MALANG tak bisa ditolak, untung tak dapat diraih. Begitulah nasib yang kini harus ditanggung para korban kebakaran di Lorong 1, 2, 3, dan 4 Jalan Muhammad Tahir, Kampung Lepping, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Mereka harus menerima takdir kehilangan tempat tinggal dalam waktu sekejap, dan saat ini tidur beratapkan terpal.
KAMIS (26/8), BKM berkunjung ke lokasi yang terbakar hebat pada 11 Agustus lalu. Warga yang terdampak peristiwa ini tampak berada di posko-posko yang didirikan para relawan. Ada juga yang tinggal sementara di rumah warga lainnya, tak jauh dari lokasi kebakaran. Sebagian lainnya memilih menumpang di masjid terdekat.
Bantuan untuk mereka telah disalurkan, baik dari para relawan, dermawan, maupun pemerintah. Seperti makanan, tenda, pakaian, peralatan mandi, serta paket sembako. Di tengah kondisi kesusahan yang dialami saat ini, warga berhadap adanya bantuan material untuk bisa membangun tempat tinggal mereka yang telah rata dengan tanah. Jumlahnya kurang lebih 100 unit rumah semi permanen.
”Untuk bantuan lumayan banyak. Itu dalam bentuk sembako. Tapi kalau yang bentuk material bangunan, belum ada,” tutur Irfan, salah seorang warga korban, kemarin.
Menurut Irfan, Pemkot Makassar telah menyampaikan kepada warga terkait rencana untuk membangun apartemen lorong (aparong) atau rumah susun (rusun). Fasilitas tersebut sebagai solusi atas masalah yang dihadapi warga saat ini. Namun, warga sekitar tampaknya tidak menyetujui tawaran tersebut. ”Warga tidak mau karena kalau rumah susun, mungkin agak sempit,” ujarnya.
Disebutkan Irfan, satu rumah di lokasi ini biasanya dihuni oleh dua sampai tiga kepala keluarga sekaligus, sehingga rusun tidak cocok. Karenanya, warga memilih untuk membangun sendiri rumah hunian mereka.
“Yang penting tertutup atapnya dulu. Nanti dindingnya bisa dari tenda atau bekas spanduk. Yang jelas atapnya tidak bocor lagi kena hujan,”
imbuhnya.
Irfan kembali mempertegas harapan warga, bahwa yang mereka butuhkan saat ini adalah bantuan material bangunan. Material tersebut akan digunakan untuk membangun tempat bernaung yang lebih layak.
Sementara itu, penanggung jawab posko bantuan untuk korban kebakaran menyebutkan bahwa saat ini kondisi tempat tinggal warga masih darurat. Mereka masih tidur di tenda. Sementara tenda tersebut sudah tidak memungkinkan lagi untuk dipakai akibat hujan sehari sebelumnya. Bila hujan turun, warga akan kehujanan.
Para penanggung jawab posko induk bantuan kebakaran juga setuju bahwa material bangunan adalah bantuan yang paling penting disalurkan saat ini. Seperti seng dan balok untuk dijadikan atap.
“Karena kalau terpal yang dipakai sebagai atap, sampai kapan. Sudah banyak terpal yang rusak akibat hujan yang terjadi kemarin. Akibat lain yang ditimbulkan adalah barang-barang warga serta bantuan menjadi basah,” terangnya. (pkl)

