PANDEMI covid-19 tidak menjadi penghalang untuk berkreasi guna meraih prestasi. Hal itu dibuktikan oleh Fatimah, Kepala SD Negeri Beroanging, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
”SEKOLAH kami ditunjuk oleh kementerian sebagai sekolah penggerak. Ada 16 SD di Makassar yang masuk program ini,” ujar Fatimah dalam podcast di studio mini Berita Kota Makassar, Selasa (9/11).
Fatimah menjelaskan, ia bersama guru di sekolahnya telah mengikuti program sekolah penggerak yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program yang waktunya berlangsung tiga tahun ke depan, diharapkan guru-guru tidak menemui kendalam dalam mengajarkan kurikulum Sekolah Penggerak. Peserta didik mencapai hasil sesuai yang diharapkan.
Sementara untuk Sekolah Adiwiyata, SDN Beroanging telah melalui tahapan untuk tingkat Kota Makassar dan provinsi. Selanjutnya kini menuju Adiwiyata nasional. ”File yang dibutuhkan sudah kita kirim. Pembenahan masih terus dilakukan,” terangnya.
Diakui tidak ada kendala yang berarti dalam mempersiapkan diri menuju sekolah Adiwiyata nasional. Pelibatan murid dalam program ini terus ditingkatkan, serta memilah kegiatan yang hendak dilaksanakan. Murid-murid juga terus didorong untuk berinovasi.
”Selama pandemi ini kita terus berbenah. Sudah membuat taman baca. Jadi, setelah anak-anak masuk sekolah untuk PTM (Pembelajaran Tatap Muka), mereka akan melihat banyak perubahan di sekolahnya,” ujar Fatimah. Rencananya, PTM di SDN Beroanging mulai dilaksanakan Senin (15/11) mendatang.
Sebagai kepala sekolah, Fatimah juga terus memotivasi para guru untuk mengikuti berbagai lomba. Usaha itu telah berbuah hasil. Guru SDN Beroanging yang mengikuti lomba literasi mampu bersaing di tingkat nasional.
Selain itu, upaya mendorong guru dan murid untuk menulis juga diimplementasikan. Salah satunya membuat buku hasil tulisan mereka yang saat dalam proses cetak.
Terkait proses pembelajaran daring selama pandemi covid-19 dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir, Fatimah tak memungkiri bila ada orangtua yang terbebani. Sebab mereka mesti menggantikan posisi guru untuk mengajar anak-anaknya di rumah. Pemberian materi pelajaran melalui grup WA, diakuinya belum bisa maksimal.
Belum lagi murid di sekolah yang dipimpin Fatimah, rerata kondisi orangtuanya berada pada ekonomi menengah ke bawah. Ada yang punya gawai android, dan ada pula yang tidak memilikinya. Ada juga yang hanya memiliki satu gawai, sementara anaknya ada tiga atau empat sehingga mereka harus bergantian menggunakannya.
”Bahkan ada yang hanya orangtuanya punyai android, sehingga bila mereka berangkat bekerja, anaknya tidak bisa mengerjakan tugas. Nanti setelah orangtuanya pulang baru anaknya mengerjakan tugas,” ungkap Fatimah.
Bagi murid yang sama sekali tidak mempunyai gawai, pihak sekolah berinisiatif memberikan tugas secara luring. Tugas tersebut dijemput oleh masing-masing orangtua untuk dikerjakan oleh anak-anak mereka. (*/rus)

