MAKASSAR, BKM — Di era millenial seperti saat ini, pemuda harus berani tampil di depan. Memberi gagasan untuk mengubah negeri. Menjemput mimpi di masa muda.
”Ada banyak cara mengabdi untuk negeri. Luruskan niat bahwa kehadiran kita membawa manfaat kepada sesama,” ujar fungsionaris DPD Partai Gerindra Sulsel, Andi Anhar Rahman.
Direktur Pemasaran PT Centra Biotech Indonesia yang akrab disapa Aan ini, mengatakan bahwa sebagai pengusaha berlatar belakang di sektor pupuk, khususnya pertanian, dirinya memiliki tanggung jawab secara pribadi untuk memajukan daerah dan bangsa ini. Pandemi covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini menjadi pelajaran sangat besar bagi kita semua bahwa di sektor pertanianlah yang dapat menolong dari ancaman lemahnya perekonomian, hingga tidak merasakan kelaparan karena pangan tetap terjaga.
”Semua itu tidak lepas dari terjaganya sektor pertanian kita.
Seperti kata Pak Mentan, jika daerah kita mau maju, kita harus memajukan sektor pertanian. Karena menyayangi pertanian berarti kita adalah pahlawan yang menyelamatkan bangsa dan negara,” tuturnya.
Di era digital seperti saat ini, menurut Aan, kita semakin terbantu dan dimudahkan untuk malakukan promosi hingga bersosialisasi mengenai produk hayati, yang tentunya akan menjadi solusi jangka panjang ketika mahalnya pupuk kimia atau dihilangkannya pupuk subsidi oleh pemerintah. ”Tentunya kami melakukan promosi melalui platform digital, media sosial hinggal iklan untuk meningkatkan daya beli masyarakat petani terhadap produk kami,” tandasnya.
Harus Kritis
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Makassar, Firman Pagarra menyebut bahwa pemuda merupakan pilar sebuah bangsa. Kontribusinya cukup besar dalam menjaga keutuhan bangsa. Terbukti dengan lahirnya Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928.
Esensi dari Sumpah Pemuda tersebut, kata mantan kepala Bagian Humas Pemkot Makassar ini, harus dikawal dan diteladani pemuda zaman now. Sumpah bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu harus menjadi gelora yang memberi spirit untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman.
Di era digitalisasi ini, kata lelaki kelahiran 1981 tersebut, banyak tantangan yang dihadapi para pemuda. Terutama bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal positif dan meningkatkan kualitas hidup. Bukan untuk memecah belah persatuan.
”Kehadiran media sosial membuat arus informasi tak terbendung. Pemuda harus kritis dalam menyaringnya dan tidak mudah termakan hoaks. Selain itu, jangan sampai teknologi digital yang perkembangannya sangat pesat membuat anak muda tumbuh dengan jiwa individualis. Hanya berinteraksi dengan gawai dan melupakan jiwa sosial,” ujarnya.
Selain itu, jiwa kemandirian harus dipupuk agar bisa tegak berdiri di atas kaki sendiri, produktif dan tidak tergantung pada orang lain harus dimiliki. Termasuk menjadi inovator atau trendsetter bagi pemuda lainnya.
Camat Ujung Pandang, Andi Pattiware mengatakan, Sumpah Pemuda merupakan simbol perjuangan anak muda untuk mempersatukan berbagai perbedaan yang ada di tanah air. Momen ini harus dijadikan spirit atau motivasi bagi anak muda sekarang untuk berjuang menjadikan Indonesia megara yang besar dama bingkai semangat persatuan dan kesatuan di tengah keanekaragaman.
“Kekuatan Sumpah Pemuda bisa memupus perbedaan di antara kita. Semangat itu harus dikawal untuk mengisi kemerdekaan dan menjadikan bangsa ini bangsa yang besar,” katanya.
Dia tidak bisa menafikan tantangan yang dihadapi pemuda saat ini dalam mengisi kemerdekaan cukup besar. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, anak muda harus cerdas dalam memanfaatkan momen untuk meningkatkan kualitas diri.
Gali potensi dan tingkatkan kemampuan. Teknologi digital bisa menjadi lawan, namun bisa juga menjadi kawan. Bergantung cara anak muda memanfaatkannya.
Dia memberi gambaran, kehadiran media sosial bisa dimanfaatkan untuk ‘menjual’ potensi yang kita miliki. Namun jika kita tidak cerdas memanfaatkannya, akan menjadi boomerang untuk diri sendiri. Termasuk bisa memecah belah persatuan bangsa.
“Jadi tantangannya cukup berat. Bergantung dari kita, bagaimana memposisikan diri dalam memanfaatkan era digitalisasi ini untuk kebaikan. Bukan untuk keburukan,” pungkasnya.
Akselerasi Digitalisasi
Anggota DPRD Sulsel dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ismail Bachtiar mengatakan bahwa terkait dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan bagaimana tantangan pemuda di era digital saat ini, maka narasi tersebut selalu berulang yang dilakukan di setiap tahun.
“Olehnya itu, kami tentu berharap bahwa dari tahun ke tahun kemajuan era digitalisasi mampu diakselerasi menjadi sebuah karya. Menjadi sebuah produk yang bermanfaat untuk masyarakat. Tentu tidak banyak di antara kita yang kemudian melakukan hal-hal yang berbeda dengan yang lainnya. Dalam artian hal yang dapat bermanfaat untuk orang banyak,” ujar Ismail, kemarin.
Meski demikian, Ismail berharap dengan momentum ini para generasi muda semakin memberikan keterbukaan. “Saya kira dengan momentum ini sekurang-kurangnya bisa memberikan kita gambaran bahwa zaman semakin terbuka, transparansi semakin di depan, sehingga amat disayangkan jika anak-anak muda tak mampu memperlihatkan karya yang nyata di tengah masyarakat,” jelasnya.
Legislator Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulsel Imam Fauzan AU, mengemukakan pemuda harus menyesuaikan dengan perubahan zaman yang begitu cepat. “Pemuda harus menjadi leader of change di masyarakat. Berkontribusi dalam berbagai kehidupan masyarakat dengan menjadi tulang punggung pembangunan, serta penggerak roda perekonomian,” tandas Imam yang juga ketua Fraksi PPP DPRD Sulsel ini. (rhm-rif)

