen Sulsel harus memperbaiki peringkat. “Itu dulu yang paling penting,” sahut Andi.
Pada PON XIX di Jawa Barat, kontingen Sulsel berada pada posisi 12. Karenanya, untuk PON XX mendatang, target yang dicanangkan minimal bisa masuk 10 besar.
Guna mencapai itu, dibutuhkan persiapan serta analisis potensi dari cabor yang bisa berkontribusi terhadap raihan medali, khususnya medali emas. Oleh satgas, telah ditetapkan 15 cabor yang potensial meraih 20 medali emas.
”Selama ini pada setiap pelaksanaan PON, Sulsel mendominasi di cabor beladiri, seperti karate, muathai judo, kempo, taekwondo, dan tinju. Untuk karate target kita tiga emas, tinju dua emas, dan yang lainnya masing-masing satu emas. Kota juga pasang target emas di olahraga perairan, seperti layar, selancar, dan dayung,” terang Arwien lagi.
Termasuk olahraga angkat besi. Rahmat Erwin Abdullah yang mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade 2020 Tokyo, juga ditargetkan membawa pulang emas.
Atas prestasinya pada Olimpiade Tokyo, Rahmat dikucur sejumlah bonus dari Pemprov Sulsel. Selain uang Rp300 juta, ia juga mendapatkan satu unit rumah sebagai hadiah tambahan. Arwien mengklaim, bonus tersebut merupakan yang terbesar diberikan kepada atlet Sulsel yang berprestasi pada level internasional.
Bukan hanya Rahmat, sebagai wujud perhatian dari Pemprov Sulsel terhadap masa depan atlet daerah ini, disiapkan posisi sebagau aparatur sipil negara (CASN). Formasi yang disiapkan, seperti pelatih dan asisten pelatih.
Khusus untuk sang lifter, menurut Arwien, Pemprov Sulsel sebenarnya sudah bersiap merekrutnya menjadi PNS. Namun terakhir diperoleh informasi, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah menyiapkan formasi khusus bagi Rahmat Erwin Abdullah. ”Jadi Erwin akan menjadi ASN Kemenpora,” tandas Arwien.
Kepada atlet Sulsel yang akan berlaga di PON XX, pemprov juga menyiapkan kejutan. Mereka yang berprestasi dengan meraih medali, bonusnya akan dilipatgandakan dari pelaksanaan PON sebelumnya.
“Saya gambarkan bahwa pada PON XIX di Jawa Barat, peraih medali emas mendapatkan bonus sebesar Rp100 juta. Kalau digandakan, berarti pada PON Papua XX ini akan mendapatkan Rp200 juta,” ungkap Arwien.
Ia berharap hal ini dapat menjadi pemantik semangat atlet-atlet agar meraih medali emas lebih banyak lagi pada PON di Papua. (pkl)

