pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Sembahyangka Dulu, Berita Sudah Kukirim….

In Memoriam Patahuddin Karaeng Kulle, Kepala Biro BKM Jeneponto

KAMIS (19/8) siang menjelang sore. Lewat pesan WhatsApp, redaktur halaman Gojentakmapan (Gowa, Jeneponto, Takalar, Maros, Pangkep) Amiruddin Nur berkomunikasi dengan Kepala Biro Berita Kota Makassar (BKM) Jeneponto Patahuddin Karaeng Kulle.
Ada berita peristiwa seorang kakek menjadi sasaran penganiayaan di sebuah lapangan. Korban kala itu menderita luka parah. Karaeng Kulle, begitu ia akrab disapa, diminta untuk membuat beritanya. Termasuk konfirmasi dari aparat kepolisian setempat.

Tak lama berselang, berita terkirim. ”Sembahyangka dulu, andi. Berita sudah kukirim,” ujarnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon selularnya. Ia baru saja selesai mengirim berita ke redakturnya.
Siapa sangka, itu merupakan komunikasi terakhir dengan Karaeng Kulle. Pada Minggu (29/8) pagi, ia berpulang ke pangkuan ilahi. Innnalillahi wainna ilaihi rojiun.
Sebelumnya, almarhum memang sudah masuk keluar rumah sakit akibat sakit gula yang dideritanya. Karaeng Kulle meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Almarhum bergabung dengan Harian Binabaru (sekarang BKM) sebagai orang pengantar koran di wilayah Kabupaten Jeneponto. Ia bersama dengan almarhum H Jabbar Tanro, yang ketika itu menjadi koresponden. Kolaborasi di antara keduanya terjalin dengan baik. Tidak mengherankan jika oplah BKM cukup tinggi di wilayah ini. Bahkan pernah menjadi yang terbesar se-Sulselbar.
Karena kemampuannya mengelola koran, Karaeng Kulle kemudian diangkat menjadi pembantu koresponden mendampingi H Jabbar Tanro. Kerja-kerja jurnalistik pun dilakoninya, hingga akhirnya Jabbar Tanro berpulang.
Tongkat estafet kepala biro kemudian beralih ke tangan Patahuddin. Ia dipercaya menjadi kepala biro BKM di Jeneponto.

Selama mendapat amanah itu, Karaeng Kulle dikenal gigih dalam melaksanakan tugas. Tak jarang dirinya mendapat penghargaan dan apresiasi dari kantor.
Saribulan, kepala Biro BKM di Gowa berkisah bahwa dirinya pertama kali mengenal Karaeng Kulle ketika ada acara peringatan Hari Jadi Gowa di Malino. Itu sekitar tahun 2007. ”Saya sempat jengkel, kenapa ada laki-laki berpakaian lusuh tapi pakai atribut Berita Kota Makassar. Saya pikir orang itu orang yang mengaku-ngaku wartawan BKM. Karena yang tugas di Gowa hanya saya. Tapi kenapa ada orang lain pakai atribut BKM dan kesana kemari memotret pejabat,” kenang Bulan.
Sebaliknya, lanjut bulan, orang tersebut juga tidak mengenal dirinya karena ia tidak memakai atribut kantor saat Hari Jadi Gowa. ”Saya nyaris menelepon orang kantor untuk laporkan ada oknum yang pakai atribut Berita Kota, tapi tidak jadi. Ternyata dia hanya lebih banyak berdiri di parkiran motor setelah foto salah satu pejabat dr Jeneponto yang hadir. Saya masih kurang paham kenapa cuma pejabat itu saja yang difotonya. Saya kemudian sibuk wawancara sejumlah pejabat, jadi aktivitas Karaeng Kulle tidak kuperhatikan lagi,” tutur Bulan.
Ia baru mengetahui Karaeng Kulle sebagai wartawan BKM di Jeneponto ketika berlangsung rapat akhir tahun di Kabupaten Takalar. Ketika itu hadir sebagai koresponden Jeneponto.
”Setelah kenal, ternyata dia orang yang super ramah dan baik hati. Saya juga sempat menyampaikan pengalaman itu ketika raker berlangsung dan dia tertawa. Selamat jalan sahabatku. Semoga husnul khatimah…” pinta Bulan dalam doanya.
Bagi Askari yang bertugas di Kabupaten Maros, kabar kepergian Karaeng Kulle untuk selama-lamanya merupakan hal yang amat pahit untuk diterima. Bagaimana tidak, almarhum merupakan rekan kerja yang dikenal baik. Ia tidak pernah sama sekali melukai hati rekannya. Apalagi berbicara kasar yang dapat menyinggung perasaan.
”Padahal setiap kali pergi bersama, kami selalu ”kerjai” semua di perjalanan. Apakah saat kita berada di dalam bus maupun di hotel kita menginap. Sosok Karaeng Kulle selalu menjadi penyejuk dalam rombongan, seperti ketika kita berkunjung ke Jakarta, Bandung, Yogya, dan Malang,” ujar Askari
.
”Sejak bergabung di BKM, kami rutin bertemu sekali sebulan pada rapat bulanan. Biasanya sebelum rapat kami biasa ngumpul di warkop sambil membicara soal perkembangan koran kita di daerah masing masing. Di setiap itu Karaeng Kulle selalu pesan pada kita semua, jika kamu mau tidur nyeyak tanpa beban lunasi semua utangmu di kantor. Jangan salahgunakan uang kantor untuk kepentinganmu sendiri. Ini pesan terakhir saat bertemu di kantor BKM,” tambah Askari.
Kepala Biro BKM di Barru dan Pangkep Rusdi Nasaruddin, mengenang kebersamaan dengan almarhum Karaeng Kulle. Ia menyebut almarhum sebagai seorang reman dan sahabat yang luwes, mudah bergaul serta suka menghibur.
”Sejak bersama bekerja sebagai jurnalis di Harian Berita Kota Makassar, baik ketika dalam menghadiri pertemuan saat rapat kerja atau melakukan kunjungan bersama ke berbagai daerah dan provinsi lain, kehadiran Karaeng Kulle selalu menjadi pembeda. Karena setiap kali bertutur, kita selalu merasa terhibur. Apalagi berucap seolah tanpa beban, meski dengan menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan logat Makassar ala Jeneponto.

Selamat jalan sahabat terbaik. Insyaallah surga akan menjadi tempatmu. Aamiin….,” kata Rusdi. (sar-udi-ari)




×


Sembahyangka Dulu, Berita Sudah Kukirim….

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link