pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Mudahkan Belajar Matematika Lewat Otak Lalat Gatot

Baharuddin, Guru Inspiratif Kota Makassar Tahun 2021

MATA pelajaran matematika kerap dianggap momok oleh sejumlah pelajar. Termasuk oleh murid Sekolah Dasar (SD). Untuk mengatasinya, inovasi media pembelajaran pun dilakukan. Baharuddin menjadi salah satu yang menciptakannya.

BAHARUDDIN adalah guru kelas VI di SD Negeri Mangkura 5 Kota Makassar. Ia telah mengabdikan diri di sekolah ini sejak tahun 2008. Mengampu semua mata pelajaran bagi muridnya.
Bermula dari sebuah keresahan Baharuddin yang mendapati pembalajaran matematika yang diterapkan oleh sesamanya pendidik. ”Pernah saya masuk dalam satu kelas dan menemukan satu kasus. Saya bertanya kepada siswa dengan menuliskan di papan tulis tentang pengurangan bilangan positif dan negatif. Ternyata, masih ada anak-anak yang di pikirannya tertanam konsep bahwa kalau bilangan negatif dikurangkan dengan positif, hasilnya selalu disebut sebagai utang. Saya menganggap konsep seperti ini menyesatkan,” ungkap Baharuddin ketika menjadi tamu di podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Selasa (21/12).
Dari keresahan itu kemudian muncul ide bagaikana konsep yang sebenarnya untuk meluruskan pemikiran mereka dengan menggunakan media yang sangat sederhana. Tahun 2018 mulai Bahar –sapaan akrab Baharuddin– merealisasikan gagasannya itu.

Ia menggunakan sejumlah barang bekas yang sangat mudah diperoleh di sekitar kita. Seperti tutup botol dan kayu. Barang bekas itu kemudian dibuat berbentuk segi empat dengan ukuran tinggi kurang lebih 50-75 sentimeter. Setiap sisi diwarnai dan dipasangi bulatan yang diisi dengan tanda positif negatif. Jika diaplikasikan untuk penjumlahan dan pengurangan, bulatan-bulatan itu kemudian ditempeli dengan tutup botol dengan warna berbeda pula.
Oleh Bahar, inovasi media pembelajaran ini kemudian dibawanya pada ajang lomba Guru Inspiratif tingkat Kota Makassar tahun 2021. Hasilnya, Bahar yang kini menempuh pendidikan S3 Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM) keluar sebagai juara satu.
Selain best practise tersebut, ayah tiga anak ini telah melakukan banyak hal sebelum mengikuti lomba. Sejak menjadi tenaga pengajar, Bahar rajin menulis, khususnya yang terkait karya yang dipraktikkan di kelas. Termasuk media pembelajaran yang dihasilkannya. Ia juga aktif menulis buku dan artikel.
”Yang menarik adalah rencangan media pembelajaran yang diikutsertakan dalam lomba Guru Inspiratif. Ini menjadi pengalaman terbaik selama mengajar,” tuturnya.
Diakui, alat peraga matematika yang dihasilkannya, ide dasarnya dari pembelajaran sains. Dengan konsep penggunaannya yang memakai tutup botol, peserta didik yang selama ini pemikirannya abstrak, seperti hasil dari penjumlahan itu hanya ada di pikiran, dengan adanya media ini memperlihatkan visualisasi dari yang abstrak menjadi sebuah konsep konkret dan dapat dilihat oleh siswa.

BKM/NUR HAMZAH
MEDIA PEMBELAJARAN-Melalui laptop, Baharuddin memperlihatkan media pembelajaran matematika yang diberi nama Otak Lalat Gatot usai menjadi tamu di studio podcast Berita Kota Makassar, Selasa (21/12).

Bahar juga begitu paham dengan pemberian nama terhadap sebuah karya inovatif. ”Orang-orang yang biasa saya temui dan ajak berkomunikasi, termasuk orang-orang yang inovatif, menyampaikan bahwa ketika kita membuat media pembelajaran maka nama itu sangat berarti dan hendaknya menarik perhatian. Karena itu, media pembelajaran yang saya hasilkan diberi nama Otak Lalat Gatot. Itu akronim dari Kotak Bilangan Bulat Gampang dengan Tutup Botol,” terangnya.
Akronim tersebut, menurut Bahar, sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan peneliti pada salah satu universitas di Inggris. ”Berdasarkan penelitian tersebut, otak lalat itu mekanisme kerjanya hampir sama dengan manusia. Ketika ada rangsangan, maka lalat itu akan aktif. Sama dengan peserta didik. Ketika ada rangsangan melalui alat peraga yang ada, mereka akan aktif untuk belajar matematika, yang selama ini menjadi momok mereka. Saya kemudian sinkronkan nama itu ke dalam media pembelajaran yang saya buat,” jelasnya.
Untuk aplikasi di kelas, yang pertama dilakukan Bahar adalah mendemonstrasikan dan memperkenalkannya terlebih dahulu di depan peserta didik. Setelah itu mereka diberi kesempatan untuk mensimulasikan.

”Dalam simulasi media pembelajaran ini, ada kesepakatan yang harus dibangun antara guru dengan peserta didik. Karena matematika itu adalah sebuah kesepakatan oleh para pakar,” imbuhnya.
Kesepakatan itu, lanjut Bahar, sesuai ide dasar dari pembelajaran sains, di mana ada dikenal muatan proton, elektron dan neutron. Muatan proton ini apabila benda itu muatan protonnya lebih banyak, maka bilangan itu bernilai positif. Bila elektronnya lebih banyak, maka hasilnya adalah negatif. Dan apabila sama banyak, maka bernilai nol.
Ia kemudian mencontohkan 2-(-4). ”Di kelas III dan IV biasanya anak-anak bingung bagaimana cara menghitungnya. Ada bilangan positif dan ada negatif. Di situlah biasanya muncul konsep utang dari hasil penjumlahan yang dilakukan,” jelasnya.

Media pembelajaran yang dihasilkan Bahar mencoba meluruskan konsep tersebut ke peserta didik. Dua tutup botol warna putih dipasang di bulatan positif, dan empat tutup botol warna merah diposisikan di bulatan negatif. Terdapat dua tutup botol yang saling berpasangan, sehingga dinyatak nol. Masih ada tersisa dua tutup botol lainnya yang tidak memiliki pasangan di sisi negatif. ”Jadi hasilnya, 2+(-4) adalah -2. Kita tidak menyebutnya utang,” tandasnya.
Dalam mengajar di kelas, Bahar menekankan pembelajaran abad 21. Kaitannya dengan matematika, bagaimana menciptakan siswa yang aktif berkomunikasi dan berkolaborasi dengan menggunakan satu media. Pembelajaran abad 21 ini titik beratnya adalah bagaimana membangun komunikasi dan kolaborasi antarsiswa. Melakukan kerja sama. ”Dengan media pembelajaran yang saya buat, itu bisa terwujud,” ujarnya.
Sejauh mana efektivitas alat peraga ini dalam mendorong siswa untuk belajar dan memahami matematika? Bahar menyebut 97 persen. Hal itu mengacu pada penelitian yang pernah dilakukannya.
”Tahun 2018 saya berhasil membuat media pembelajaran ini. Di tahun yang sama saya mendapat kesempatan dari kementerian untuk mempresentasikannya pada tingkat nasional. Dilaksanakan di Bali. Pesertanya berasal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Untuk diikutsertakan dalam kegiatan itu, terlebih dahulu harus dilakukan penelitian. Saya meneliti dengan sampel dua kelas di sekolah, yakni kelas IV dan V. Saya tidak melakukannya di kelas VI agar hasilnya lebih obyektif,” papar Bahar.
Menyusul inovasi yang dihasilkannya secara manual saat ini, Bahar punya harapan dan keinginan agar media pembelajaran yang diciptakannya bisa hadir dalam versi Android. Untuk itu, dirinya kini sedang berupaya mempelajari aplikasi untuk mengintegrasikannya. Progressnya kini sudah mencapai 50 persen. Bahar menargetkan tahun 2022 mendatang keinginannya itu bisa terwujud. (*/rus)




×


Mudahkan Belajar Matematika Lewat Otak Lalat Gatot

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link