MAKASSAR, BKM–Ketua DPRD Kota Makassar, Rudianto Lallo , merespon positif usulan penambahan biaya tak terduga (BTT) dari Pemerintah Kota Makassar.
Ini tekait rencana Pemerintah Kota Makassar yang akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 miliar masuk dalam BTT, khususnya penanganan covid-19 tahun 2022 mendatang.
“Kita menyediakan untuk post anggaran yang kita tidak sangka nanti kalau ada bencana. Jangan nanti ada bencana baru anggaran kita di sana sudah tidak ada, tidak tersedia misalkan,” kata Rudianto.
Menurutnya, tak masalah jika anggaran BTT itu tinggi hingga mencapai 200 miliar. Ia khawatir di masa mendatang covid-19 akan lebih mengganas lagi.
“Jangan sampai nanti tiba-tiba kita tidak tahu tahun depan apa yang terjadi. Siapa bisa menjamin covid-19 ini akan melandai, bisa-bisa tahun depan naik misalkan,” sebutnya.
Ia menambahkan, perlu ada antisipasi melalui anggaran BTT. Ia mengatakan di Kota Makassar sudah seharusnya ada Peraturan Daerah yang bisa menjawab jika ada bencana.
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Makassar, Mario David, menyatakan lain. Menurutnya, , anggaran penanganan covid-19 lebih baik dialihkan untuk pembenahan rumah sakit tipe C milik Pemerintah Kota Makassar yang hingga kini belum tersentuh sejak 2019 lalu.
“Anggaran penanganan covid-19 pada di APBD Pokok 2022 tidak akan sebesar itu, paling mentok di Rp100 milliar. Pertimbangannya adanya penurunan kasus,” kata Mario, kemarin.
Menurutnya, penganggaran yang berlebihan tanpa perencanaan baik, hanya akan menghasilkan refocusing anggaran yang akan memakan banyak waktu.
“Pengalaman 2 tahun terakhir APBD kita terus refocusing-refocusing habis waktu untuk itu. Awalnya Rp50 milliar kemudian kita refocusing Rp380 milliar dan akhirnya di-refocusing dan akhirnya cuma Rp200 miliar yang terpakai,” sebutnya.
Mario menilai pembenahan fasilitas kesehatan merupakan hal yang sangat krusial di tengah pandemi covid-19.
“Rumah sakit. Untuk membangun persiapan RS kita yang ada di Batua, Ujung Pandang segera di-finishing, RS ibu dan anak Mamajang segera dibangun, RS Sudiang perencanannya sudah harus di situ, RS di Minassaupa segera dibangun. Memperkuat 47 puskesmas lainnya yang kita punya,” tuturnya.
Menurutnya jika ini berhasil dibenahi, meski covid-19 ada, masalah-masalah seperti isolasi, keterisian BOR hingga vaksinasi, dan penganggaran tidak akan besar lantaran dapat tertangani olah RS tersebut.
“Coba pikir, kalau orang covid-19 larinya ke mana? Dari pada dia ke hotel atau kapal umsini lagi, mending kita ke RS dan puskesmas kita sebagai sarana fasilitas kesehatan. Jadi perlu dimantapkan fasilitas kesehatan kita,” ungkapnya.(nug)

