PROMOSI yang dilakukan secara massif oleh Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) telah berbuah hasil. Di saat perguruan tinggi lain di sekitarnya mengalami penurunan peminat, UMSi malah mengalami sebaliknya.
Rektor UMSi Dr Umar Congge menjelaskan apa yang dilakukan pihaknya untuk bisa sampai pada pencapaian saat ini. Ia menjadi narasumber dalam siniar (podcast) yang kini telah tayang di kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Di awal penjelasannya, Umar Congge menceritakan awal terbentuknya UMSi. Bermula dari dua perguruan tinggi sebagai cikal bakal, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) serta Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIPOL) yang lahir tahun 2002-2003. STIP memiliki tiga program studi (prodi), dan STISIPOL dua prodi.
Di tahun 2020 keduanya kemudian bergabung dan lahirlah UMSi melalui SK Menristek Dikti Nomor: 526//2020. UMSi ketika itu memiliki lima prodi, yang kesemuanya kini terakreditasi B. Begitu pula dengan institusinya juga terakreditasi B.
Lima prodi di Fakultas Pertanian adalah Peternakan, Manajemen Sumber Daya Perairan, dan Agroteknologi di Fakultas Pertanian. Sementara di Fakultas Sosial dan Politik (Fisipol) ada dua prodi, masing-masing Administrasi Publik dan Ilmu Pemerintahan.
”Untuk saat ini ada empat prodi baru sebagai tambahan. Satu di Fakultas Pertanian, yaitu Agribisnis. Sementara tiga lainnya di Fakultas Teknik, masing-masing Perencanaan Wilayah dan Kota, Bisnis Digital, dan Perencanaan Makenik. Sehingga jumlah keseluruhan saat ini sebanyak sembilan prodi. Prodi yang lama terakreditas B, dan yang baru akreditasinya baik, sehingga semua mahasiswanya bersyarat untuk mendapatkan beasiswa,” jelas Umar.
Seiring dengan upaya yang dilakukan civitas akademika, UMSi mampu mendorong peningkatan angka peminat. Target penerimaan mahasiswa baru tahun ini berhasil dilampaui.
Namun, menurut Umar Congge, pihaknya tetap membatasi menerima maba dengan pertimbangan rasio antara dosen dan mahasiswa. Sebab jika rasio tidak seimbang, akan berdampak pada turunnya akreditasi.
Diakui, seluruh prodi yang ada di UMSi cukup diminati. Namun yang banyak peminatnya adalah Administrasi Publik, Pemerintahan, dan Peternakan. Sementara ada satu prodi baru, yang menurut Umar cukup luar biasa perkembangannya, yaitu Agribisnis.
”Prodi baru Agribisnis ini di tahun pertama menerima mahasiswa baru langsung ada dua kelas. Ini sebuah prestasi bagi perguruan tinggi yang ada di daerah dan mampu menerima mahasiswa yang cukup banyak,” ujarnya.
Banyaknya peminat tersebut, diakui Umar, karena Agribisnis masuk dalam kategori prodi millenial. Tingginya minat mereka disebabkan karena generasi muda sekarang, kalau misalnya bicara pertanian saja biasanya tidak tertarik. Namun jika membahas tentang agribisnis, berarti bicara tentang bagaimana menjadi pengusaha di bidang pertanian. Selain itu, lanjut rektor, pihaknya juga gencar melakukan promosi, baik melalui media maupun melalui cara lain.
”Wilayah Kabupaten Sinjai terbilang kecil, tetapi jumlah pendaftar kami lebih tinggi dibanding perguruan tinggi yang ada di sekitar. Kami memang melakukan ekspansi, bukan hanya di Sinjai dan daerah sekitar, seperti Bulukumba dan Bone. Tapi juga sampai di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Karena banyak orang Sinjai merantau ke sana dan sudah sukses ekonominya. Sehingga jika ada anaknya yang masu kuliah, mereka kirim ke Sinjai dan tinggal di keluarganya,” ungkap Umar Congge.
Promosi juga dilakukan dengan menempatkan sembilan orang mahasiswa yang melaksanakan KKN tematik di Kabupaten Kolaka. Ada juga yang pernah melakukannya di Lombok. Sekarang di Gowa dan Bone. Yang mereka lakukan adalah membawa program dari kampus. Temanya tentang bagaimana menjadikan desa tersebut melek digital. Salah satunya dengan membuat program Simdes (Sistem Informasi Desa), sehingga para kepaal desa cukup antusias menerima mahasiswa UMSi.
Pihak kampus juga intens menyekolahkan tenaga dosen untuk jenjang strata dua (S2) dengan biaya dari kampus, dan memberikan rekomendasi untuk mendapatkan beasiswa bagi mereka yang ingin lanjut ke jenjang S3.
Karena perguruan tinggi swasta tidak boleh hanya mengandalkan dana dari mahasiswa, lanjut Umar Congge, UMSi lalu membangun UGH (UMSi Guest House). Tempat ini digunakan bagi tetamu UMSi dan umum.
Selain itu, saat ini sementara berlangsung pembangunan auditorium UMSi berlantai tiga. Ada pula ruang pertemuan berlantai dua dan bisa dijadikan bangunan serbaguna. Sifatnya umum dan nantinya bisa dijadikan tempat perkuliahan jika program S2 dibuka. Mahasiswa yang kuliah S2 bisa menginap di UGH.
Menurut Umar Congge, prodi Administrasi Publik sudah diajukan sejak setahun lalu. Namun terkendala dengan keterbatasan SDM yang belum mencukupi. ”Sekarang SDM kita sudah mencukupi. Mudah-mudahan awal tahun depan sudah keluar izinnya dan bisa buka bersamaan dengan prodi yang baru pada jenjang S1,” imbuhnya.
Rencanaya, prodi S1 baru yang akan dibuka adalah Olahraga dan Rekreasi, Perpustakaan, dan Rekayasa Perencanaan Elektrik yang masuh vokasi teknik. Pihak UMSi sudah berkoordinasi dengan pihak kementerian dan sementara diproses untuk follow up.
”Alasan kami membuka program S2, karena peminatnya cukup banyak. Khususnya aluni Administrasi Publik. Apalagi sekarang pemda-pemda ingin pegawainya lulusan S2,” jelasnya. (*/rus)

