GOWA, BKM — Sebuah video pengeroyokan seorang siswi SMA oleh beberapa pelajar perempuannya lainnya viral di media sosial (medsos). Korban berinisial AA. Usianya 14 tahun. Ia tercatat sebagai siswi pada salah satu SMA di Kabupaten Gowa.
Aksi pengeroyokan itu divideokan oleh beberapa orang yang menyaksikannya. Peristiwa tersebut terjadi, Senin (1/11) sore pukul 16.00 Wita di Jalan Tun Abdul Razak, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Akses jalan ini berbatasan langsung dengan Kota Makassar.
Situasi di kawasan jalan provinsi itu cukup menyita perhatian para pengguna jalan. Apalagi, kejadian yang melibatkan pelajar wanita itu terjadi pada hari pertama pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di Gowa.
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Gowa yang menindaklanjuti video viral itu, berhasil mengamankan empat orang yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan. Mereka adalah rekan korban sesama siswi di salah satu sekolah madrasah.
Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Boby Rachman didampingi Kasi Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan, membenarkan telah diamankannya empat orang siswi tersebut.
”Keempatnya sementara dimintai keterangan di Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). Sementara korban yang merupakan siswi di salah satu sekolah di Gowa dan pelapornya telah lebih dahulu diambil keterangannya. Keempat terduga pelaku juga berstatus siswi. Ada yang bersekolah di Gowa, ada di Makassar. Mereka saat ini menjalani pemeriksaan di ruang Unit PPA setelah kami berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Balai Pemasyarakatan, Peksos serta pihak sekolah masing-masing. Sekarang kasusnya dalam proses,” terang AKP Boby Rachman yang merilis kasus pengeroyokan tersebut di halaman Mapolres Gowa, Rabu siang (3/11).
Menurut
AKP Boby Rachman, dalam kasus ini pihaknya telah memeriksa enam orang siswi. Masing-masing empat orang di antaranya sebagai terduga pelaku, saksi pelapor dan saksi korban.
” Karena mereka semua masih di bawah umur, maka sebelum kasus ini ditangani, terlebih dahulu kami berkoordinasi dengan pihak Balai Pemasyarakatan, Peksos, Dinas Pendidikan serta pihak sekolah,” jelas Boby Rachman.
Tentang motif pengeroyokan ini, Boby Rachman mengaku belum mengetahui secara pasti.
“Motifnya masih dalam penyelidikan. Untuk saat ini kita tengah mengumpulkan keterangan dari keenam siswi tersebut,” imbuhnya.
Terpisah, tante korban bernama Ika, mengatakan ponakannya itu masih duduk di bangku kelas satu SMA. Diakuinya, pengeroyokan yang dialami AA merupakan yang kedua kalinya dilakukan oleh terduga pelaku.
“Ponakan saya itu diseret dan dipukuli sehingga banyak luka di badannya. Juga mengalami sakit di bagian telinga, dada, serta pinggul. Bahkan kalau jalan, ponakan saya seret kakinya karena kesakitan. Karena ini sudah dua kali dan ini sangat fatal, pihak keluarga menolak damai. Kami minta harus diproses berdasarkan hukum berlaku,” tandas Ika.
Menurut Ika, awalnya korban tidak mau mengaku jika sudah mengalami kekerasan fisik dari temannya. Namun, karena video pengeroyokan terhadap dirinya viral, akhirnya AA berterus terang telah dianiaya, sehingga pihak keluarga pun melaporkan ke polisi.
Awalnya, kata Ika, korban diajak oleh pelaku untuk standing motornya di jalan raya. Namun ia menolak. Karena marah, para pelaku langsung mengeroyok korban. Mereka diketahui masih berteman dengan korban, namun tidak satu sekolah.
Menyikapi kasus pengeroyokan ini,
Kasi Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan mengimbau seluruh pelajar dan masyarakat secara umum untuk tidak melakukan aksi main hakim sendiri.
“Jika ada permasalahan yang dihadapi diupayakan untuk diselesaikan dengan cara yang lebih bermartabat tanpa main hakim sendiri,” ujarnya. (sar)

