pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Rela tak Digaji Demi Dekat dengan Anak-anak Desa

Andi Sofia Jamaris, Siswi SMA yang Mengajar Sukarela di Wilayah Terpencil

SAAT ini banyak orang berusaha mencari pekerjaan demi mendapatkan penghasilan. Namun ada juga yang melakoninya demi kepuasan batinnya menyalurkan impiannya. Seperti yang dilakukan seorang gadis cantik bernama Andi Sofia Jamaris.

USIANYA masih belia. Ia duduk di bangku kelas III sebuah SMA swasta di Makassar jurusan IPS. Namun, jiwa sosialnya selalu mendesak dirinya untuk berbuat. Akhirnya, gadis yang akrab disapa Sofia itu tak menyia-nyiakan ketika ada kesempatan pendaftaran guru sukarela Rumah Berbagi Asa yang dinaungi Kementerian Agama Republik Indonesia. Sofia langsung mendaftar, bahkan nekat menyembunyikan identitasnya sebagai siswi SMA.
Dari ribuan guru sukarela yang lulus, ternyata Sofia satu-satunya pelajar SMA. Selama pandemi covid-19 ini dia ingin memanfaatkan waktunya dengan berbakti, mengisi kegiatan sukarela disamping menjalankan kewajibannya belajar daring di sekolah.

Dia satu dari 20 guru sukarela yang ditempatkan di dusun terpencil Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Sofia mengajar di Madrasah Ibtidayah Dusun Matekko, Desa Erelembang, Kecamatan Tombolopao.

Sekolah yayasan ini terletak di wilayah pelosok, cukup jauh dari ibu kota kecamatan. Untuk sampai ke lokasi butuh waktu satu setengah jam perjalanan, dan tidak bisa menggunakan kendaraan. Termasuk sepeda motor. Karena medan jalannya cukup ekstrem.

Untuk sampai ke MI, dari rumah tinggal Sofia menginap harus ditempuhnya selama 30 menit dengan kondisi yang berlumpur, yang menyebabkan kendaraan sulit masuk.

Namun bukan Sofia namanya jika tidak menikmati hidup di alam indah dan sejuk itu.
Sofia adalah anak ketiga dari lima bersaudara putri pasangan Jamaris A Khalik dan Andi Nilawati. Kedua orangtuanya ini adalah aparatur sipil negara (ASN) di Kantor Kemenag RI Kabupaten Gowa.

Berbeda dengan dua kakaknya, sejak kecil Sofia memang suka bersosialisasi. Bahkan dia sangat suka dengan dunia politik. Karenanya, sang ayah memperkirakan putrinya itu kelak akan menjadi seorang politisi wanita di zamannya.

Hal itu diakui ayah dan ibundanya. Darah yang mengalir di diri Sofia memang beda. Dia gadis yang punya rasa peduli besar jika melihat kehidupan miris di sekitarnya.

Kenapa sampai nekat mau menjadi guru dan sukarela pula? Sofia yang ditemui di salah satu kafe di Sungguminasa, kepada BKM menjelaskan bahwa itulah cita-citanya. Ia ingin dekat dengan kehidupan anak-anak desa.

“Saya ingin berbagi ilmu kepada mereka. Saya suka mengajari hal-hal positif untuk mereka. Saya ingin mereka menjadi anak-anak yang memiliki dedikasi tinggi dan rasa patriotisme yang besar. Yang paling utama adalah menanamkan kepada mereka rasa cinta kampung dan tanah air, ” jelas Sofia.

Bersama delapan orang guru sukarela lainnya, setiap dua kali setiap bulan Sofia datang mengajar di MI Matekko tersebut.

“Saya memiliki waktu mengajar dua hari dalam sebulan. Tapi kadang saya berada di Matekko empat hari. Dua hari mengajar mata pelajaran umum, dua hari lagi memberikan bimbingan kepada anak-anak setempat tentang hal sosial kemanusiaan,” tuturnya.

Rumah Berbagi Asa adalah organisasi dari para guru sukarelawan yang dibentuk oleh Kemenag RI. Mereka disebar mengajar di MI dan MTs milik Kemenag RI.

“Saya sangat senang dengan aktivitas ini. Saya tidak pikirkan gaji. Yang saya pikir bagaimana bisa mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapatkan. Yang saya tahu dan saya terima dari pembekalan sebagai guru sukarelawan bisa saja bagikan kepada anak-anak di desa. Termasuk saya mengedukasi mereka juga untuk taat protokol kesehatan di kampung sendiri. Terlebih kalau sempat ke kota. Dan Alhamdulillah mereka taat prokes, menggunakan masker setiap hari ketika beraktivitas meski mereka tahu di kampungnya aman dari penyebaran covid-19,” papar gadis berusia 17 tahun ini.

Jiwa srikandi memang ada dalam diri gadis berpostur semampai ini. Sofia mengikuti jejak ayahnya yang memang besar di dunia aktivis, meski saat ini diamanahi salah satu jabatan dalam struktural Kemenag RI Kabupaten Gowa.

Meski ayahnya termasuk seorang pejabat, namun Sofia tidak ingin nama orangtuanya itu dibawa-bawa. Apalagi saat dirinya menjalankan misi sosialnya sebagai guru sukarela. Kepada kepala sekolah maupun guru di MI Matekko, Sofia tidak mau identitasnya ketahuan. Sofia tidak mau karena nama orangtuanya akhirnya dirinya pun mendapat perlakuan istimewa pihak sekolah dan yayasan.

“Dia (Sofia) selalu mewanti-wanti saya dan ibunya agar tidak memberitahu ke pihak sekolah bahwa dia putri saya. Alasannya, karena dia tidak ingin mendapat perlakuan istimewa dari pihak sekolah maupun aparat pemerintah setempat ketika tahu dia putri siapa. Saya bangga pada anak saya ini. Saya lihat dia begitu mandiri dan itu merupakan aset baginya ketika dia sudah dewasa kelak dan semakin siap menghadapi tantangan kehidupan,” ungkap Jamaris A Khalik, ayah Sofia ditemui terpisah.

Selama mengajar di MI Matekko, Sofia memberikan pelajaran dengan pola belajar alam. Alasannya, dengan cara seperti itu peserta didik akan lebih mudah mencerna pelajaran yang diberikan.

“Saya puas dengan menjadi guru sukarela seperti ini. Saya senang, karena saya justru banyak belajar bagaimana menghadapi masalah, menghadapi orang, menghadapi kondisi saat ini. Apalagi di desa begini banyak anak tidak tahu IT. Di situ juga saya arahkan mereka belajar dan menggunakan IT, ” terang Sofia lagi.

Sebelum jadi guru sukarela, Sofia sudah sering mengajak anak-anak tetangga untuk belajar di teras. Sama ketika ke kampung ibunya di Bulukumba, kadang mengajak anak-anak setempat untuk diajari membaca.

“Saya senang melihat anak-anak kalau sudah bisa mengeja, apalagi membaca kalimat,” ucap Sofia sambil tersenyum. (saribulan)




×


Rela tak Digaji Demi Dekat dengan Anak-anak Desa

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link